BACAAJA, INDRAMAYU – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram mulai dikeluhkan warga Kabupaten Indramayu dalam sepekan terakhir. Selain makin susah didapat, harga gas subsidi itu di tingkat pengecer juga ikut merangkak naik hingga menyentuh Rp30 ribu per tabung.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Indramayu memastikan akan turun langsung ke lapangan untuk mencari tahu penyebab pasti kelangkaan yang terjadi.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Perdagangan Diskopdagin Indramayu, Rifan Waluyo, mengatakan pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab utama karena masih menunggu hasil pemantauan.
Monitoring dijadwalkan dilakukan bersama Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas). Dari pengecekan itu, pemerintah ingin memastikan apakah persoalan muncul akibat distribusi, pasokan, atau faktor lainnya.
Menurut Rifan, ada dugaan tingginya konsumsi elpiji di kalangan petani ikut memengaruhi kondisi di lapangan. Musim kemarau membuat banyak petani harus memompa air untuk mengairi sawah.
Kini, sebagian petani disebut lebih memilih menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar mesin pompa air karena dinilai lebih hemat dibandingkan bensin.
Fenomena itu diduga membuat kebutuhan elpiji melonjak dalam waktu singkat. Apalagi, kekeringan yang terjadi membuat aktivitas penyedotan air meningkat hampir di banyak wilayah pertanian.
Rifan mengaku informasi tersebut juga diperoleh dari pengelola pangkalan elpiji yang menyebut kondisi kelangkaan sudah berlangsung sekitar tujuh hingga sepuluh hari terakhir.
Meski ramai diperbincangkan warga di media sosial, hingga kini Diskopdagin mengaku belum menerima laporan resmi terkait kelangkaan gas subsidi tersebut.
Meski begitu, pemerintah daerah tetap memilih bergerak cepat. Hasil monitoring nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Pemeriksaan akan menyasar jalur distribusi mulai dari agen hingga pangkalan. Pemerintah ingin memastikan apakah penyaluran berjalan sesuai jadwal atau justru ada hambatan di lapangan.
Koordinator Daerah Hiswana Migas Kabupaten Indramayu, Asep Syaefudin, mengatakan pihaknya juga akan ikut mengecek kondisi riil di lapangan.
Menurutnya, pengecekan diperlukan untuk mengetahui apakah ada keterlambatan distribusi, kendala teknis, atau faktor lain yang menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan gas.
Di sisi lain, Hiswana Migas memastikan pasokan elpiji 3 kilogram untuk Kabupaten Indramayu sejauh ini masih dalam kondisi normal. Tidak ada laporan gangguan dari agen terkait pengiriman maupun pengurangan alokasi.
Distribusi dari agen ke pangkalan juga disebut tetap berjalan sesuai jadwal. Karena itu, hasil monitoring diharapkan bisa mengungkap penyebab sebenarnya sekaligus menjadi dasar mencari solusi agar gas melon kembali mudah didapat warga dengan harga yang wajar. (*)

