Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Teknologi Ngebut, SDM Kedodoran: Indonesia Rawan PHK Massal di Era AI
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tumbuh

Teknologi Ngebut, SDM Kedodoran: Indonesia Rawan PHK Massal di Era AI

R. Izra
Last updated: Desember 30, 2025 8:12 am
By R. Izra
4 Min Read
Share
Ilustrasi Akal Imitasi (AI) bisa menjadi ancaman bagi tenaga kerja.
Ilustrasi Akal Imitasi (AI) bisa menjadi ancaman bagi tenaga kerja.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Indonesia lagi-lagi ada di persimpangan jalan. Di satu sisi, digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) digenjot sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, struktur tenaga kerja nasional justru rapuh dan rawan tergilas teknologi. PHK massal pun jadi ancaman serius. Kalau sudah begini, bonus demografi bisa berbalik arah jadi bencana.

Direktur Program INDEF, Eisha Maghfiruha Rachbini, menegaskan bahwa Indonesia perlu segera mengintegrasikan UMKM dengan ekonomi digital agar bisa tembus pasar dan akses pembiayaan. Tapi masalahnya enggak sesederhana itu.

Bacaaja: Lapangan Kerja Seret, Bonus Demografi Indonesia Malah Berubah Jadi Bencana? 
Bacaaja: FAKTA UNIK: Swedia Nggak Kekurangan Minyak, tapi Kekurangan Sampah

“Struktur tenaga kerja kita masih didominasi lulusan sekolah, SMK, dan fresh graduate yang belum siap. Mereka paling rentan tergeser robotisasi dan teknologi tinggi,” kata Eisha dalam webinar, Senin (29/12/2025).

Teknologi harusnya ngebantu, bukan nyingkirin tenaga kerja produktif

Eisha menekankan, teknologi—termasuk AI—bukan musuh, asal diposisikan sebagai komplementer, bukan pengganti manusia. Masalahnya, tanpa skill yang memadai, tenaga kerja lokal cuma jadi korban otomatisasi.

Negara-negara maju sudah melangkah jauh: industri mereka pakai robot, IoT, dan sistem digital canggih. Sementara Indonesia? Masih sibuk berdebat soal kesiapan SDM.

Padahal investasi global di sektor teknologi informasi dan komunikasi (ICT) terus meroket. Dalam periode 2020–2024 saja, investasi ICT naik dua kali lipat, dari 64 dolar AS menjadi 124 dolar AS.

“AI bisa jadi kunci pertumbuhan ekonomi 2026 ke depan, tapi hanya kalau pemerintah siap dengan regulasi dan program reskilling,” ujar Eisha.

Kalau enggak? AI malah jadi ancaman serius buat ekonomi dan lapangan kerja.

Industri Indonesia macet, China lepas landas

Direktur Kolaborasi Internasional INDEF, Imaduddin Abdullah, menilai Indonesia gagal naik kelas dari industri bernilai tambah rendah ke tinggi. Alias: jalan di tempat, bahkan mundur pelan-pelan.

Ia membandingkan Indonesia dengan China. Dua dekade lalu, China masih fokus industri padat karya bernilai tambah rendah. Tapi sekarang? Produktivitas industrinya hampir tiga kali lipat Indonesia.

Resep China simpel tapi konsisten:

  • Adopsi teknologi
  • Investasi riset dan pengembangan (R&D)
  • Upgrade keterampilan SDM

“Indonesia belum serius di tiga hal ini,” tegas Imaduddin.

Bukti paling telanjang ada di industri tekstil. Dulu jaya di era 1980-an, sekarang malah terjebak perang harga dengan Bangladesh, Pakistan, bahkan negara-negara Afrika.

Masalahnya makin komplet karena investasi R&D Indonesia bahkan belum sampai 1 persen dari PDB. Bandingkan dengan negara maju yang menganggap riset sebagai napas industri.

Mayoritas tenaga kerja Indonesia juga masih lulusan pendidikan menengah ke bawah. Yang benar-benar bisa mengoperasikan teknologi tinggi? Minoritas.

