Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Fenomena Drama China: Fantasi Utopis dalam Negara yang Distopik
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Fenomena Drama China: Fantasi Utopis dalam Negara yang Distopik

Redaktur Opini
Last updated: Januari 15, 2026 1:49 pm
By Redaktur Opini
8 Min Read
Share
SHARE

Titis Widjayanti, mantan jurnalis dan content writer. Saat ini menggeluti bidang seni pertunjukan melalui grup MERAMU. Tinggal di Semarang.

Dalam kondisi seperti ini, drama cina kembali menjadi pelipur lara, setidaknya untukku.

 

Entah sejak kapan, aku gemar sekali menonton Drama China(Dracin)–khususnya yang menceritakan tentang kisah-kisah mitologi dan keluarga kerajaan pada era dinasti tertentu. Kalau tidak salah ingat, mungkin kegemaran itu sering muncul sekitar 4-5 tahun lalu. Jauh sebelum keberadaan Drama China popular, hampir menyaingi Drama Korea (Drakor) saat ini. Menjadi bagian dari hari-hariku, mencintainya, lalu menjelma menjadi kebutuhan yang membuat candu.

Dracin yang seringkali aku tonton kala itu adalah “The Legend of Yunxi,”The Blooms at Ruyi Pavilion”, dan “General Lady.” Ketiganya memiliki penceritaan yang berbeda dengan episode panjang yang bisa menghabiskan kuota internet. Tapi entah mengapa, aku masih saja menontonnya berulangkali. Bahkan sengaja kuputar lagi dan lagi saat bosan dengan pertanyaan ibu, “kapan dapat kerja?”

Kuputar berulang ketika sudah capek berkonsetrasi mengatur strategi untuk memenangkan turret lawan di Land of Dawn Mobile Legends. Juga ketika malas berbicara dengan kawan setim di gim PUBG Mobile. Kuputar tiga dracin tersebut, ketika lelah membaca slide-slide iklan lowongan pekerjaan. Menulis lamaran, lantas menghabiskan waktu untuk mengirim CV satu per satu. Lelah membuka dan menutup email yang kukirim ke setiap alamat loker yang dianggurkan begitu saja oleh penerima. Tanpa satu pun balasan kepastian.

Di saat itulah, dracin hadir sebagai hiburan paling ringan, sekaligus menyenangkan. Ia menjelma menjadi kekasih yang hadir menemani hari-hariku. Melewati masa bosan hingga terlelap tidur. Memberikan ruang pelarian tatkala kegagalan demi kegagalan setia pada nasib perempuan yang kala itu sudah hampir menginjak umur 30 tahun. Sementara hari tetap berjalan, memberikan peringatan bahwa usia sebentar lagi tidak lagi mampu memenuhi setiap persyaratan lowongan pekerjaan.

Aku ingat betul sensasi yang timbul ketika tontonan itu diputar. Meski tentu saja aku sudah tahu alur ceritanya. Ada semacam perasaan puas ketika peran utama, umumnya adalah tokoh protagonis, tidak beruntung dan terzalimi, kemudian mendapatkan kesempatan untuk membalaskan dendamnya kepada tokoh antagonis. Perasaan senang saat tokoh utama mendapatkan keberuntungan atas kehidupan malang yang dilaluinya. Dicintai pangeran atau jenderal, hingga kemudian hidup damai dengan keluarga kecil mereka.

Kuputar berulang, sampai tidak sadar bahwa rambut panjangku mulai menggumpal di sana-sini. Menggimbal di beberapa bagian. Menarik kuat-kuat kulit kepala, seperti sedang dijambak istri sah yang memergoki suaminya berbaring di ranjangku. Kuputar berulang sampai tak peduli dengan koreng yang mulai bermunculan di kaki dan lengan tanganku. Meski gatalnya teramat sangat menyiksa ketika malam tiba.

