BACAAJA, SEMARANG- Begitu langit mulai bersuara dan kalender masuk penghujan, PMI Kota Semarang langsung ngegas dengan apel kesiapsiagaan bencana, Jumat (21/11). Pesannya sederhana: kalau banjir atau longsor datang, relawan nggak akan keok duluan. Semua sudah siap diterjunkan kapan pun dibutuhkan.
Wakil Ketua PMI Kota Semarang, Widoyono bilang, setiap penanganan bencana biasanya melibatkan sekitar 80 personel, tapi bisa fleksibel tergantung situasi. PMI juga nggak bergerak sendirian, mereka gandeng BPBD, Basarnas, Damkar, Baznas, dan lembaga lain.
“Desember, Januari, Februari hujan makin sering. PMI harus siap, itu tugas pokok kami di kebencanaan,” ujarnya.
Dalam apel itu, ada sesi penyegaran dan kaderisasi relawan. Intinya, relawan senior disiapkan estafetnya ke generasi baru. “Relawan yang sepuh-sepuh diganti yang muda,” kata Widoyono sambil menegaskan pentingnya regenerasi.
Latihan Mental
Salah satu relawan muda dari Korps Sukarela (KSR), Rahsyandi Maulana cerita pengalamannya yang sudah setahun jadi bagian PMI. Sebelum terjun, ia digembleng empat bulan, bukan cuma fisik dan keterampilan, tapi juga mental buat menghadapi kondisi paling genting.
“Materi sebenarnya cukup, tapi karena terus berkembang, saya tetap harus belajar lagi,” tuturnya. Rahsyandi juga berbagi momen tersulit: pertolongan pertama pada korban kritis. “Itu paling sulit. Benar-benar belajar tentang cara menolong manusia saat kritis,” katanya.
PMI Semarang berharap para relawan muda ini makin siap menghadapi cuaca yang makin unpredictable dan kebutuhan lapangan yang makin menantang. (tebe)

