BACAAJA, JEPANG – Di Jepang, ada satu layanan yang terdengar tak biasa, yaitu jasa menyewa seseorang untuk menyampaikan permintaan maaf atas nama klien. Layanan ini hadir karena tidak semua orang sanggup menghadapi situasi emosional saat harus meminta maaf secara langsung.
Bagi sebagian orang, mengakui kesalahan bukan perkara mudah. Rasa malu, takut dimarahi, hingga khawatir hubungan makin memburuk sering kali membuat seseorang memilih jalan lain. Dari kondisi itulah muncul peluang bisnis yang kini cukup dikenal di Negeri Sakura.
Sejumlah perusahaan di Jepang menawarkan layanan profesional yang khusus menangani permintaan maaf. Mereka bertindak sebagai perwakilan klien untuk menemui orang yang bersangkutan, menjelaskan situasi, lalu menyampaikan permohonan maaf dengan cara yang dianggap sopan dan meyakinkan.
Salah satu perusahaan yang menyediakan layanan tersebut adalah Shazaiya Aiga Pro. Agensi ini menawarkan dua pilihan layanan, yakni permintaan maaf secara langsung maupun lewat telepon atau email.
Untuk permintaan maaf tatap muka, tarif yang dipatok mencapai 25.000 yen atau sekitar Rp2,7 juta. Sementara jika cukup melalui email atau sambungan telepon, biayanya sekitar 10.000 yen atau setara Rp1,1 juta.
Ada pula perusahaan Nihon Shazai Daikokao yang menggunakan sistem tarif per jam. Biayanya sekitar 3.500 yen atau kurang lebih Rp390 ribu setiap jam layanan.
Yang paling menarik perhatian datang dari YokohamaBenriya Natchan. Agensi ini menawarkan konsep berbeda, yakni permintaan maaf yang disampaikan sambil menangis di hadapan orang yang sedang kecewa atau marah kepada klien.
Tangisan itu bukan sekadar akting tanpa tujuan. Layanan tersebut dirancang agar suasana menjadi lebih emosional sehingga permintaan maaf terasa lebih tulus dan peluang mendapat pengampunan dinilai lebih besar.
Tak semua perusahaan yang bergerak di bidang ini membuka informasi tarif mereka kepada publik. Meski begitu, keberadaan layanan semacam ini menunjukkan bahwa permintaan maaf di Jepang bahkan bisa berkembang menjadi industri tersendiri.
Mayoritas pengguna layanan ternyata berasal dari kalangan perempuan. Sekitar 40 persen klien berusia antara 20 hingga 40 tahun yang menghadapi berbagai persoalan pribadi maupun pekerjaan.
Kasus yang paling sering ditangani berkaitan dengan masalah keuangan, konflik dengan pasangan, pertengkaran keluarga, hingga perselisihan dengan teman dekat.
Fenomena ini juga mencerminkan budaya Jepang yang sangat menjunjung sopan santun dan tanggung jawab sosial. Dalam situasi tertentu, permintaan maaf dianggap sebagai proses yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Tak hanya urusan meminta maaf, Jepang juga memiliki layanan lain yang sama uniknya, yaitu jasa mengurus pengunduran diri dari tempat kerja.
Layanan tersebut dikenal dengan nama taishoku daikou. Perusahaan penyedia jasa akan menjadi perantara antara karyawan dan perusahaan tempat mereka bekerja.
Petugas akan menyampaikan keputusan resign kepada perusahaan sehingga klien tidak perlu menghadapi percakapan yang sering kali terasa canggung atau menegangkan.
Selain menyampaikan pengunduran diri, penyedia jasa juga membantu proses administrasi, komunikasi lanjutan, hingga pengembalian barang milik perusahaan.
Layanan resign ini cukup diminati, terutama oleh pekerja yang mengalami tekanan mental, hubungan kerja yang kurang sehat, atau merasa kesulitan mengutarakan niat berhenti kepada atasan.
Biaya yang dikenakan untuk jasa pengunduran diri umumnya sekitar 22.000 yen atau setara Rp2,4 juta.
Meski terdengar tidak lazim di banyak negara, layanan-layanan seperti ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jepang menciptakan solusi untuk persoalan sosial yang dianggap rumit oleh sebagian orang.
Di balik keunikannya, bisnis tersebut sekaligus menggambarkan bahwa rasa sungkan, tekanan emosional, hingga etika dalam berkomunikasi bisa menjadi kebutuhan yang bahkan memiliki nilai ekonomi cukup besar. (*)

