BACAAJA, SEMARANG – Arah pembangunan Kota Semarang dalam 20 tahun ke depan menjadi perhatian pakar Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Mila Karmilah.
Dia menilai pemerintah perlu menjelaskan rencana pengembangan kota kepada masyarakat, termasuk dampak pembangunan Giant Sea Wall terhadap kawasan pesisir.
Menurut Mila, Semarang perlu mengantisipasi perubahan yang mungkin terjadi akibat pembangunan tanggul laut raksasa tersebut.
Salah satu persoalan yang perlu diperhitungkan ialah nasib nelayan di pesisir yang berpotensi terdampak.
“Bagaimana mereka menyikapi terkait dengan Giant Sea Wall, terkait dengan teman-teman nelayan yang nanti akan terdampak dan sebagainya,” kata Mila, Selasa (3/11/2026).
Dia mengingatkan, pemerintah perlu memikirkan dampak proyek tersebut meski Pemkot Semarang tidak memiliki dinas khusus yang menangani urusan kelautan.
Selain itu, Mila menyoroti keterbukaan dokumen rencana tata ruang. Menurut dia, masyarakat belum bisa mengakses seluruh dokumen yang menunjukkan arah pembangunan Semarang dalam 20 tahun ke depan.
Padahal, Semarang memiliki 10 Bagian Wilayah Kota (BWK) dan 16 kecamatan. Namun, dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang dapat diakses secara umum baru tersedia untuk satu wilayah.
“Berarti 15 kecamatan lain kondisinya seperti apa, pembangunan ke depannya? Apakah masih ke arah kota modern berskala internasional, perdagangan dan jasa, atau ke arah yang lain,” ujarnya.
Mila menilai pemerintah perlu membuka rencana pengembangan setiap wilayah agar masyarakat mengetahui arah pembangunan kota. Dengan begitu, warga juga dapat memahami perubahan yang mungkin terjadi di lingkungan mereka. (bae)

