BACAAJA, JAKARTA — Ingat ya! Gus Dur jadi Pahlawan Nasional bukan karena pernah menjabat sebagai Presiden Indonesia.
Bagi banyak orang, Gus Dur dikenal sebagai Presiden ke-4 RI.
Tapi penghargaan Pahlawan Nasional yang baru aja dianugerahkan ke beliau tahun ini, bukan karena kursi presiden, melainkan karena perjuangannya membela kemanusiaan, demokrasi, dan keberagaman.
Tahun 2001, di tengah gejolak demo besar yang menuntut dirinya turun dari kursi presiden, Gus Dur sempat bilang ke putrinya, Alissa Wahid, kalau dia bakal tetap bertahan.
“Kita itu memperjuangkan konstitusi. Kebenaran enggak bisa di-voting,” katanya.
Tapi begitu tahu ribuan santri siap “syahid” membelanya, Gus Dur langsung berubah pikiran. Ia bilang ke anaknya:
“Wis, Nak. Enggak ada jabatan yang layak dipertahankan dengan pertumpahan darah rakyat. Kita keluar.”
Dengan kaus oblong dan celana pendek, Gus Dur keluar dari Istana, melambaikan tangan, dan memilih jalan damai. Sebuah simbol: jabatan bisa ditinggalkan, tapi kemanusiaan enggak.
Jauh sebelum duduk di Istana, Gus Dur udah dikenal sebagai sosok yang berani bersuara lewat humor.
Di masa Orde Baru, dia menyindir kekuasaan lewat cerita lucu, tentang rakyat yang disuruh ketawa saat presiden tamu melucu, karena kalau enggak, bisa dihukum. Sindiran halus, tapi tajam.
Dan saat jadi presiden, Gus Dur justru buka pintu buat kebebasan. Ia mencabut larangan perayaan Imlek dan memberi ruang bagi warga Tionghoa untuk tampil di ruang publik.
Langkah kecil tapi berdampak besar, pluralisme enggak lagi cuma teori.
Tanggal 10 November 2025, di Hari Pahlawan, nama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) resmi masuk daftar Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres Nomor 116/TK/2025.
“Gus Dur berjuang untuk kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme,” ujar narator Istana saat upacara.
Keluarga Gus Dur yang hadir —Nyai Sinta Nuriyah dan Yenny Wahid— menyebut, penghargaan ini bukan soal jabatan, tapi soal nilai.
“Beliau bukan jadi pahlawan karena presiden. Tapi karena perjuangannya membela yang lemah dan menjaga kemanusiaan,” tegas Yenny.
Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009 dan dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang.
Di nisannya tertulis: “Di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan.”
Tulisan itu terpahat dalam empat bahasa: Indonesia, Arab, Inggris, dan Mandarin.
Sampai sekarang, semangat itu masih hidup. Gus Dur ngajarin kita bahwa jadi pahlawan enggak perlu jabatan tinggi.
Cukup hati yang besar, keberanian untuk jujur, dan cinta yang tulus buat sesama.
“Semoga teladan beliau terus hidup dalam setiap langkah kecil kita untuk menjaga kemanusiaan dan persaudaraan di bumi Indonesia,” Yenny Wahid. (*)

