BACAAJA, SEMARANG- Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi ngajak Kamar Dagang dan Industri (Kadin) buat turun langsung bantu beresin masalah kemiskinan ekstrem. Ajakan ini disampaikan saat acara halalbihalal Kadin Jateng di Hotel Patra Semarang, Kamis (16/4/2026).
Menurut Luthfi, angka kemiskinan di Jateng yang masih di kisaran 9,39 persen nggak bisa ditangani setengah-setengah. Harus ada gerakan bareng, dari pemerintah sampai dunia usaha.
Baca juga: Kemiskinan Jateng Turun Jadi 9,48 Persen, Wagub Minta OPD Tak Bekerja Sektoral
“Kadin harus tampil di depan. Ini nggak cuma soal makan atau tempat tinggal. Ada kesehatan, pendidikan, semua harus digarap bareng,” ujarnya. Gaya ngomongnya juga nggak ribet. Intinya satu: kemiskinan itu harus “dikeroyok”. Nggak bisa satu sektor jalan sendiri, sementara yang lain santai.
Luthfi bahkan ngasih gambaran sederhana. Mulai dari rumah diperbaiki, kebutuhan makan dipenuhi, layanan kesehatan dijangkau, sampai anak-anak bisa sekolah. Semua harus jalan bareng, nggak boleh ada yang ketinggalan.
Perbaikan RTLH
Di sektor perumahan, Pemprov Jateng sudah memperbaiki sekitar 17 ribu rumah tidak layak huni sepanjang 2025. Sementara di bidang kesehatan, ada program “Speling” alias dokter spesialis keliling yang langsung turun ke desa.
“Banyak warga desa yang belum pernah ketemu dokter spesialis. Jadi kita datangi mereka,” jelasnya. Nggak cuma itu, Luthfi juga “nudge” Kadin buat lebih serius memanfaatkan program CSR. Harapannya, bantuan dari perusahaan bisa langsung menyasar masyarakat miskin ekstrem di seluruh daerah. “Kalau nggak kita keroyok bareng-bareng, ya bakal gitu-gitu aja,” tegasnya.
Baca juga: Apresiasi Penurunan Angka Kemiskinan di Jateng, M Saleh: Kabar Baik, tapi Jangan Kendor!
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jateng, Harry Nuryanto Soediro menyatakan siap ikut turun tangan. Ia bilang Kadin bakal terus jadi partner strategis pemerintah, termasuk dalam upaya pengentasan kemiskinan.
Masalah kemiskinan ini sebenarnya bukan hal baru, yang baru cuma cara kita menyikapinya. Kalau masih jalan sendiri-sendiri, ya hasilnya juga bakal segitu-gitu aja. Tapi kalau benar “keroyokan”, semoga yang berubah bukan cuma angka statistik… tapi nasib orang-orang di balik angka itu. (tebe)

