Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Hari Jadi ke-479 Semarang, Kesenjangan Ekonomi Masih Mengintai
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Ekonomi

Hari Jadi ke-479 Semarang, Kesenjangan Ekonomi Masih Mengintai

Semarang lagi keliatan sibuk-sibuknya. Jalanan rame, pembangunan di mana-mana, ekonomi katanya lagi “on fire”. Tapi di balik vibe kota yang makin hidup ini, ada satu pertanyaan yang mulai nyelip: semua warga udah ngerasain enaknya, atau cuma sebagian doang yang kebagian?

T. Budianto
Last updated: April 29, 2026 11:42 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
ARAHAN WALI KOTA: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyampaikan arahan dalam acara Outlook Ekonomi 2026 di Hotel Khas Semarang, Selasa (9/12), yang menyoroti prioritas pembangunan kota berbasis ketahanan pangan dan ekonomi hijau berkelanjutan. (Foto: Humas Pemkot)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Di usia ke-479, Semarang tampak semakin sibuk dan berkembang. Jalan-jalan kian ramai, kawasan kota terus dibenahi, dan geliat ekonomi terasa di berbagai sudut.

Sekilas, semuanya bergerak maju. Namun jika ditarik sedikit ke belakang, ada pertanyaan yang mulai muncul: apakah pertumbuhan ini sudah dirasakan merata oleh semua warga?

Di balik dinamika kota yang terus tumbuh, kesenjangan sosial ekonomi masih menjadi realitas yang belum sepenuhnya teratasi. Berdasarkan data terbaru, tingkat kesenjangan pendapatan di Semarang yang diukur melalui Gini Ratio berada di angka 0,414 pada 2024.

Angka ini masuk kategori sedang. Bagi pengamat ekonomi Undip, Nugroho SBM, kondisi tersebut masih cukup wajar untuk sebuah kota besar dengan struktur ekonomi yang beragam. Menurutnya, perbedaan latar belakang pekerjaan masyarakat menjadi salah satu penyebab utama.

Baca juga: Ekonomi Semarang 5,37 Persen: Nggak Ngebut Banget, Tapi Konsisten

Di satu sisi ada kelompok berpenghasilan tinggi, sementara di sisi lain masih banyak masyarakat yang bergantung pada sektor informal. “Kota seperti Semarang memang punya spektrum ekonomi yang lebar, dari pengusaha besar sampai pekerja harian. Itu yang membuat jarak pendapatan terlihat,” jelasnya, Rabu (29/4/2026).

Meski begitu, ia mengingatkan agar kondisi ini tidak dibiarkan berlarut. Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah kenaikan biaya hidup yang bisa semakin menekan kelompok masyarakat bawah.

Ketika harga kebutuhan meningkat, masyarakat berpenghasilan rendah cenderung paling terdampak. Mereka umumnya hanya memiliki aset dalam bentuk uang tunai yang nilainya terus tergerus.

Sementara itu, kelompok masyarakat yang lebih mampu justru memiliki aset seperti tanah dan bangunan yang nilainya bisa ikut naik. “Di situ letak ketimpangannya. Yang bawah makin tertekan, sementara yang atas bisa tetap bertahan bahkan diuntungkan,” ujarnya.

Perkecil Kesenjangan

Di tengah kondisi tersebut, investasi sebenarnya bisa menjadi pintu untuk memperkecil kesenjangan karena mampu membuka lapangan kerja baru. Namun di Semarang, upaya ini masih terbentur sejumlah kendala, terutama keterbatasan lahan dan tata ruang yang belum sepenuhnya mendukung.

Jika hambatan ini tidak segera dibenahi, peluang untuk menciptakan distribusi ekonomi yang lebih merata dikhawatirkan akan terhambat. Selain investasi, Nugroho juga menyoroti pentingnya pendidikan dan keterampilan.

Ia menilai akses pendidikan saja belum cukup jika tidak dibarengi dengan kemampuan yang sesuai kebutuhan industri. “Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar ijazah, tapi keterampilan yang spesifik.

Misalnya, tenaga kerja yang bisa langsung mengoperasikan mesin tertentu di industri,” katanya. Di sisi lain, sektor UMKM juga dinilai punya peran besar dalam memperkuat ekonomi masyarakat.

