Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: “Ndes” Mulai Jarang Kedengeran, Dialek Semarangan Pelan-pelan Hilang dari Tongkrongan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

“Ndes” Mulai Jarang Kedengeran, Dialek Semarangan Pelan-pelan Hilang dari Tongkrongan

R. Izra
Last updated: Mei 14, 2026 9:01 am
By R. Izra
3 Min Read
Share
LAYANI PELANGGAN - Pegiat sosial-budaya sekaligus pemilik Angkringan West, Udin Larahan sedang melayani pelanggan warungnya. (dul)
LAYANI PELANGGAN - Pegiat sosial-budaya sekaligus pemilik Angkringan West, Udin Larahan sedang melayani pelanggan warungnya. (dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Anak muda Semarang sekarang makin akrab sama bahasa viral TikTok, istilah Twitter, sampai slang media sosial. Tapi di balik itu, ada satu hal yang mulai jarang terdengar di tongkrongan: dialek khas Semarangan.

Kalimat-kalimat ceplas-ceplos khas Kota Lumpia seperti “ndes”, “ki ndes”, sampai “matamu ik” yang dulu hampir selalu muncul di tongkrongan, sekarang mulai kalah sama bahasa gaul, bahasa slang di media sosial, yang dianggap lebih relate sama generasi sekarang.

Fenomena ini diungkapkan Udin Larahan, pemilik Angkringan West Semarang. Menurutnya, perubahan cara anak muda nongkrong ikut memengaruhi cara mereka berbicara sehari-hari.

Bacaaja: Dialek Semarang yang Kian Tenggelam di Kota Sendiri
Bacaaja: Seni Kampung di Semarang: Ada, Tapi Kerap “Nyala” lalu “Redup”

“Sekarang anak muda lebih sering ikut bahasa yang viral di media sosial, jadi logat daerah mulai jarang terdengar,” ujar Udin saat ditemui di Angkringan West, Rabu (13/5/2026).

Kalau dulu, nongkrong bisa sampai berjam-jam cuma buat ngobrol ngalor-ngidul, sekarang suasananya mulai beda. Tongkrongan yang dulu jadi tempat lahirnya candaan dan istilah khas Semarang, perlahan mulai tergeser sama dunia digital.

“Kalau dulu hiburannya ya nongkrong. Dari nongkrong itu muncul candaan, bahasa khas, sampai gaya ngomong yang akhirnya kebawa terus,” katanya.

Udin bilang, generasi sekarang lebih cepat nyerap bahasa yang lagi viral di internet dibanding mempertahankan logat daerah sendiri. Akibatnya, gaya ngomong khas Semarang makin jarang dipakai, terutama di kalangan remaja.

Padahal menurutnya, bahasa Semarangan itu bukan sekadar logat medok biasa. Ada suasana akrab, spontan, dan ceplas-ceplos yang jadi identitas orang Semarang saat ngobrol sama teman.

“Bahasa Semarang itu bukan cuma logat, tapi bagian dari suasana tongkrongan dan cara orang Semarang bergaul sehari-hari,” jelasnya.

Yang menarik, beberapa kata yang sering dianggap kasar sama orang luar justru jadi bentuk keakraban buat warga Semarang sendiri. Kalimat seperti “matamu” atau “ndes” sering dipakai buat bercanda antar teman dan malah bikin obrolan terasa lebih cair.

Belum benar-benar punah

PEGIAT SOSIAL BUDAYA - Konten kreator sekaligus pegiat sosial-budaya, Udin Larahan, pemilik Angkringan West. (dul)
PEGIAT SOSIAL BUDAYA – Konten kreator sekaligus pegiat sosial-budaya, Udin Larahan, pemilik Angkringan West. (dul)

Meski mulai jarang terdengar, Udin merasa bahasa Semarangan sebenarnya belum benar-benar hilang. Di beberapa warung kopi, angkringan, sampai tongkrongan malam, logat khas itu masih sesekali muncul.

Sebagai orang yang tiap hari ketemu banyak anak muda di angkringannya, ia merasa tongkrongan masih jadi salah satu tempat penting buat menjaga bahasa daerah tetap hidup.

“Kalau bahasa Semarang hilang, suasana khas nongkrong dan candaan orang Semarang juga ikut berubah,” ujarnya.

Di tengah derasnya pengaruh media sosial dan tren bahasa gaul internet, Udin berharap anak muda Semarang tetap pede pakai logat daerah sendiri. Karena buatnya, bahasa bukan cuma soal komunikasi, tapi juga identitas khas Kota Semarang yang sayang kalau sampai hilang pelan-pelan. (dul)

You Might Also Like

Bukan Antek Asing atau HAARP, Dosen UGM Ungkap Fakta Kenapa 6 Gunung Erupsi Hampir Bersamaan

Akademisi SCU: Subsidi BBM Lebih Tepat untuk Transportasi Umum

Siap-siap! BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Panjang, Jateng Terancam Krisis Air

Gedung SI Semarang Mau “Hidup Lagi”, Direvitalisasi 2026

Perbaikan Ruas Cepu-Randublatung: Pemprov Gelontorkan Rp34 Miliar

TAGGED:bahasabahasa gaulbahasa slangdialek semaranganheadlinendesudin larahan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article MUSEUM - Museum Ranggawarsita, Kota Semarang. (ist) Nasib Pilu Pengunjung Museum Ranggawarsita Semarang, Bocah SD Tewas Tertimpa Patung
Next Article IBADAH DI TANAH SUCI - Ilustrasi jemaah sedang menjalankan ibadah haji atau umrah di Masjidil Haram. Total 24 Jemaah Haji Indonesia Meninggal di Tanah Suci, Terbaru Calhaj dari Medan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Batik Tak Harus Kuno, Asal Tekniknya Tetap Batik

Jateng Punya Target 1.000 Desa Wisata Baru

Dispora Dorong Cabor Mandiri, Tak Semua Kejuaraan Bisa Dibiayai APBD

PSIS Siap Tempur di Bantul

Sate Kambing Nangkring di Posisi 4 Dunia

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Plesir

Harimaunya Kok Tinggal Empat? Pemkot Semarang Buka Suara

Desember 18, 2025
Ekonomi

Mau Liburan? Tol Semarang-Solo Bilang: Gas Aja, Kami Siap!

Desember 14, 2025
Setyo Novanto melambaikan tangan kepada awak media usai mendapatkan bebas bersyarat, Sabtu (16/8/2025) malam.
Hukum

Setnov Bebas Bersyarat: Udara Segar Buat Koruptor

Agustus 18, 2025
Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim.
Hukum

Pidana Uang Pengganti Rp809 Miliar Mustahil Dibayarkan, Hukuman Nadiem Jadi 15 Tahun Penjara

Juli 1, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: “Ndes” Mulai Jarang Kedengeran, Dialek Semarangan Pelan-pelan Hilang dari Tongkrongan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?