Kuputar berulang sampai lupa rutinitas membuka email. Sampai lupa sudah berapa puluh atau mungkin ratusan surat lamaran aku kirimkan. Lupa bersusah payah mencari peluang untuk memperbaiki kemiskinan struktural ini terpecahkan. Dan mulai enggan berharap adanya jalan keluar dari setiap kebuntuan. Aku menikmatinya dalam gelap kamar yang pengap akan abu dan asap rokok, debu, serta sampah di sana-sini. Bermimpi, suatu saat nanti mati dalam ruangan 3×3 diam-diam, dalam kondisi yang tidak marah ataupun kesal.

Masa-masa itu, tidak terlalu enak untuk diingat. Agak basi, klise dan memuakkan, tapi cukup kuat dijadikan alasan tulisan ini hadir. Terlebih ketika Dracin justru kian populer menjadi tontonan murah meriah saat ini. Bagaimana tidak? Iklan-iklan bertebaran di semua media sosial yang hampir tiap hari kita konsumsi.

Cerita-ceritanya pun mulai beragam. Dari drama kerajaan, hingga mengangkat kisah di era modern. Durasinya dikemas lebih singkat. Namun, tetap menawarkan alur dramatik yang sama: kemalangan yang diselamatkan oleh keberuntungan, kenahasan yang ditumbangkan oleh kemenangan.

Teknik “Deus Ex Machina” betul-betul diterapkan dengan baik pada setiap cerita. Menghubungkannya dengan keyakinan akan pembalasan dendam saat tokoh utama reinkarnasi dan mengulangi kehidupan masa lalunya. Plot-plot yang penuh dengan kemustahilan. Seperti logika mistika yang hadir melalui kekuatan-kekuatan sakti para pendukung peran utama atas anugerah dewa.

Lalu kisah anak CEO yang tertukar, hilang, bahkan menyamar menjadi karyawan biasa. Hingga kemunculan teknologi modern yang menyelamatkan peran utama dari kemalangan di dalam cerita kerajaan. Dan semua berakhir sesuai keinginan penonton.

Peran utama akan selalu menang di ujung drama. Ia mampu mengungkap kecurangan demi kecurangan yang terjadi, mengubah sistem negara yang tidak adil. Menghukum setiap pemimpin yang lalim, membongkar korupsi besar-besaran, dan mengalahkan intrik kekuasaan yang dipenuhi dengan kezaliman.

Si tokoh utama umumnya akan berubah menjadi orang kaya, hidup damai, menjadi pahlwan, dan disukai banyak orang. Sempurna. Seolah cita-cita mayoritas orang di dunia telah terwakilkan hanya dalam serial drama berdurasi 1 sampai 2,5 jam tersebut.

Seiring dengan fenomena itu, mulai merebak pula celotehan-celotehan orang-orang yang mulai membuat bercandaan tentang dracin, entah itu hanya iseng atau benar-benar sudah putus asa terhadap kenyataan. Kenyataannya justru seringkali sebaliknya. Hidup justru semakin sulit. Sembilan belas juta lapangan pekerjaan tidak kunjung terealisasikan, harga pangan kian membumbung tinggi, sementara perut tidak pernah bisa bernegosiasi.

Upah Minimum Regional (UMR) tidak sebanding dengan tanah dan properti yang harganya kian mencekik leher. Korupsi tumbuh subur di sana-sini. Bencana ekologi terjadi tanpa henti sebab hutan-hutan digunduli. Bukit-bukit dikeruk sumber dayanya demi memperkokoh pilar kekayaan. Mereka tidak pernah merasakan rasanya menelan promagh dan air putih selama dua hari lamanya, karena uang terakhir sudah dibayarkan rentenir tempo hari.

Sementara itu, aku-kamu-kita semua yang berada digaris kemiskinan hanya mampu tidur satu dua jam setiap malam. Terbangun gusar dan harap-harap cemas semoga tidak ada kemalangan yang menimpa. Harap-harap cemas, besok kira-kira mau makan apa? Harap-harap cemas semoga esok tidak tumbang, supaya tetap bisa masuk kerja meski sedang demam. Harap-harap cemas tidak ada lagi tempat untuk mengadu nasib, karena umur kian tua, dan bersiap-siap untuk tidak dianggap produktif dan tidak dibutuhkan lagi.

