Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Eksploitasi Berdalih Swasembada Pangan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Eksploitasi Berdalih Swasembada Pangan

Redaktur Opini
Last updated: April 15, 2026 9:06 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Garry Satrio N, mahasiswa jurusan Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo.

Beras dicitrakan sebagai makanan masyarakat sejahtera, sementara pangan lokal non-beras menjadi simbol kemiskinan, dan perlahan ditinggalkan.

 

Apakah kamu pernah mendengar celetukan, “Belum kenyang kalau tidak makan nasi”? Kalimat itu bukan sekadar kebiasaan makan. Ia adalah warisan dari sebuah proyek politik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Masih ingatkah tulisan di bokong truk-truk, “Esih penak jamanku to?” Yap, betul sekali. Beliaulah sosok otoriter bernama Soeharto. Ia sang pencetus nasionalisasi pangan. Penyeragaman makanan pokok secara sistematis. Beras menjadi makanan pokok bagi seluruh bangsa Indonesia. Padahal setiap daerah memiliki kekhasan makanan pokok masing-masing. Dari sinilah benih krisis pangan itu dimulai.

Ini bukan sekadar soal menu makan siang. Pola seperti ini tidak tiba-tiba. Ia datang dengan wajah yang berganti-ganti. Namun, ia punya niat yang sama, yaitu menguasai perut rakyat untuk menguasai rakyat itu sendiri. Ketika perut sudah dikuasai, maka suara pun dikuasai.

Ketika pilihan makan sudah ditentukan, maka pilihan hidup pun mengikuti. Itulah alasan politisasi pangan bukan sekadar soal beras atau umbi, melainkan ia adalah soal siapa yang berhak menentukan nasib siapa.

Sejarah mencatat politisasi ini dengan jelas. Ria Ambarwati dalam bukunya Nusantara Dalam Piringku mengungkapkan bahwa fakta sejarah menunjukkan politik pangan berkelindan akrab dengan kedaulatan negara. Sialnya, bukan keadilan yang terjadi, melainkan keserakahan yang terpampang.

Nasionalisasi beras menciptakan kastanisasi pangan pokok. Beras dicitrakan sebagai makanan masyarakat sejahtera, sementara pangan lokal non-beras menjadi simbol kemiskinan, dan perlahan ditinggalkan. Dari sanalah krisis pangan sesungguhnya bermula.

Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa. Hampir setiap pulau memiliki kekhasan tersendiri. Termasuk makanan pokok daerah yang beraneka ragam. Perhatikanlah! Semua itu perlahan sirna bukan karena masyarakat meninggalkannya, melainkan karena kebijakan yang memaksa mereka melupakan apa yang sudah ada.

Tragedi itu memiliki alamat yang jelas, dan salah satu alamat yang paling pilu terletak di timur Indonesia. Tepatnya di Asmat. Yohana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak era Presiden Jokowi warga Asmat kini sangat bergantung pada pasokan beras miskin dari pemerintah (Kompas, 2018). Padahal masyarakat Asmat dahulu mengonsumsi umbi-umbian sebagai makanan pokok. Kebiasaan itu bergeser semenjak masuknya beras miskin pada 2003. Pada akhirnya mereka bergantung pada bantuan itu, dan hal yang ditakutkan benar-benar terjadi. Terjadilah krisis pangan.

Proyek pembukaan jutaan hektar lahan untuk swasembada pangan di Papua adalah bukti konkret kebobrokan warisan nasionalisasi beras. Alih-alih mengoptimalkan sagu yang tumbuh alami, pemerintah justru menggusur lebih dari 2 juta hektare hutan di Merauke demi sawah dan perkebunan tebu. Sebuah skala yang hanya masuk akal bagi korporasi, bukan petani gurem.

Pemerintah lupa bahwa swasembada pangan tak bisa dicapai dengan membabat hutan besar-besaran. Jika terus dipaksakan, hal ini serupa dengan ekstraktivisme kolonial yaitu eksploitasi sumber daya untuk pasar global. Masyarakat Papua yang semula hidup berdampingan dengan hutan kini kehilangan kedaulatan, dan akan menjadi buruh di atas tanahnya sendiri.

Ambisi menguasai pangan ini tidak berhenti di satu rezim. Food Estate bermasalah di era Jokowi, kini dilanjutkan dan diperluas oleh Prabowo Subianto dengan narasi yang sama dan korban yang sama.

Dari Soeharto hingga Prabowo, benang merahnya satu: kepentingan elite yang menguasai pemerintahan. Padahal cara paling jitu menuju swasembada adalah memakmurkan petani yang sudah ada, bukan mengeksploitasi yang belum ada. Dan patut dipertanyakan: Sebenarnya pemerintah melakukan segalanya untuk siapa? Rakyat atau konglomerat? (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Fenomena “Trial by Netizen” dan Krisis Etika di Ruang Digital

Perempuan, Cantik Aja Nggak Cukup!

Sampai Kapan Terpaksa Menjadi “People Pleaser”?

Upaya Menghindarkan Masyarakat dari Beban Kerusakan Ekologis

Cukai Khusus Rokok Ilegal: Menimbang Jalan Tengah antara Penertiban dan Keadilan Fiskal

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Sudah Direkomendasikan, Belum Dikerjakan: Silayur Masih Jadi “Lintasan Uji Nyali”
Next Article PIMPINAN - Ketua DPD Golkar Jateng, cum Wakil Ketua DPRD Jateng, M Saleh. (ist) Stabilitas Energi Jadi Fokus, Golkar Jateng Dukung Penuh Pemerintah

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

WISATA SPEEDBOAT - Pengunjung Waduk Jatibarang, Semarang, swafoto di dermaga wisata speedboat. (dul)

Sudah Ada Sejak 2015, Wisata Speedboat di Semarang Ternyata Banyak yang Belum Tahu

Goa Kreo Bukan Cuma Monyet, Ada Jejak Sunan Kalijaga yang Masih Dijaga

Pakar: Insentif Kendaraan Listrik Jangan Cuma Parkir di Kota

Jangan Sampai Pesantren Jadi Tempat Takut Pulang

DAMPINGI KORBAN--Kuasa hukum korban, Sukarman (kiri) menjelaskam kasus dugaan penganiayaan petinggi HIPMI Jateng. (ist)

Korban Penganiayaan Petinggi HIPMI Jateng Buka Suara di Hadapan Penyidik Polda

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Watak Feodalisme dan Patriarki Menyuburkan Praktik “Child Grooming”

Januari 26, 2026
Anggota DPR RI Rahayu Saraswati mundur dari kursi DPR. Ini Mundur untuk Maju atau bagaiman?
Opini

Rahayu Saraswati Mundur dari DPR: Mundur untuk Maju atau Mundur untuk Ngopi Dulu, Ya?

September 11, 2025
Opini

Pengereman Darurat Kuota Nikel: Koreksi Pasar atau Momentum Reformasi?

Februari 23, 2026
Opini

Belajar dari Venezuela: Melawan Politik Energi Asimetris

Januari 15, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Eksploitasi Berdalih Swasembada Pangan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?