BACAAJA, SEMARANG – Kasus jual beli lahan BUMD Cilacap makin menarik diikuti. Terungkap ada dua orang berbaju loreng yang ikut rapat pengadaan tanah di lingkungan Pemkab Cilacap.
Fakta itu disampaikan mantan Direktur Kawasan Industri Cilacap (KIC), Ratinudin Yusup dalam sidang pencucian uang hasil korupsi, Senin (8/6/2026), dengan terdakwa Gus Yazid dan Andhi Nur Huda.
Saat rapat bersama Sekda Cilacap, ada dua orang berseragam TNI yang ikut hadir. Mereka adalah Wisnu Kurniawan dan Sjaiful Nursaid.
Bacaaja: Jenderal TNI Eks-Ajudan Jokowi Ditahan, Skandal Mega Korupsi BUMD Cilacap
Bacaaja: TPPU Korupsi BUMD Cilacap: Eksepsi Kandas, Gus Yazid Bersiap Hadapi Saksi dan Bukti Jaksa
Belakangan, Ratin mengetahui Wisnu saat itu merupakan Asisten Perencanaan (Asren) Kodam IV/Diponegoro, dan Sjaiful adalah Kepala Hukum Kodam (Kakumdam) IV/Diponegoro
Ratin mengatakan keduanya memang hadir dalam pembahasan lahan tersebut. Namun ia tidak pernah mendengar ada pernyataan bahwa tanah itu milik Kodam.
“Pak Wisnu hanya menyampaikan lahan itu milik PT Rumpun Sari Antan, tidak disebutkan milik Kodam,” kata Ratin.
Waktu itu, tanah yang dibahas akhirnya dibeli oleh PT Cilacap Segara Artha (CSA), anak usaha BUMD Kabupaten Cilacap.
“Iya akhirnya dibeli, sudah dibeli,” ujar Ratin.
Ia menjelaskan dana pembelian lahan berasal dari pembayaran tanah Pertamina ke KIC. Nilainya mencapai sekitar Rp580 miliar.
Dari dana itu, sekitar Rp370 miliar disiapkan untuk membeli lahan pengganti. Kebijakan tersebut disebut sudah dirancang sejak masa Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji.
Menurut Ratin, arahan TAPD saat itu agar uang hasil pembayaran tanah Pertamina dipakai kembali untuk pengadaan lahan baru. Salah satu pilihannya adalah tanah Carui yang dinilai punya nilai strategis.
Nama Wisnu dan Sjaiful kini jadi sorotan karena keduanya ikut terseret dalam perkara tersebut.
Keduanya disebut telah ditahan penyidik bersama mantan Pangdam IV/Diponegoro, Letjen TNI Widi Prasetijono. (bae)