Ditambah lagi, biaya industri dalam negeri lebih mahal dibanding negara tetangga. Alhasil, investasi berkualitas lebih memilih hengkang ke luar.

Produktivitas rendah = upah stagnan

Produktivitas industri Indonesia tertinggal dari hampir semua tetangga regional. Nilai tambah per pekerja rendah, efisiensi minim, inovasi mandek.

Dampaknya jelas:

  • Upah riil sulit naik
  • Daya saing makin loyo
  • Industri tumbuh tapi minim serapan kerja

Fenomena ini disebut jobless industrialisation—industri naik, tenaga kerja ditinggal.

Ironisnya, subsektor padat karya seperti tekstil dan industri kayu justru tumbuh di bawah rata-rata ekonomi nasional, bahkan ada yang minus.

Pemerintah boleh mengklaim pengangguran menurun. Tapi menurut Imaduddin, kualitas lapangan kerja justru memburuk.

Pekerja penuh waktu makin berkurang, sementara setengah menganggur makin banyak. Upah riil stagnan, masa depan buram.

“Angka boleh turun, tapi realitas di lapangan enggak seindah itu,” katanya.

Menuju bangsa industri atau bangsa pekerja murah?

Jika kondisi ini dibiarkan, Indonesia bukan lagi bersaing dengan China atau Thailand. Tapi justru turun kelas, berhadapan dengan negara-negara berupah super murah.

Teknologi sudah ngebut. Dunia sudah lari. Pertanyaannya tinggal satu: Indonesia mau ikut sprint, atau rela jadi penonton di pinggir lintasan? (*)

You Might Also Like

Revisi UU Hak Cipta Dimulai! DPR dan Musisi Siap Gaspol Lindungi Hak Kreator

1.150 Tenaga Pendidik Joging Bareng di Selo

707 Siswa dan Guru SMKN 6 Semarang Keracunan MBG, Ini Gejala yang Dirasakan

Bus Listrik Bikin Udara Semarang Lega, Asal Jangan Berhenti di Seremoni

Pengangguran RI Masih 7,35 Juta, SMK Paling Banyak

TAGGED:AIakal imitasiancaman pengangguranheadlinephk massalsdm
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi bencana banjir dan tanah longsor. 3.176 Bencana Sepanjang 2025: Indonesia Digempur Alam, Negara Masih Tertatih
Next Article Baru Dilantik, Lima Kepala Daerah Tumbang di Tahun Sama

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Macan Kumbang Batang Dirawat Tim Dokter, Dipantau 24 Jam

Pemprov Bagikan Ratusan Kursi Roda Adaptif, Buka Jalan untuk Penyandang Disabilitas

34 Hoaks Terdeteksi di Semarang, Pemkot: Jangan Sampai Kejar Viral Malah Kena Masalah

Hari Pramuka di Wonoplumbon Jadi Ajang Anak SD-SMP Belajar Kompak

Samuel Soroti Janji Sejahterakan Rakyat: Visi Presiden Jangan Berhenti di Pidato

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Seni dan Tradisi, Jalan Sunyi Membentuk Karakter Bangsa

Februari 6, 2026
Ilustrasi pasukan Israel Defense Forces (IDF) atau tentara Israel.
Info

WNI Jadi Tentara Bayaran Israel Bikin Heboh Netizen, Kemenlu: Kami Belum Mengetahui

Februari 18, 2026
LATIHAN MILITER - Sejumlah calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang akan mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Komponen Cadangan (Komcad). (DOK. Setjen Infohan Kemhan)
Info

Setelah Kemhan Nyatakan Evaluasi Latsarmil Calon Manajer KDMP, Korban Meninggal Bertambah

Juni 27, 2026
Maestro senil lukis Indonesia, Nasirun.
Info

BREAKING NEWS: Maestro Seni Lukis Nasirun Meninggal Dunia di Yogyakarta

Agustus 1, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Teknologi Ngebut, SDM Kedodoran: Indonesia Rawan PHK Massal di Era AI
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?