BACAAJA, SEMARANG- Aktivitas seni dan budaya di kampung-kampung Kota Semarang sebenarnya terus bergerak. Komunitas baru masih bermunculan. Tapi pertumbuhannya dinilai belum masif dan belum merata.
Cipta Purna dari komunitas Hysteria menyebut, geliat di level akar rumput itu nyata. Hampir selalu ada inisiatif baru dari warga maupun pegiat seni. Menurut dia, kemunculan komunitas atau kolektif ini bisa dilihat dari berbagai kegiatan. Mulai dari event mural, pertunjukan kecil, sampai aktivitas komunitas di ruang-ruang kampung.
“Selalu ada komunitas baru, entah diinisiasi orang lama atau orang baru,” kata Cipta saat dihubungi, Rabu (22/4/2026). Meski begitu, banyak dari mereka tidak bertahan lama. Ada yang aktif sebentar, lalu vakum, kemudian muncul lagi dalam bentuk berbeda.
Fenomena ini membuat perkembangan skena seni di kampung sulit dipetakan. Bahkan sering kali orangnya sama, hanya wadahnya yang berubah. Cipta bilang, persoalan lain ada di pendataan. Hingga kini belum ada dokumentasi yang konsisten soal aktivitas seni di tingkat kampung.
Baca juga: Semarang Punya Seniman, Tapi Ekosistemnya Masih “Nyari Bentuk”
Padahal, menurut dia, arsip itu penting untuk melihat perkembangan. Tanpa data, geliat yang ada jadi sulit dibaca secara utuh. Hysteria sendiri sempat mencoba mengarsipkan kegiatan. Salah satunya lewat dokumentasi pamflet event yang dikumpulkan dari berbagai komunitas. Namun upaya itu belum berjalan konsisten.
Selain itu, perubahan cara berbagi informasi juga jadi tantangan. Banyak kegiatan diumumkan lewat media sosial yang tidak mudah dilacak. Akibatnya, tidak semua aktivitas bisa terpantau. Bahkan antar komunitas pun kadang tidak saling tahu.
Tumbuh Pelan
Cipta menilai, kondisi ini membuat pertumbuhan seni budaya di kampung berjalan lambat. Geliatnya ada, tapi belum menyebar luas. Hal itu juga terlihat dari intensitas kegiatan yang belum rutin. Event seni masih tergolong jarang jika dibandingkan potensi yang ada.
Untuk seni tradisi, situasinya juga tidak jauh berbeda. Jumlah kelompok yang aktif masih terbatas. Sebagian besar berbentuk sanggar atau kelompok warga. Belum banyak yang berkembang menjadi kolektif yang kuat.
Padahal, Semarang punya beragam kekayaan budaya. Mulai dari gambang Semarang, tari Semarangan, hingga wayang. Namun, jumlah dan persebarannya belum sebanding dengan wilayah lain di Jawa Tengah. Masih jauh dari kata masif.
Baca juga: Enam Warisan Budaya Semarang Diakui Nasional
Cipta menilai, ini jadi tantangan bersama. Apalagi seni tradisi berkaitan langsung dengan identitas lokal. Ia berharap ke depan ada penguatan dari berbagai sisi. Mulai dari pendataan, ruang berkegiatan, hingga jejaring antar komunitas. Dengan begitu, aktivitas seni di kampung tidak hanya muncul sesaat. Tapi bisa tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.
Seni di kampung Semarang itu ibarat sinyal WiFi: ada, tapi kadang hilang tanpa kabar. Padahal potensinya kuat, tinggal butuh “router” yang bisa nyambungin semuanya biar nggak jalan sendiri-sendiri. (tebe)