Orang-orang yang sadar, sebagian menyuarakan banyak keresahan. Di jalan-jalan, di kedai kopi, di ruang diskusi, di internet, di buku-buku. Tapi negara justru geram. Ia menganggapnya sebagai bentuk pemberontakan! Tak mau tinggal diam, kebijakan baru mulai disahkan melalui undang-undang. Dijadikan alat untuk mendakwa siapa saja yang berani bersuara. Barisan pasukan berseragam dikerahkan. Menyisir setiap tempat, gang-gang hingga mengetuk rumah penduduk, dan meringkusnya bak teroris. Menuduhnya makar! Provokator! Subvesif! Layak dihukum berat, dengan dalih berdasarkan undang-undang yang disusun serba serampangan.

Dalam kondisi seperti ini, Dracin kembali menjadi pelipur lara, setidaknya untukku. Meski ia tak lagi menelanku bulat-bulat dalam angan-angan utopis, tentang harapan memiliki kehidupan yang ideal. Walaupun pertanyaan ibu tak lagi menggema di telinga sejak akhir tahun lalu. Mungkin ia juga lelah mencari celah. Capek setiap hari dikejar penagih kredit. Lalu melepaskan segalanya, dan mengadukannya pada Tuhan secara langsung. Bahwa hidup tidak pernah berpihak kepada mereka yang berada di roda bawah.

Semoga Tuhan mendengar dengan saksama. Seperti keyakinan yang dijanjikan-Nya kepada setiap umat. Bahwa Ia akan menolong setiap makhluk yang terzalimi dan menghukum mereka yang sewenang-wenang. Ya, semoga! (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Italia Satu Kelas dengan Indonesia, Tidak Lolos Piala Dunia 2026

Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog

Prabowo dan Trump, Kedekatan Tapi Tanpa Pengaruh

Emas, Imajinasi Global, dan Realitas Nilai Tukar

Politik Iba ala Jokowi

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kabid Humas Polda Jateng Kombes Artanto bersama 2 orang lain saat mendorong mobil mogok di lintasan KA Madukoro Kota Semarang, Selasa (13/1/2026) siang sesaat sebelum KA melintas. Foto: IST Momen Kabid Humas Polda Jateng Selamatkan Mobil Mogok di Lintasan Rel KA Madukoro Semarang
Next Article Ilustrasi anak-anak korban keracunan massal mendapat perawatan medis di fasilitas pelayanan kesehatan. Korban Keracunan MBG di Majene Merata: Mulai Ibu Hamil, Balita, hingga Siswa Sekolah

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

KEINDAHAN ALAM PAPUA - Keindahan sungai biru di Papua. (Indonesia.gi.id)

Polemik ‘Pesta Babi’ Bikin Narasi ‘Papua Bukan Tanah Kosong’ Viral Lagi

TEKEN KERJA SAMA--Prosesi penandatanganan oleh Kadaop 4 Semarang dan Kadaop lain dalam rangka pengamanan aset, Selasa (12/5/2206). (ist)

Nggak Mau Lahan KAI Diserobot, Daop 4 Semarang Minta Bantuan BPN

LCC BERMASALAH - Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI di Kalbar yang berujung polemik.

Berani Protes Juri LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar, Siswi SMAN 1 Pontianak Ditawari Beasiswa ke Tiongkok

Sepuluh Pemprov Kumpul di Semarang, Bahas Sampah sampai Tembok Laut Raksasa

Orang Jawa Itu Manusia Kerja Sekaligus Manusia Doa

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Banjir yang Naik Kelas: Alarm Keras untuk Tata Ruang Kota Semarang

Maret 2, 2026
Opini

Langkah Keliru Indonesia Memasuki Perang Orang Lain

Februari 11, 2026
Opini

Satu Tahun Agustina-Iswar: Saatnya Melompat Lebih Tinggi

Februari 22, 2026
Opini

Pada Sebuah Cakram Padat Leonard Cohen

Desember 5, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Fenomena Drama China: Fantasi Utopis dalam Negara yang Distopik
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?