Baca juga: Ekonomi Kota Semarang Ngebut, Dompet Warga Ikut?

Ia mendorong agar ruang-ruang promosi seperti pameran kembali dihidupkan, sekaligus memperluas kerja sama antara pelaku usaha kecil dengan ritel modern.

Langkah ini diharapkan bisa membantu UMKM menjangkau pasar yang lebih luas, sehingga pendapatan mereka bisa meningkat secara bertahap. Meski kesenjangan masih ada, Nugroho melihat satu hal positif dari kondisi Semarang saat ini, yakni stabilitas sosial dan politik yang relatif terjaga.

Kondisi ini dinilai penting, karena bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. Namun ia mengingatkan, stabilitas tersebut perlu dijaga dengan memastikan pembangunan berjalan lebih merata.

Sebab, jika kesenjangan terus melebar, bukan tidak mungkin akan muncul persoalan sosial di kemudian hari. Di momen ulang tahun kota ini, harapan pun mengarah pada pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memastikan setiap warga merasakan dampaknya. Karena pada akhirnya, kemajuan kota bukan hanya soal seberapa cepat berkembang, tetapi juga seberapa adil ia tumbuh untuk semua.

Semarang boleh makin glowing dari luar, tapi kalau isi dompet warganya masih beda level, ya jadinya kayak foto pakai filter, kelihatan cakep, tapi realitanya nggak semua ikut cerah. (dul)

 

Tulisan ini bagian dari fokus utama bacaaja.co pekan ini, “Semarang di Usia 479: Antara Harapan Warga dan Tantangan Kota”. (Red)

You Might Also Like

Penerima Bisyaroh Pemkot Semarang Tembus 4.000 Orang

SPMB, Pemprov Jemput Bola 5.000 Siswa Miskin Ekstrem

Perangkat Desa Harus Mengundurkan Diri setelah Ditetapkan sebagai Calon Kades

Petisi Sederhanakan Kegiatan PKK Semarang Tembus 4.490 Tanda Tangan

Tanggul Silandak Kembali Jebol Diterjang Banjir

TAGGED:agustina wilujengekonomi semaranghari jadi semarangheadlinepemkot semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Di Lapas Semarang, Razia Narkoba Sampai 18 Kali Sebulan
Next Article Agustina: Kolaborasi Kunci Sukses MBG

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Raffi Ahmad dan Willie Salim berfoto bersama di sela menghadiri acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Rabu, 29 Oktober 2026.

Raffi Ahmad Kena Cancel Culture, Musisi hingga UMKM Ramai-ramai Boikot RANS Carnival

Kuliner legendaris Ayam Goreng Suharti.

Sejarah Kuliner Ayam Goreng Suharti: Dipisahkan Perceraian, Disatukan Keturunan

RUMAH MAKAN: Rumah makan legendaris Ayam Goreng Suharti di Krapyak, Kota Semarang. (ist)

Kabar Duka, Pendiri Ayam Goreng Suharti Meninggal Dunia pada Usia 86 Tahun

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (Dispermadesdukcapil) Jawa Tengah, Nadi Santoso, saat ditemui di kantornya, Kamis (29/10/2026). (dul)

Perangkat Desa Harus Mengundurkan Diri setelah Ditetapkan sebagai Calon Kades

ILUSTRASI: Kereta api sedang melaju di wilayah Daop 4 Semarang. (ist)

Cara Batalkan Tiket Kereta Api via Aplikasi Tanpa Harus ke Stasium

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Larang PKL Tumpah ke Jalan, Respati Sulap Kantor Pemerintah Jadi Spot Lapak Takjil

Februari 8, 2026
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip, FX Sugiyanto. (ist)
Fokus

Kunci Rupiah Mau Bangkit? Guru Besar Undip Bilang MBG dan KDMP Harus Dievaluasi

Juni 12, 2026
Info

Bukan Sekadar Aspal, Ini Sebab Jalan Majapahit Cepat Rusak

Agustus 12, 2026
Info

Fatayat NU Diminta Jadi “Tameng” Perempuan & Anak

April 20, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Hari Jadi ke-479 Semarang, Kesenjangan Ekonomi Masih Mengintai
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?