BACAAJA, SEMARANG- Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen menegaskan bakal mengawal kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan oknum pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Pati sampai tuntas.
Buat pria yang akrab disapa Gus Yasin itu, hal paling penting saat ini adalah memastikan para korban yang masih usia sekolah nggak kehilangan semangat buat lanjut pendidikan.
“Korban ini masih anak-anak, masih usia sekolah. Kita harus memastikan mereka tetap berani sekolah karena masa depan mereka masih panjang,” kata Gus Yasin saat menghadiri Rakerda 2026 Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat di The SURI Ballroom Queencity, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: Kiai Ashari Pati Buron: Polisi Kemarin Gak Nahan Katanya Kooperatif, Sekarang Sibuk Nyari
Ia juga mengapresiasi keberanian para korban dan pendamping dari masyarakat, termasuk unsur Nahdlatul Ulama, yang ikut mendorong kasus ini terungkap ke publik. “Kami apresiasi masyarakat yang bergerak bersama mengajak korban berani bicara,” ujarnya.
Menurut Gus Yasin, Pemprov Jateng saat ini juga mengoptimalkan program Kecamatan Berdaya sebagai garda depan perlindungan kelompok rentan. Program ini fokus pada pendampingan hukum dan pemberdayaan anak-anak, perempuan, lansia, hingga penyandang disabilitas.
Pemprov bahkan menggandeng organisasi seperti Fatayat, Muslimat, dan Aisyiyah untuk melatih paralegal di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. “Kami sudah bekerja sama dengan NU dan Muhammadiyah,” katanya.
Langkah Pencegahan
Langkah pencegahan juga mulai diperluas ke sekolah umum. Lewat sistem screening kesehatan dan deteksi dini, pemerintah mencoba mengidentifikasi potensi kekerasan seksual maupun perundungan di lingkungan pendidikan.
Melihat banyak korban berasal dari keluarga kurang mampu dan yatim, Gus Yasin memastikan akses pendidikan mereka tetap dijamin. “Insyaallah masyarakat yang tidak mampu akan kita beri biaya sekolah gratis,” tegasnya.
Sementara di lingkungan pesantren, Pemprov Jateng juga menggencarkan program Tilik Pesantren bersama Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah atau RMI. Program ini fokus memberi edukasi ke pengasuh pondok terkait pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Baca juga: BREAKING NEWS: Ashari Kiai Cabul Pati Ditangkap di Wonogiri, Pelarian Sang Wali Berakhir
Bahkan pada 10 Mei mendatang, RMI Putri bakal kembali turun ke wilayah Banjarnegara untuk menyisir pesantren-pesantren di Jawa Tengah bagian barat.
Selain penguatan program lapangan, Pemprov juga menyiapkan evaluasi terhadap regulasi yang sudah ada, termasuk Perda Ketahanan Keluarga agar perlindungan terhadap korban kekerasan makin kuat.
Kasus kekerasan seksual sering bikin orang sibuk menjaga nama baik lembaga, tapi lupa menjaga masa depan korban. Padahal yang paling butuh diselamatkan bukan citra institusi, melainkan keberanian anak-anak yang hidupnya berubah gara-gara orang dewasa yang menyalahgunakan kuasa. (tebe)

