Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Seni Kampung di Semarang: Ada, Tapi Kerap “Nyala” lalu “Redup”
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Seni Kampung di Semarang: Ada, Tapi Kerap “Nyala” lalu “Redup”

Kalau dibilang nggak ada aktivitas seni di kampung-kampung Semarang, jelas salah. Justru gerakannya ada terus. Tapi masalahnya, belum “rame bareng”. Masih sporadis, muncul di satu titik, lalu hilang, pindah bentuk, dan begitu lagi.

T. Budianto
Last updated: April 23, 2026 4:40 pm
By T. Budianto
3 Min Read
Share
WAYANG KULIT: Pertunjukan seni wayang kulit di Sasiun RRI Semarang, beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Aktivitas seni dan budaya di kampung-kampung Kota Semarang sebenarnya terus bergerak. Komunitas baru masih bermunculan. Tapi pertumbuhannya dinilai belum masif dan belum merata.

Cipta Purna dari komunitas Hysteria menyebut, geliat di level akar rumput itu nyata. Hampir selalu ada inisiatif baru dari warga maupun pegiat seni. Menurut dia, kemunculan komunitas atau kolektif ini bisa dilihat dari berbagai kegiatan. Mulai dari event mural, pertunjukan kecil, sampai aktivitas komunitas di ruang-ruang kampung.

“Selalu ada komunitas baru, entah diinisiasi orang lama atau orang baru,” kata Cipta saat dihubungi, Rabu (22/4/2026). Meski begitu, banyak dari mereka tidak bertahan lama. Ada yang aktif sebentar, lalu vakum, kemudian muncul lagi dalam bentuk berbeda.

Fenomena ini membuat perkembangan skena seni di kampung sulit dipetakan. Bahkan sering kali orangnya sama, hanya wadahnya yang berubah. Cipta bilang, persoalan lain ada di pendataan. Hingga kini belum ada dokumentasi yang konsisten soal aktivitas seni di tingkat kampung.

Baca juga: Semarang Punya Seniman, Tapi Ekosistemnya Masih “Nyari Bentuk”

Padahal, menurut dia, arsip itu penting untuk melihat perkembangan. Tanpa data, geliat yang ada jadi sulit dibaca secara utuh. Hysteria sendiri sempat mencoba mengarsipkan kegiatan. Salah satunya lewat dokumentasi pamflet event yang dikumpulkan dari berbagai komunitas. Namun upaya itu belum berjalan konsisten.

Selain itu, perubahan cara berbagi informasi juga jadi tantangan. Banyak kegiatan diumumkan lewat media sosial yang tidak mudah dilacak. Akibatnya, tidak semua aktivitas bisa terpantau. Bahkan antar komunitas pun kadang tidak saling tahu.

Tumbuh Pelan

Cipta menilai, kondisi ini membuat pertumbuhan seni budaya di kampung berjalan lambat. Geliatnya ada, tapi belum menyebar luas. Hal itu juga terlihat dari intensitas kegiatan yang belum rutin. Event seni masih tergolong jarang jika dibandingkan potensi yang ada.

Untuk seni tradisi, situasinya juga tidak jauh berbeda. Jumlah kelompok yang aktif masih terbatas. Sebagian besar berbentuk sanggar atau kelompok warga. Belum banyak yang berkembang menjadi kolektif yang kuat.

Padahal, Semarang punya beragam kekayaan budaya. Mulai dari gambang Semarang, tari Semarangan, hingga wayang. Namun, jumlah dan persebarannya belum sebanding dengan wilayah lain di Jawa Tengah. Masih jauh dari kata masif.

Baca juga: Enam Warisan Budaya Semarang Diakui Nasional

Cipta menilai, ini jadi tantangan bersama. Apalagi seni tradisi berkaitan langsung dengan identitas lokal. Ia berharap ke depan ada penguatan dari berbagai sisi. Mulai dari pendataan, ruang berkegiatan, hingga jejaring antar komunitas. Dengan begitu, aktivitas seni di kampung tidak hanya muncul sesaat. Tapi bisa tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.

Seni di kampung Semarang itu ibarat sinyal WiFi: ada, tapi kadang hilang tanpa kabar. Padahal potensinya kuat, tinggal butuh “router” yang bisa nyambungin semuanya biar nggak jalan sendiri-sendiri. (tebe)

You Might Also Like

DPRD Kota Semarang Minta Lubang Jalan Segera Diperbaiki

Nggak Cuma Cantik, Tapi Juga Nggak Nyampah: Batik Rejomulyo Naik Level

PDAM Semarang Siapkan 17 Armada, Siaga Full Pas Lebaran

Gubernur: Stok Elpiji Jateng Lagi “Overload”

ASN Semarang Diminta Nggak Cuma Sibuk, Tapi Berdampak

TAGGED:budayahari jadi semarangpemkot semarangseni semarangtradisi semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Semarang Punya Seniman, Tapi Ekosistemnya Masih “Nyari Bentuk”

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Seni Kampung di Semarang: Ada, Tapi Kerap “Nyala” lalu “Redup”

Semarang Punya Seniman, Tapi Ekosistemnya Masih “Nyari Bentuk”

Soal MBG, Zulhas: Kalau Basi, Komplain Langsung ke SPPG, Nggak Usah Drama di Medsos

Stand Indonesia Diserbu di Yordania: dari Wayang sampai Es Cendol, Semua Laris Manis!

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar berbicara di depan media, Selasa (21/4/2026). (bae)

Pemkot Semarang Dorong Seni-Budaya Hidup Sampai Tingkat Kampung

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Unik

Naik Jabatan Pakai Nilai, Bukan Titipan: Wali Kota Lantik 12 Pejabat Baru

Februari 8, 2026
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. (Ist)
Unik

Pemkot Semarang Percepat Transisi TPA Jatibarang

Juni 25, 2025
Daerah

Agustina Janji Tambaksari Bakal Punya Jembatan

Januari 30, 2026
Hukum

Rokok dan Minol Ilegal Senilai Rp11 Miliar Dimusnahkan

April 15, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Seni Kampung di Semarang: Ada, Tapi Kerap “Nyala” lalu “Redup”
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?