BACAAJA, SEMARANG- Udara siang di kawasan Goa Kreo terasa sejuk meski matahari sedang terik. Dari atas jembatan yang membelah Bendungan Jatibarang, hamparan air terlihat tenang. Di sisi lain, suara monyet-monyet liar bersahutan menyambut pengunjung yang datang silih berganti.
Goa Kreo bukan sekadar tempat wisata biasa. Di balik tebing batu dan rimbunnya pepohonan, tersimpan cerita panjang yang masih dipercaya masyarakat hingga sekarang.
Di sebuah papan informasi yang berdiri tepat di dekat mulut goa, tertulis sejarah Goa Kreo yang berkaitan dengan perjalanan Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati untuk pembangunan Masjid Agung Demak.
Konon, Sunan Kalijaga menemukan pohon jati yang cocok dijadikan saka guru atau tiang utama masjid. Namun saat kayu itu dihanyutkan melalui sungai, pohon jati tersebut tersangkut di sela bebatuan kawasan yang kini dikenal sebagai Goa Kreo.
Baca juga: Dari Panggung ke Kera: Cara Semarang Bikin Tradisi Tetap ‘Hidup’
Dalam cerita itu, Sunan Kalijaga kemudian bertapa di dalam goa. Tak lama setelahnya, datang empat ekor kera yang membantu memindahkan kayu jati tersebut hingga akhirnya bisa dibawa ke Demak.
Sebelum pergi, Sunan Kalijaga meminta para kera menjaga kawasan itu. Dari situlah nama “Kreo” dipercaya berasal dari kata “Mangreho” yang berarti menjaga atau memelihara. Hingga sekarang, kawanan monyet masih hidup bebas di sekitar kawasan wisata dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Wisata Religi
Kepala UPTD Kreo dan Agro Wisata, Sugianto mengatakan, Goa Kreo memang tidak hanya menawarkan wisata alam, tetapi juga wisata sejarah dan religi.
“Goa Kreo ini napak tilasnya Sunan Kalijaga waktu mencari kayu jati untuk Masjid Demak. Jadi bukan cuma wisata biasa,” ujarnya saat di lokasi, Jum’at (29/5/2026).
Ia bercerita, sejak dirinya dilantik menjadi Kepala UPTD Kreo dan Agro Wisata pada Maret 2026 lalu, ada beberapa hal yang mulai didorong untuk pengembangan kawasan wisata tersebut.
Beberapa fasilitas seperti jogging track, area selfie, dan kolam renang sudah mulai dibenahi. Namun menurutnya masih ada fasilitas lain yang perlu ditambah, seperti gazebo untuk tempat berteduh hingga panggung hiburan bagi pengunjung.
Baca juga: Semarang Lagi Ramai, Target Wisatawan Dikit Lagi Tembus
“Kalau hujan kasihan pengunjung, tempat berteduhnya masih kurang. Itu yang sekarang sedang kami usulkan,” katanya. Di sisi lain, Goa Kreo juga punya tradisi tahunan yang masih terus dijaga warga sekitar, yakni Sesaji Rewanda. Tradisi itu biasanya digelar beberapa hari setelah Lebaran sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Desa Talun.
Warga membawa gunungan berisi hasil bumi seperti ketela, kacang, buah-buahan, dan berbagai hasil panen lain sebelum diarak bersama-sama. “Sesaji Rewanda itu bentuk syukur warga. Sudah jadi tradisi turun-temurun di sini,” kata Sugianto.
Tak hanya wisata dan budaya, geliat ekonomi warga sekitar juga mulai tumbuh bersama ramainya pengunjung. Beberapa kios UMKM milik warga kini mulai dibangun di kawasan wisata.
Salah satu yang sedang dipersiapkan menjadi kuliner khas Goa Kreo adalah “Sego Ketek”, makanan sederhana berupa nasi urap yang dibungkus daun jati. “Harapannya nanti orang datang ke Goa Kreo bukan cuma lihat monyet atau bendungan, tapi juga ingat makanan khasnya,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski masih menghadapi kendala akses transportasi menuju lokasi wisata, Sugianto optimistis Goa Kreo perlahan bisa semakin dikenal luas. Baginya, Goa Kreo bukan hanya soal destinasi wisata. Tempat itu juga menyimpan cerita, tradisi, dan jejak sejarah yang masih hidup hingga hari ini. (dul)

