BACAAJA, SEMARANG – Suasana di SMAN 1 Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mendadak berubah setelah puluhan siswa mengeluhkan sakit perut, mual, pusing hingga diare usai menyantap makanan program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Senin (7/9/2026).
Makanan yang dibagikan SPPG Sukorejo 2 itu berisi ayam, tempe goreng, dan brokoli. Dari hasil pendataan, total 137 orang dilaporkan mengalami keluhan, terdiri dari 136 siswa dan satu guru.
Kepala SMAN 1 Tunjungan, Yuni Ni’wati, mengatakan pihak sekolah awalnya menerima sejumlah keluhan dari siswa. Mereka kemudian dikumpulkan di aula untuk didata dan diperiksa petugas kesehatan.
“Awalnya ada keluhan, kemudian karena ada keluhan, maka men-tracking. Semuanya yang bergejala diminta ke aula. Kemudian kita melaporkan dan DKK datang untuk memeriksa,” kata Yuni saat dikonfirmasi, Selasa (8/9/2026).
Bacaaja: Kasus Keracunan MBG Bisa Berujung Pidana
Bacaaja: Korban Dugaan Keracunan MBG Berastagi Sulit Bicara
Dari 133 siswa yang diperiksa Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Blora, 6 di antaranya sempat dirujuk untuk mendapat penanganan medis. 3 siswa sudah diperbolehkan pulang, sedangkan 3 lainnya masih menjalani perawatan. Selain itu, 3 siswa lain berada di rumah karena mengalami diare.
“Jumlah yang pasti 133, yang dirujuk enam, tiga sudah pulang, tiga masih di sana, tiga ada di rumah,” ujarnya.
Yuni menyebut makanan MBG biasanya diterima dan disantap siswa sekitar pukul 11.00 WIB saat jam istirahat. Ia mengatakan kejadian tersebut merupakan kasus pertama di sekolahnya dan membuat sejumlah siswa merasa trauma.
Di tengah penanganan para siswa, Satgas MBG Blora menemukan persoalan lain pada SPPG Sukorejo 2. Kepala Satgas MBG Blora, Sri Setyorini, mengatakan SPPG tersebut sudah tiga kali mendapat peringatan.
“Sudah tiga kali diperingatkan. Ini yang ketiga,” kata Sri.
Karena insiden kembali terjadi, Satgas MBG Blora berencana mengusulkan penghentian operasional SPPG Sukorejo 2. Namun, keputusan penutupan permanen tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat.
“Kita akan mengusulkan untuk ditutup. Kalau untuk penutupan permanen, itu keputusan pemerintah pusat,” ujarnya.
Selain itu, Sri meminta pihak SPPG mengembalikan dana kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sesuai jumlah penerima manfaat dan nilai makanan yang telah disalurkan.
“Kami meminta SPPG mengembalikan dana ke BGN sesuai dengan jumlah penerima manfaat dikalikan harga. Nanti juga harus ada bukti transfernya,” katanya.
Dalam pengecekan di SD Tahfidz Al Banjari, Satgas juga menemukan dugaan ulat atau belatung pada makanan.
“Di SD Al Banjari juga kami temukan ada ulat atau belatung di makanan,” ujar Sri.
Meski demikian, temuan tersebut belum dipastikan berkaitan dengan dugaan keracunan di SMAN 1 Tunjungan. Penyebab pasti munculnya keluhan pada siswa dan guru hingga kini masih dalam penelusuran petugas kesehatan. (dul)

