BACAAJA, SEMARANG – Seni bukan hanya untuk hiburan. Ia bisa menjadi medium untuk mengobarkan perlawanan. Petikan gitar bisa menjadi energi untuk perjuangan.
Hari kedua aksi Jateng Guyub, Kamis (23/7/2026), di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah tak hanya diwarnai orasi dan diskusi publik. Ratusan peserta yang bertahan selama tiga hari juga menggelar panggung musik, sementara di belakang barisan aksi, dapur rakyat terus mengepul menyiapkan ratusan porsi makanan hasil gotong royong warga.
Menariknya, sebagian bahan pangan yang dimasak berasal dari lahan pertanian yang hingga kini masih bersengketa.
Bacaaja: Massa Jateng Guyub Ruqyah Kantor Gubernur, Tabur Bunga dan Dupa di 8 Penjuru
Bacaaja: Jateng Lagi Banyak Masalah? Warga Serbu Kantor Gubernur Bawa Segudang Keluhan
Koordinator Jateng Guyub, Joko Prianto, mengatakan tema aksi pada hari kedua sengaja difokuskan pada isu lingkungan yang dinilai semakin mengkhawatirkan di berbagai daerah.
“Jadi menyoroti persoalan-persoalan kerusakan lingkungan di Jawa Tengah,” kata Joko kepada wartawan.
Selain menyampaikan aspirasi melalui orasi, aksi hari kedua juga diisi pertunjukan musik rakyat sebagai penyemangat bagi peserta aksi yang telah bertahan selama beberapa hari.
“Untuk hiburan saja, tapi dengan lagu-lagu yang tetap mengkritik pemerintah. Biar dulur-dulur ini enggak jenuh karena situasinya panas,” katanya.
Joko menjelaskan, panggung musik tersebut diisi tiga kelompok musik, termasuk perwakilan masyarakat dari kawasan Gunung Lawu yang selama ini menolak proyek panas bumi (geothermal).
“Ini satu bentuk perlawanan juga. Yang ngisi teman-teman dari Lawu yang selama ini menolak geothermal. Jadi rakyat bantu rakyat, rakyat menghibur rakyat,” ujarnya.
Ketua Kelompok Tani Kawula Alit Mandiri, Trismina, membawa berbagai hasil panen dari Desa Dayunan, Kabupaten Kendal, mulai dari cabai, tomat, kacang panjang, daun singkong, terong, hingga labu siam.
“Semua kami petik sendiri dari lahan. Ada yang bawa cabai, tomat, labu siam, daun singkong, terong. Dikumpulkan lalu dibawa ke sini,” ujarnya.
Menurut Trismina, lahan yang menjadi sumber penghidupan warga kini masih diliputi konflik agraria. Bahkan, dua petani telah dilaporkan ke Polda Jawa Tengah dan kasusnya telah memasuki tahap penyidikan.
“Kalau tanah ini dirampas, kami bertani di mana? Kami ini petani, tetapi kalau tidak punya lahan mau makan apa?” katanya.
Sementara itu, Tim Teknis Jateng Guyub, Cornelius Gea, mengatakan seluruh kebutuhan konsumsi peserta aksi dipenuhi melalui dapur rakyat yang dikelola secara swadaya.
Setiap waktu makan, sekitar 300 hingga 400 porsi makanan dimasak menggunakan bahan pangan sumbangan petani, nelayan, dan masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Nelayan turut menyumbangkan ikan asin, sedangkan proses memasak dilakukan secara gotong royong oleh relawan di Semarang.
Cornelius menegaskan seluruh biaya aksi berasal dari iuran peserta dan solidaritas masyarakat, bukan dari pihak tertentu seperti yang kerap ditudingkan.
“Ini patungan semua. Kalau benar didanai pihak tertentu, mungkin setiap hari kami makan ayam atau ikan besar. Faktanya kami masih menghitung uang yang ada cukup atau tidak untuk besok,” ujarnya sambil tertawa.
Menurutnya, dapur rakyat menjadi simbol kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan secara kolektif.
“Ini benar-benar dikelola rakyat. Bahannya dari rakyat, dimasak rakyat, lalu dimakan rakyat,” pungkasnya. (dul)

