BACAAJA, ARAB SAUDI – Perjalanan panjang menuju Tanah Suci terus berjalan, tapi di balik angka keberangkatan yang besar, ada cerita lain yang ikut menyertai. Data terbaru menunjukkan ribuan jemaah haji Indonesia sudah tiba di Arab Saudi, namun sebagian harus berjuang dengan kondisi kesehatan yang menurun.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, menyampaikan hingga awal Mei 2026, gelombang keberangkatan jemaah terus berlangsung secara bertahap dan terpantau.
Total sudah 192 kloter diberangkatkan dari berbagai embarkasi di Indonesia. Jumlahnya tidak sedikit, mencapai 74.652 jemaah dengan tambahan 765 petugas yang mendampingi selama perjalanan ibadah.
Dari angka itu, mayoritas sudah mendarat di Madinah. Tepatnya 184 kloter dengan 71.362 jemaah dan 733 petugas kini sudah berada di kota tujuan awal tersebut.
Setelah menjalani rangkaian ibadah di Madinah, pergerakan jemaah mulai bergeser menuju Makkah. Proses ini dilakukan bertahap untuk menjaga kelancaran dan kenyamanan.
Maria menjelaskan, sejauh ini 36 kloter dengan 14.503 jemaah dan 148 petugas telah tiba di Makkah untuk melanjutkan rangkaian ibadah.
“Untuk pergerakan jemaah dari Madinah ke Makkah berlangsung secara bertahap,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Di Makkah, jemaah akan menjalani umrah wajib sekaligus mempersiapkan diri menuju puncak haji yang akan berlangsung di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Namun di tengah perjalanan spiritual ini, kondisi kesehatan jemaah jadi perhatian serius. Data menunjukkan ada 6.823 jemaah yang dilaporkan sakit.
Jumlah tersebut cukup besar dan menjadi fokus pemantauan tim kesehatan yang bertugas di lapangan.
Dari total jemaah yang sakit, sebanyak 117 orang harus dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia untuk penanganan lebih lanjut.
Tak berhenti di situ, kondisi sebagian jemaah membutuhkan perawatan yang lebih intensif hingga harus dirujuk ke rumah sakit setempat.
Sebanyak 141 jemaah tercatat dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi.
Dari jumlah tersebut, hingga saat ini masih ada 59 jemaah yang menjalani perawatan intensif dan terus dipantau perkembangannya.
Maria menegaskan bahwa kondisi para jemaah yang dirawat masih dalam pengawasan ketat tenaga medis.
Selain kabar jemaah sakit, kabar duka juga datang dari Tanah Suci. Hingga 2 Mei 2026, tercatat tujuh jemaah haji Indonesia meninggal dunia.
“Kami turut menyampaikan hingga saat ini total jemaah yang wafat sebanyak tujuh orang,” kata Maria.
Penyebab wafatnya jemaah beragam, namun sebagian besar dipicu oleh penyakit serius yang menyerang di tengah kondisi fisik yang menurun.
Serangan jantung dan radang paru-paru menjadi penyebab dominan dalam kasus yang terjadi.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya soal kesiapan mental dan spiritual, tapi juga fisik yang benar-benar prima.
Pemerintah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memastikan bahwa seluruh jemaah yang wafat tetap mendapatkan hak ibadahnya.
Badal haji akan dilakukan untuk mewakili jemaah yang tidak sempat menyelesaikan rangkaian ibadah secara langsung.
Doa pun terus mengalir untuk para jemaah yang wafat, agar mendapatkan husnul khotimah dan tempat terbaik di sisi-Nya.
Di sisi lain, keluarga yang ditinggalkan di Tanah Air juga diharapkan diberikan ketabahan dalam menghadapi kabar duka ini.
Perjalanan haji tahun ini pun jadi potret lengkap, antara harapan, perjuangan, dan ujian yang berjalan beriringan.
Dan di balik angka-angka yang terus bertambah, ada ribuan kisah yang sedang ditulis di Tanah Suci, masing-masing dengan cerita dan takdirnya sendiri. (*)

