BACAAJA, SEMARANG-Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang membongkar bangunan yang dijadikan hunian dan tempat usaha liar di bawah Flyover Tanjungmas di Jalan Arteri Yos Sudarso, Semarang Timur dan Utara.
Petugas mengangkut kasur hingga mesin cuci. Seng dan triplek beterbangan kena “garuk” ekskavator. Sebagian warga sibuk nyelametin barang, sebagian cuma bisa bengong lihat “rumah” mereka rata dengan tanah.
Puluhan bangunan liar yang berdiri di bawah Jalan Arteri Yos Sudarso, tepatnya di wilayah perbatasan Kemijen dan Tanjung Mas, akhirnya ditertibkan Satpol PP Kota Semarang. Bangunan-bangunan itu selama ini dipakai buat tempat tinggal sekaligus usaha.
Baca juga: Penertiban Truk Besar di Ngaliyan, Dishub Gerak Cepat atau Sudah Terlambat?
Kasatpol PP Kota Semarang, Kusnandir bilang, penertiban ini udah lama direncanakan. Bahkan warga disebut sudah berkali-kali dapat peringatan dari pihak kelurahan maupun Satpol PP. “Kurang lebih tahap pertama ini ada 30 bangunan yang dibongkar,” katanya di lokasi.
Dari total bangunan yang ditertibkan, sekitar 15 di antaranya dipakai buat hunian. Sisanya jadi tempat usaha dadakan di bawah flyover.
Menurut Kusnandir, warga sebenarnya sudah diberi waktu buat bongkar mandiri sejak beberapa waktu lalu. Sosialisasi juga disebut udah jalan berbulan-bulan. Tapi sampai hari H pembongkaran, bangunan masih berdiri lengkap.
Alat Berat
Makanya, Kamis, (7/5/2026) siang itu alat berat langsung turun tangan. Dua ekskavator dikerahkan buat merobohkan bangunan sekaligus bersihin tumpukan sampah di area bawah jembatan.
Alasan penertiban ini bukan cuma soal bangunan liar. Pemkot menyebut kawasan tersebut cukup rawan karena berada tepat di bawah jalur arteri nasional Semarang yang jadi penghubung ekonomi Jakarta-Surabaya.
Baca juga: Asap Sate di Malioboro Bikin Gerah dan Dikeluhkan, Petugas Langsung Tertibkan!!
Kalau sampai ada kebakaran atau ledakan di bawah flyover, dampaknya bisa bahaya ke struktur jalan layang maupun aktivitas lalu lintas nasional. Belum lagi, di bawah area itu ternyata ada jaringan gas nasional. Risiko kebocoran atau ledakan jadi salah satu alasan kenapa kawasan tersebut dianggap nggak layak buat tempat tinggal.
Di sisi lain, penggusuran ini lagi-lagi nunjukin satu hal klasik di kota besar: selama masih ada ruang kosong, selalu ada yang berusaha bertahan hidup di situ. Bedanya, kali ini “kontrakannya” berdiri tepat di bawah jalur ekonomi nasional. Dan negara jelas nggak bakal kasih opsi cicilan buat tinggal di bawah flyover. (tebe)

