BACAAJA, SEMARANG- Balai Kota Semarang mendadak jadi tempat “kopdar” serius antara Wali Kota Agustina Wilujeng dan perwakilan buruh dari Aliansi Buruh Jawa Tengah (ABJAT), Senin (24/11).
Sekitar 60 buruh dari berbagai federasi tumplek blek di halaman balai kota setelah long march dari kawasan Johar, bawa satu pesan utama: UMR 2026, jangan cuma naik… tapi naiknya kerasa!
Di ruang pertemuan, Agustina langsung ngegas soal komitmennya. Ia bilang Pemkot Semarang nggak bakal cuma jadi penonton dalam drama penetapan Upah Minimum Regional (UMR) dan Upah Minimum Sektoral Kota (UMSK) 2026, meski panggung finalnya sekarang ada di pemerintah pusat.
“Kita perjuangkan bareng-bareng. Kalau cuma lewat pemerintah kota saja kurang greget. Semua lini harus ikut gerak,” tegasnya. Soal nominal? Agustina mengingatkan kalau angka upah itu bukan kayak bikin konten TikTok, yang bisa langsung jadi dalam satu take. Tetap harus nunggu ketok palu dari pusat dan Dewan Pengupahan.
“Kalau kita nebak angka sendiri, eh ternyata lebih kecil dari keputusan nasional, ya malah jadi lucu,” ujarnya sambil setengah bercanda. Selain urusan angka, Wali Kota juga wanti-wanti soal pentingnya transparency game dalam dunia usaha.
Cepat Selesai
Investor, kata dia, butuh kepastian jauh-jauh hari, bukan kejutan last minute yang bikin ngatur ulang anggaran kayak lomba susun puzzle. “Jangan sampai pengusaha ribet karena keputusan terlalu mepet. Makanya pembahasan ini sebaiknya cepat kelar,” tambahnya.
Dari kubu buruh, Koordinator Aksi Sumartono mengapresiasi sambutan Wali Kota yang menurutnya “cukup nendang” untuk menjaga semangat perjuangan mereka. ABJAT sendiri datang membawa empat tuntutan, yakni pelaksanaan Putusan MK No. 168/PUU-XXI/2023, menolak RPP Pengupahan, menaikkan UMK Semarang 19 persen dan menaikkan UMSK minimal 7 persen.
Kalau urusan UMR ini ibarat relationship, buruh maunya “jelas dan serius”, pemerintah pusat maunya “dipertimbangkan dulu”, pengusaha butuh “kepastian sebelum minggu depan”, sementara pemda cuma bisa bilang, “kita usahakan yang terbaik…”, ya mirip-mirip chat balasan jam 1 pagi. (tebe)

