BACAAJA, SEMARANG- Kehadiran bus listrik mulai dipandang sebagai salah satu solusi untuk mengurangi polusi udara di perkotaan. Aktivis lingkungan dan Ketua Partai Hijau Indonesia (PHI) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Jawa Tengah Robertus Aditya menilai peralihan armada transportasi umum dari bahan bakar solar ke listrik dapat memberikan dampak positif bagi kualitas lingkungan, khususnya di Kota Semarang.
Menurutnya, sektor transportasi masih menjadi salah satu penyumbang emisi yang cukup besar. Karena itu, penggunaan bus listrik dapat membantu menekan pencemaran udara yang selama ini dirasakan masyarakat, terutama di kawasan padat aktivitas dan halte transit.
Baca juga: Elektrifikasi Trans Semarang Dipuji, Agustina: Langkah Nyata Menuju Transportasi Hijau
“Kalau memang memungkinkan seluruh transportasi umum digantikan dengan kendaraan listrik, tentu akan lebih efektif untuk mengurangi emisi dan polusi udara,” ujarnya. Senin (22/6/2026).
Aditya menjelaskan bahwa selama ini sebagian besar armada transportasi umum masih menggunakan bahan bakar minyak yang menghasilkan gas buang. Kehadiran bus listrik dinilai dapat menjadi langkah maju menuju transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Perhitungkan Anggaran
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kebijakan tersebut tetap harus dihitung secara matang. Selain biaya pengadaan armada, pemerintah juga perlu memperhatikan biaya operasional dan perawatan yang nantinya dapat memengaruhi anggaran daerah maupun tarif transportasi bagi masyarakat.
“Jangan sampai nanti biaya operasional meningkat lalu berdampak pada tarif yang harus dibayar masyarakat,” katanya. Ia juga menilai kualitas layanan harus tetap menjadi perhatian. Menurutnya, peralihan ke kendaraan listrik tidak boleh mengorbankan kenyamanan dan performa armada yang digunakan masyarakat setiap hari.
Baca juga: Transportasi Hijau Tak Cukup Bermodal Baterai
Jika kualitas layanan tetap terjaga dan biaya operasional dapat dikendalikan, Robert meyakini bus listrik dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengurangi polusi udara di Semarang.
“Yang penting kualitasnya tetap baik dan manfaat lingkungannya benar-benar terasa,” pungkasnya. Akhirnya kita bukan cuma mikirin “busnya nggak ngebul lagi”, tapi juga siap nggak nih ngurusin ‘ngebul versi baru’ yang datangnya dari baterai bekasnya nanti.
Bus listrik memang bisa menghilangkan asap knalpot. Tapi kalau semangatnya cuma berhenti saat gunting pita dipotong, yang bersih nanti mungkin cuma panggung peresmiannya, bukan udaranya. (dul)

