BACAAJA, SEMARANG – SD Negeri Purwoyoso 1 hanya menerima tiga siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027. Namun, pihak sekolah menilai minimnya peserta didik bukan karena kualitas sekolah atau fasilitas yang kurang memadai.
Kepala SDN Purwoyoso 1, Hajar Ristianni mengatakan, penyebab utamanya adalah perubahan demografi di sekitar lingkungan sekolah. Lokasi sekolah yang berada di tepi Jalan Prof Hamka, Kecamatan Ngaliyan kini didominasi warga lanjut usia.
Baca juga: Daya Tampung Siswa Baru Kota Semarang Naik 15 Persen
“Di lingkungan sini tidak ada perumahan produktif. Rata-rata usianya sudah lansia, tidak punya anak yang usia kelas 1. Kalaupun ada, siswa mendaftar ke SDN Purwoyoso 2 yang lokasinya masuk di kampung,” ujarnya, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, banyak keluarga muda di Kota Semarang memilih tinggal di kawasan pinggiran yang memiliki perumahan baru, terutama perumahan subsidi di wilayah Kecamatan Mijen hingga Kabupaten Kendal. Kondisi itu ikut mengurangi jumlah calon siswa di sekitar sekolah.
Limpahan Siswa
Jika tahun lalu SDN Purwoyoso 1 masih menerima 11 siswa baru dan mendapat tambahan satu siswa limpahan dari sekolah lain, tahun ini kondisi tersebut tak lagi terjadi. “Di kami hanya satu rombongan belajar (rombel). Di sekolah lain setahu kami juga kekurangan siswa, jadi tidak ada limpahan dari sekolah lain,” katanya.
Ia menegaskan, dari sisi sarana dan prasarana, sekolah tidak memiliki kendala. Seluruh ruang kelas tersedia, lengkap dengan laboratorium komputer, perpustakaan, ruang UKS, musala, lapangan olahraga, hingga ruang guru dan ruang kepala sekolah.
Baca juga: SDN Purwoyoso 1 Cuma Terima 3 Murid Baru, MPLS Tetap Dibikin Serasa Pesta
Sekolah juga telah dilengkapi Smart TV bantuan pemerintah yang dimanfaatkan untuk menunjang proses belajar mengajar. “Jadi untuk fasilitas kami lengkap sebenarnya, jadi ya karena demografi itu faktor kami hanya menerima siswa sedikit,” imbuhnya.
Selama ini sekolah sering dituding kalah bersaing karena fasilitas atau kualitas. Padahal di Purwoyoso, masalahnya justru lebih sederhana: bangunannya masih ramai, tapi anak-anaknya sudah pindah mengikuti tumbuhnya perumahan baru. Sebab sekolah tak pernah bisa memilih murid, hanya bisa menunggu mereka datang. (bae)

