BACAAJA, SEMARANG – Polemik penilaian dalam final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat terus menjadi sorotan publik.
Video protes dari tim SMAN 1 Pontianak yang viral di media sosial akhirnya mendapat perhatian langsung dari anggota DPR RI sekaligus Ketua Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda.
Melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya @bang.rifqi.mrk, Rifqinizamy menyampaikan permohonan maaf terbuka terkait polemik yang terjadi dalam lomba tersebut.
Bacaaja: Seluruh Menu Dapur Marhen Diracik Kader dan Relawan, Messy: Semangat Gotong Royong
Bacaaja: Sepuluh Pemprov Kumpul di Semarang, Bahas Sampah sampai Tembok Laut Raksasa
Ia menilai keputusan juri yang menyalahkan jawaban peserta dari SMAN 1 Pontianak merupakan kesalahan fatal yang mencederai nilai intelektualitas dan konstitusionalisme.
Polemik bermula ketika tim SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Jawaban yang mereka sampaikan sebenarnya sesuai dengan bunyi konstitusi, yakni anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan Presiden. Namun anehnya, juri justru memberikan pengurangan nilai.
Sementara tim lain yang memberikan jawaban serupa malah dinyatakan benar dan memperoleh poin penuh. Cuplikan momen itu pun menyebar luas di berbagai platform media sosial dan menuai kritik publik.
“Jawabannya baik secara konstitusional maupun normatif benar, namun kemudian oleh juri dinyatakan salah,” kata Rifqinizamy dalam videonya.
Ia mengaku telah berkomunikasi langsung dengan biro persidangan MPR RI selaku penanggung jawab kegiatan dan meminta agar segera ada klarifikasi resmi serta permohonan maaf terbuka kepada publik maupun peserta yang dirugikan.
Tak hanya itu, Rifqinizamy juga meminta juri yang memberikan penilaian tersebut mengakui kesalahannya secara terbuka. Bahkan ia secara tegas meminta agar juri tersebut tidak lagi dilibatkan dalam kegiatan serupa di masa mendatang.
“Ini preseden buruk dan mencederai intelektualitas,” ujarnya.
Ditawari beasiswa
Di tengah ramainya polemik itu, perhatian publik kemudian tertuju pada sosok Josepha Alexandra, peserta yang viral karena berani memprotes keputusan juri di hadapan forum lomba.
Sebagai bentuk apresiasi, Rifqinizamy bahkan menghubungi Josepha secara langsung melalui sambungan telepon yang kemudian turut diunggah ke media sosial. Dalam percakapan tersebut, ia memperkenalkan diri sebagai alumni SMAN 1 Pontianak sekaligus anggota DPR dan MPR RI.
Percakapan keduanya berlangsung santai dan hangat. Rifqinizamy meminta Josepha tak lagi memanggilnya “bapak”, melainkan “abang”. Ia juga menyampaikan permohonan maaf secara pribadi atas polemik yang terjadi.
“Saya minta maaf ya Yosepha ya kalau ada kesalahan dalam proses lomba cerdas cermat kemarin,” katanya.
Tak berhenti di situ, Rifqinizamy juga menawarkan beasiswa kuliah gratis ke Tiongkok kepada Josepha setelah lulus SMA nanti. Menurutnya, keberanian Josepha menyuarakan kebenaran menjadi hal yang patut diapresiasi.
“Kalau Yosepha berkenan, Abang mau kasih beasiswa kuliah gratis ke Cina,” ucapnya dalam sambungan telepon tersebut.
Ia bahkan menyebut akan membantu membuka peluang pekerjaan di perusahaan multinasional setelah Josepha menyelesaikan studinya nanti.
Respons warganet pun terus mengalir di kolom komentar unggahan tersebut. Banyak yang mendukung langkah Rifqinizamy, namun tak sedikit pula yang meminta evaluasi lebih luas terhadap jalannya lomba.
Akun Instagram @septi.aprili menulis, “Pentingnya memilih dewan juri yg tidak budek.”
Sementara akun @lensimegah menyoroti peran pembawa acara dalam lomba tersebut. “Tidak hanya jurinya saja pak, MC-nya juga harus ditindak minimal klarifikasi dan permohonan maaf karena tidak sepantasnya berkata demikian yang menyinggung peserta,” tulisnya.
Komentar lain datang dari akun @andrewchristianjr yang meminta hasil lomba dievaluasi ulang.
“Anulir hasilnya pak. Kalau lihat nilai akhirnya, harusnya SMAN 1 Pontianak yang seharusnya menang,” tulisnya.
Polemik ini kini bukan hanya soal perlombaan, tetapi juga menjadi perbincangan tentang pentingnya objektivitas, profesionalitas juri, dan keberanian pelajar menyuarakan kebenaran di ruang publik. (dul)

