Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Jangan Sampai Pesantren Jadi Tempat Takut Pulang
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Jangan Sampai Pesantren Jadi Tempat Takut Pulang

Kasus kekerasan tak cukup diselesaikan di meja hukum. Perlu gerakan bareng agar pesantren tetap jadi rumah aman untuk belajar dan bertumbuh.

T. Budianto
Last updated: Mei 30, 2026 3:15 pm
By T. Budianto
3 Min Read
Share
SAMBUTAN GUBERNUR: Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi memberikan sambutan saat menghadiri peringatan Hari Lahir ke-76 Fatayat NU di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Sabtu (30/5/2026). (Foto: Pemprov Jateng)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menegaskan bahwa upaya mencegah kekerasan di lingkungan pesantren tidak bisa hanya mengandalkan proses hukum. Menurutnya, dibutuhkan gerakan kolektif yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga organisasi kemasyarakatan.

“Kita harus saling asah dan asuh. Tidak cukup dengan penegakan hukum. Kita harus mengumpulkan seluruh tokoh masyarakat untuk menyadarkan kembali agar kejadian kekerasan tidak terulang,” kata Luthfi usai menghadiri peringatan Hari Lahir ke-76 Fatayat NU di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Sabtu (30/5/2026).

Menurut Luthfi, ketika kasus kekerasan terjadi, proses hukum tetap menjadi ranah aparat kepolisian. Namun persoalan tidak berhenti setelah pelaku diproses. Korban perlu dipulihkan, dan lembaga pendidikan yang terdampak juga membutuhkan pendampingan agar kepercayaan masyarakat bisa kembali terjaga.

Baca juga: Forsan Jateng Mau Bikin Pesantren Makin Aman

Ia mengungkapkan telah berdiskusi dengan Ketua PWNU Jateng, KH Abdul Ghaffar Rozin terkait langkah-langkah pencegahan yang perlu diperkuat. Pemprov juga berencana melibatkan berbagai unsur, termasuk kementerian, aparat penegak hukum, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dalam upaya membangun sistem perlindungan yang lebih kuat di lingkungan pesantren.

Luthfi menilai kasus kekerasan yang muncul di sejumlah pesantren harus menjadi alarm bersama. Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan sebagai bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Garis Depan

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Jateng, Tazkiyatul Mutmainah menegaskan, organisasinya akan terus berada di garis depan dalam isu perlindungan perempuan dan anak.

Ia mendorong masyarakat untuk tidak lagi takut bersuara ketika melihat, mengetahui, atau bahkan mengalami tindak kekerasan, khususnya kekerasan seksual.

“Kami aktif menyadarkan masyarakat untuk berani speak up, berani bersuara ketika melihat atau menjadi korban kekerasan, terutama kekerasan seksual, karena ini adalah tugas kita bersama,” ujar Tazkiyatul yang juga menjabat sebagai Wakil Wali Kota Tegal.

Menurutnya, keberanian untuk berbicara merupakan langkah awal untuk memutus rantai kekerasan yang selama ini kerap tersembunyi di balik rasa takut, malu, atau tekanan lingkungan.

Baca juga: Pemprov Kawal Korban Kasus Pesantren Agar Tetap Sekolah

Fatayat NU Jateng, lanjut Tazkiyatul, siap mengawal berbagai program Pemprov Jateng yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan, perlindungan perempuan, dan perlindungan anak.

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial, pesantren tetap menjadi salah satu benteng pendidikan karakter bangsa. Karena itu, menjaga ruang belajar tetap aman bukan hanya tugas pengasuh atau aparat, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Sebab pesantren tidak sedang kekurangan pagar. Yang dibutuhkan adalah lebih banyak mata yang peduli, telinga yang mau mendengar, dan keberanian untuk bertindak ketika melihat ada yang salah. Jangan sampai tempat yang seharusnya mengajarkan akhlak justru menjadi ruang yang membuat anak-anak kehilangan rasa aman. (tebe)

You Might Also Like

Militer Israel Serang Sesama Anggota BoP, Satu Personel TNI di Lebanon Gugur

Hutan Tanaman Industri untuk Biomassa, Kemenhut: Rehabilitasi Lahan Kritis dan Dukung EBT

Gerindra Siap Coret Noel dari Keanggotaan Usai Jadi Tersangka KPK

Natal Bersama di Salatiga, Toleransi Bukan Cuma Slogan

Jangan Ikut Bikin Panas, Pesan Ahmad Luthfi ke Banser

TAGGED:fatayat NUheadlinepemprov jatengpesantren
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article DAMPINGI KORBAN--Kuasa hukum korban, Sukarman (kiri) menjelaskam kasus dugaan penganiayaan petinggi HIPMI Jateng. (ist) Korban Penganiayaan Petinggi HIPMI Jateng Buka Suara di Hadapan Penyidik Polda
Next Article Pakar: Insentif Kendaraan Listrik Jangan Cuma Parkir di Kota

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Goa Kreo Bukan Cuma Monyet, Ada Jejak Sunan Kalijaga yang Masih Dijaga

Pakar: Insentif Kendaraan Listrik Jangan Cuma Parkir di Kota

Jangan Sampai Pesantren Jadi Tempat Takut Pulang

DAMPINGI KORBAN--Kuasa hukum korban, Sukarman (kiri) menjelaskam kasus dugaan penganiayaan petinggi HIPMI Jateng. (ist)

Korban Penganiayaan Petinggi HIPMI Jateng Buka Suara di Hadapan Penyidik Polda

TANGANI BANJIR--Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin menyampaikan strategi tangani banjir rob saat Rembug Pembangunan Jateng di Pendopo Kabupaten Grobogan, Jumat (29/5/2026). (bae)

Ogah Nanggung Beban Sendirian, Pemkot Semarang Ajak Daerah Lain Kompak Atasi Banjir-Rob

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Sepak Bola

Mahesa Jenar Tetap Bidik Tiga Poin

Februari 22, 2026
Unik

Rute Internasional Bikin Investor Singapura Rajin Datang

Januari 22, 2026
Unik

Manfaat Telur Bebek yang Sering Diremehin, Padahal Keren Banget

Agustus 23, 2025
Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal saat meninjau dapur MBG di Kabupaten Bandung Jawa Barat. Foto: dok.
Nasional

Skandal Dapur Fiktif dan Isu Minyak Babi di Wadah Makan MBG: DPR Desak Transparansi Total

September 22, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Jangan Sampai Pesantren Jadi Tempat Takut Pulang
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?