Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Semarang Punya Seniman, Tapi Ekosistemnya Masih “Nyari Bentuk”
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Semarang Punya Seniman, Tapi Ekosistemnya Masih “Nyari Bentuk”

Ngomongin seni di Semarang tuh rasanya kayak lagu lama: hidup, tapi nggak pernah benar-benar meledak. Ada gerakan, ada komunitas, ada karya, tapi kalau dibandingin sama kota lain, masih terasa “setengah gas”. Pertanyaannya: kurang bensin atau kurang mesin?

T. Budianto
Last updated: April 23, 2026 4:32 pm
By T. Budianto
3 Min Read
Share
PAMERAN SENI: Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena menghadiri pameran seni visual Penta K Labs karya anak muda Kota Semarang yang digelar oleh Komunitas Hysteria di Gedung Monod Diephuis, Kota Lama Semarang, beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Geliat seni dan budaya di Kota Semarang memang nggak pernah benar-benar mati. Aktivitasnya selalu ada dan terus tumbuh. Tapi kalau dibandingkan kota lain, posisinya masih tertinggal.

Cipta Purna dari komunitas Hysteria bilang, kondisi ini cukup terasa. Apalagi jika melihat kota-kota sekitar yang justru lebih kuat secara ekosistem. Menurut dia, untuk seni tradisi, dorongan dari pemerintah di Semarang sebenarnya sudah ada. Program dan event juga cukup sering digelar.

Namun di luar itu, terutama dalam konteks komunitas, masih banyak kekurangan. Ekosistem yang mendukung belum terbentuk kuat. Ia menilai, Semarang kalah dari Solo dan Magelang dalam hal seni tradisi. Sementara untuk komunitas dan jejaring, Jogja masih jauh di depan.

Baca juga: Pemkot Semarang Dorong Seni-Budaya Hidup Sampai Tingkat Kampung

Meski hidup, skena seni di Semarang belum mapan. Belum punya sistem yang benar-benar bisa menopang komunitas secara berkelanjutan. Indikatornya terlihat dari jumlah galeri yang masih terbatas. Termasuk kolaborasi antar komunitas dan stakeholder yang belum maksimal.

Selain itu, intensitas event juga belum konsisten. Belum lagi jumlah seniman yang bisa menembus panggung nasional hingga internasional. “Belum cukup ada kerja bersama dan ekosistem yang bisa jadi jalan komunitas untuk bertahan,” bebernya, Rabu (22/4/2026).

Tidak Berkelanjutan

Ia mencontohkan, skena seni rupa di Semarang pernah booming sekitar 2010 hingga 2015. Saat itu, banyak pameran dan diskusi bermunculan. Namun momentum itu tidak bertahan lama. Setelahnya, geliatnya menurun dan tidak berkelanjutan.

Di level komunitas, banyak yang muncul tapi tidak bertahan lama. Kondisinya seperti jamur di musim hujan. “Ada yang muncul, terus vakum, lalu muncul lagi,” katanya.

Menurutnya, kondisi ini bukan kesalahan semata. Tapi menunjukkan bahwa membangun skena seni di Semarang memang tidak mudah. Banyak komunitas kesulitan mencari ruang, jaringan, hingga lingkungan yang tepat. Fasilitas dan sumber daya juga masih terbatas.

Baca juga: Museum Kartun Indonesia Bakal Hadir di Kota Lama Semarang, Jadi Rumah Baru Buat Seni & Kreativitas

Meski begitu, Cipta melihat potensi besar di Semarang. Kota ini cocok jadi tempat belajar dan bertumbuh bagi pelaku seni. Dengan segala keterbatasan, seniman ditempa lebih kuat. Banyak yang akhirnya berkembang di luar kota.

Semarang mungkin belum jadi panggung utama, tapi lebih sering jadi “tempat latihan”. Ironisnya, banyak talenta lahir di sini, lalu bersinar di kota lain. Jadi, kalau seni di Semarang terasa redup, bisa jadi bukan karena nggak ada cahaya… tapi karena lampunya belum dipasang bareng-bareng. (bae)

You Might Also Like

Bola GPS: Cara Baru Pemkot “Nggrebek” Sumbatan di Saluran Drainase

Taj Yasin: Wayang Nggak Cuma Buat Orang Tua

Bulog Jateng Siap Serap Beras Lokal

Kawin Anak di Semarang Kini Nggak Bisa Asal Gas

Kisah Nurul, Pawang Tawon Vespa dari Blitar: Dengungnya seperti Lagu Nostalgia

TAGGED:hari jadi semarangheadlinepemkot semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Soal MBG, Zulhas: Kalau Basi, Komplain Langsung ke SPPG, Nggak Usah Drama di Medsos
Next Article Seni Kampung di Semarang: Ada, Tapi Kerap “Nyala” lalu “Redup”

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

RUWATAN - Massa Jateng Guyub meruqyah atau meruwat Kantor Gubernur Jawa Tengah, sebagai simbol tolak bala atas matinya nurani pemerintah.

Massa Jateng Guyub Kantor Gubernur, Tabur Bunga dan Dupa di 8 Penjuru

SIDANG KORUPSI--Enam kades dari Pati jadi saksi sidang terdakwa Sudewo, di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (22/7/2026). (bae)

Sidang Sudewa Kupas Keterlibatan Anggota hingga Pimpinan DPRD Pati dalam Pengisian Perangkat Desa

Ketua DPD Gerindra Jateng, Sudaryono, resmi ditunjuk sebagai Kepala BGN.

Resmi! Istana Umumkan Sudaryono Jadi Kepala BGN Gantikan Nanik S Deyang

Urgensinya Apa? Puan Sorot Pengiriman 25 Kepala Daerah ke Singapura di Tengah Efisiensi Anggaran

AKSI DAMAI - Petani tembakau dari Temanggung dan sejumlah daerah lain di Indonesia menggelar aksi damai di depan kantor Kemenko PMK, desak pemerintah kaji ulang regulasi tembakau, terutama terkait pembatasan tar dan nikotin.

Desakan Petani Tembakau Menguat, Kemenko PMK Janji Kaji Ulang Aturan Pembatasan Tar dan Nikotin

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Dugderan 2026: Tradisi Lama, Energi Baru

Februari 16, 2026
Buruh dan mahasiswa menggelar aksi May Day di Semarang, Jumat (1/5/2026). (bae)
Info

Tuntut Upah Layak, KASBI Jateng: Buruh Lajang Minimal Rp9 Juta Per Bulan

Mei 1, 2026
Politik

Pilkada Emang Banyak Masalah, tapi Bukan Lempar ke DPRD Solusinya

Desember 30, 2025
SIDANG KORUPSI--Bupati Pati nonaktif, Sudewo (baju batik) ikuti sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (15/6/2026). (bae)
Hukum

Serakah Ya! Tak Cukup Korupsi di Pati, Sudewo Juga Terima Rp3,8 M dari Proyek Jalur Kereta

Juni 15, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Semarang Punya Seniman, Tapi Ekosistemnya Masih “Nyari Bentuk”
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?