BACAAJA, SEMARANG – Di balik ramainya Pasar Gang Baru yang tak pernah benar-benar sepi, tersimpan sebuah mimpi besar yang sedang diperjuangkan warga Kranggan.
Bukan sekadar ingin dikenal sebagai kawasan Pecinan di Kota Semarang, Kranggan kini bersiap naik level menjadi destinasi wisata yang mampu menghidupkan ekonomi warga sekaligus menjaga warisan budaya yang telah bertahan ratusan tahun.
Siang itu, di tengah hiruk-pikuk pasar, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Krabat Kranggan, Hengky Hidayat Pranadya, bercerita tentang perjalanan panjang yang sedang mereka tempuh.
Bacaaja: Pecinan Semarang Jadi Titik Kumpul Semua Etnis
Bacaaja: Waroeng Semawis Comeback! Kuliner Malam Pecinan Semarang Bikin Wali Kota Ikut Jajan
Menurutnya, langkah pertama untuk membangun kawasan wisata justru dimulai dari rasa bangga terhadap lingkungan sendiri.
“Kalau kita sendiri tidak bangga dengan tempat kita, bagaimana orang luar mau datang?” ujar Hengki, Kamis (11/6/2026).
Mimpi tersebut mulai menemukan jalannya ketika Kelurahan Kranggan masuk dalam proses pengembangan sebagai Desa Wisata (Deswita). Bagi warga setempat, status itu bukan sekadar label, melainkan peluang untuk mengangkat berbagai potensi yang selama ini mungkin luput dari perhatian banyak orang.
Punya Banyak Harta Karun Wisata
Kranggan sebenarnya menyimpan banyak daya tarik. Salah satunya adalah keberadaan enam hingga tujuh klenteng yang tersebar dalam satu wilayah kelurahan. Sebagian besar bangunan tersebut telah berdiri selama ratusan tahun dan masih aktif digunakan hingga sekarang.
“Kalau dihitung, mungkin ini salah satu wilayah dengan jumlah klenteng terbanyak dalam satu kelurahan. Itu sesuatu yang unik,” kata Hengki.
Bukan cuma soal bangunan tua, klenteng-klenteng tersebut juga menyimpan cerita panjang tentang sejarah perdagangan, budaya, dan keberagaman masyarakat Tionghoa di Semarang.
Selain itu, ada juga Pasar Gang Baru yang sudah menjadi ikon kawasan Pecinan selama lebih dari satu abad. Pasar ini bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga ruang pertemuan berbagai budaya, tradisi, dan aktivitas ekonomi warga setiap harinya.
Dari Kumuh Jadi Lebih Tertata
Hengki masih ingat bagaimana kondisi Gang Baru puluhan tahun lalu. Lorong-lorong pasar dipenuhi lapak yang semrawut, akses warga terganggu, dan kawasan terlihat jauh dari kesan nyaman untuk wisatawan.
Kini perlahan wajah kawasan mulai berubah. Penataan dilakukan di berbagai titik, termasuk pembangunan gapura baru sebagai pintu masuk kawasan. Konsep pasar wisata juga mulai disiapkan tanpa menghilangkan identitas pasar tradisional yang sudah melekat kuat.
“Kita tidak ingin menghilangkan pasar tradisionalnya. Justru kita ingin pasar ini tetap hidup, tapi lebih bersih, lebih tertata, dan lebih menarik,” jelasnya.
Tantangan Terbesar Ternyata soal Kebiasaan

Meski potensinya besar, perjalanan menuju desa wisata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Salah satu tantangan utama justru datang dari hal yang paling sederhana, yaitu kebersihan lingkungan.
Menurut Hengki, wisatawan tidak hanya mencari tempat yang unik, tetapi juga kenyamanan saat berkunjung.
“Kebersihan itu yang pertama. Kalau kita sendiri jalan di sini merasa tidak nyaman, bagaimana orang luar mau nyaman?” ujarnya.
Selain itu, membangun kesadaran masyarakat juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting. Ia berharap seluruh warga bisa ikut berperan dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi wisatawan, mulai dari menjaga kebersihan hingga menghormati pengunjung yang datang.
“Ini soal kebiasaan. Memang tidak bisa langsung berubah, tapi pelan-pelan saya yakin bisa,” katanya.
Bergerak Meski Tanpa Anggaran Besar
Yang menarik, sebagian besar upaya pengembangan wisata di Kranggan dilakukan dengan semangat gotong royong. Pokdarwis bergerak secara sukarela tanpa dukungan anggaran besar.
Mereka menggandeng komunitas, mencari sponsor, bekerja sama dengan kampus, hingga mengajak mahasiswa ikut mempromosikan kawasan melalui berbagai konten kreatif.
“Kita tidak punya banyak uang, tapi kita punya kemauan. Kadang yang penting bukan uangnya dulu, tapi bagaimana meyakinkan orang bahwa kita serius,” tutur Hengki.
Keseriusan itu mulai membuahkan hasil. Sejumlah kampus, komunitas kreatif, pelaku wisata, hingga pemerintah mulai melirik Kranggan sebagai kawasan yang memiliki potensi besar untuk berkembang.
Dalam waktu dekat, puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga akan terlibat membuat konten promosi wisata. Festival mural dan berbagai agenda budaya lainnya pun sudah masuk dalam rencana pengembangan kawasan.
Bukan Sekadar soal Wisata
Bagi Hengki, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat Kranggan viral atau ramai wisatawan. Yang lebih penting adalah bagaimana warga setempat bisa ikut merasakan manfaat dari perkembangan tersebut.
“Kalau wilayah ini maju, yang menikmati pertama ya warga sini sendiri. UMKM hidup, budaya terjaga, orang luar datang. Itu yang kami perjuangkan,” katanya.
Di tengah ramainya Pasar Gang Baru yang terus berdenyut setiap hari, mimpi besar itu perlahan sedang dibangun. Bukan dengan modal besar atau proyek mewah, melainkan lewat gotong royong, rasa memiliki, dan kecintaan warga terhadap kampung halamannya sendiri.
Dan bagi warga Kranggan, perjalanan menuju desa wisata bukan lagi sekadar wacana. Langkah pertamanya sudah dimulai hari ini. (dul)

