Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Dari Panggung ke Kera: Cara Semarang Bikin Tradisi Tetap ‘Hidup’
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Plesir

Dari Panggung ke Kera: Cara Semarang Bikin Tradisi Tetap ‘Hidup’

Kalau biasanya tradisi cuma jadi tontonan tahunan, di Semarang ceritanya beda. Ada yang bikin ritual jadi relate, seni jadi nyambung, dan wisata jadi punya makna. Akhir pekan ini, Goa Kreo bukan cuma tempat jalan-jalan, tapi panggung besar antara budaya, alam, dan kreativitas.

T. Budianto
Last updated: Maret 27, 2026 7:26 pm
By T. Budianto
3 Min Read
Share
SESAJI REWANDA: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menghadiri tradisi Sesaji Rewanda di Gunungpati, Semarang, tahun lalu. (Foto: Pemkot Semarang)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Pemkot Semarang lagi-lagi bikin gebrakan dengan meramu dua dunia jadi satu paket: seni modern dan ritual tradisi. Lewat Mahakarya Goa Kreo dan Sesaji Rewanda, kawasan Gunungpati bakal jadi spot paling “hidup” akhir pekan ini.

Rangkaian acara dimulai dari pagelaran Mahakarya Legenda di Plaza Kandri, Jumat (27/3/2026) malam. Ini bukan sekadar pentas biasa, tapi panggung buat generasi muda mengemas ulang cerita legenda jadi lebih fresh dan artistik.

Lanjut ke esok paginya, Sabtu (28/3), suasana langsung berubah jadi lebih sakral lewat ritual tahunan Sesaji Rewanda di Goa Kreo. Di sinilah tradisi lama “dihidupkan” lagi, bukan cuma dikenang.

Baca juga: Cap Go Meh di Semarang: Bukan Sekadar Barongsai, Tapi Panggung Harmoni Warga Jateng

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bilang, kalau kolaborasi ini memang sengaja dirancang biar budaya nggak ketinggalan zaman. “Kami nggak mau tradisi cuma jadi cerita lama. Mahakarya Goa Kreo itu ruang ekspresi anak muda, sementara Sesaji Rewanda jadi cara kita tetap nyambung sama nilai spiritual dan alam,” jelasnya.

Prosesi sakral dimulai dari kirab yang bergerak dari Masjid Al-Mabrur menuju Goa Kreo. Yang bikin unik, ada replika kayu jati yang dipikul delapan orang, simbol dari perjuangan dakwah Sunan Kalijaga. Rombongan ini juga ditemani sembilan Santri Kanjengan dan sosok ikonik Kera Bangbintulu.

Punya Makna

Bukan cuma simbolik, semua elemen di kirab ini punya makna. Kayu jati itu menggambarkan pentingnya gotong royong, sementara keberadaan kera di Goa Kreo jadi pengingat hubungan manusia dengan alam yang nggak boleh putus.

Tahun ini, ada enam gunungan yang ikut dikirab: mulai dari gunungan hasil bumi, buah, nasi kuning, sampai kupat lepet. Setelah didoakan, gunungan itu dipersembahkan ke kawanan kera sebagai bentuk “sedekah alam”, baru kemudian diperebutkan warga yang percaya ada berkah di dalamnya.

Baca juga: Wisatawan Jateng Udah Lumayan, Tembus 53 Juta, tapi…

Selain sisi budaya, Pemkot juga nggak lupa efek ekonominya. Dengan acara malam sampai pagi, wisatawan punya alasan buat stay lebih lama di Desa Wisata Kandri, yang artinya perputaran ekonomi warga lokal ikut naik.

“Ini bukan cuma soal tradisi, tapi juga soal dampaknya ke masyarakat. Wisata hidup, budaya jalan, warga ikut merasakan,” tambah Agustina. Pemkot pun ngajak masyarakat buat datang langsung, bukan cuma lihat dari layar. Karena pengalaman menyaksikan ritual kayak gini, jelas beda vibes-nya.

Di tengah zaman yang serba digital, ternyata yang bikin orang betah bukan cuma wifi kencang, tapi juga tradisi yang “di-upgrade” tanpa kehilangan ruhnya. Jadi ya, kadang yang bikin budaya tetap hidup itu bukan sekadar dilestarikan… tapi dikasih panggung biar nggak kalah sama konser dan konten viral. (tebe)

You Might Also Like

Beragam Spot Wisata Sejarah di Semarang, Jangan Lupa Kunjungi Little Netherlands

Brown Canyon Tembalang: Estetik Buat Foto tapi Bikin Was-was

Jateng Ngebut Siapkan Wisata Ramah Muslim

Jejak Sejarah Taman Lele Semarang: dari Kisah Perang Jawa hingga Jadi Kampung Wisata

Harimaunya Kok Tinggal Empat? Pemkot Semarang Buka Suara

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Besok Gubernur Lepas Ribuan Perantau Balik Gratis
Next Article Cerita Bahagia Perantau Balik Gratis Naik Kereta

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Panitia PSMTI Funwalk & Run Jaring Peserta ke Sejumlah Kota

ANTISIPASI VIRUS--Selebaran berisi edukasi pencegahan Hantavirus yang dibuat Polda Jateng. (ist)

Hantavirus Lagi Rame, Semarang Masih Aman tapi . . . .

Kalapas Purwodadi Ajak WBP Hidup Sehat

Souvenir Wanginya Kebangetan, Nikahan Anak Soimah Malah Makin Ramai Dibahas

Jakarta Mulai Waspada, Hantavirus Diam-Diam Bikin Geger Warga

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Plesir

Pecinan Semarang Jadi Titik Kumpul Semua Etnis

Februari 16, 2026
Plesir

Dataran Tinggi Dieng Ramai Banget, Wisatawan Serbu Sekali Lagi

Maret 24, 2026
Pengendara motor berhenti di depan pintu masuk wisata air hangat Nglimut, Rabu (14/22026). (dul)
Plesir

Menengok Nglimut di Kendal, Tempat Favorit Warga Rehat Sejenak dari Penatnya Aktivitas

Februari 9, 2026
Plesir

Semarang Zoo Tambah Koleksi

Mei 30, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Dari Panggung ke Kera: Cara Semarang Bikin Tradisi Tetap ‘Hidup’
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?