BACAAJA, SEMARANG– Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng mencatat tren positif perekonomian provinsi ini sepanjang semester pertama 2026. Selain ekonomi tumbuh 5,71 persen, jumlah penduduk miskin juga kembali menurun.
Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin di Jateng pada Maret 2026 tercatat 3,29 juta jiwa atau 9,21 persen dari total penduduk. Angka tersebut turun sekitar 59.390 orang dibandingkan September 2025 dan berkurang 81.250 orang jika dibandingkan Maret 2025.
Kepala BPS Jateng, Ali Said menjelaskan, penurunan itu juga terlihat dari persentase tingkat kemiskinan yang kini berada di angka 9,21 persen. Sebelumnya, tingkat kemiskinan tercatat 9,39 persen pada September 2025 dan 9,48 persen pada Maret 2025.
Baca juga: Luthfi Ajak Kadin Jateng Perangi Kemiskinan
“Berdasarkan garis kemiskinan tersebut, pada Maret 2026 terdapat sebanyak 3,29 juta penduduk miskin di Jawa Tengah. Dibandingkan September 2025 jumlah penduduk miskin turun 59.390 orang dan dibandingkan Maret 2025 turun 81.250 orang,” ujar Ali dalam konferensi pers daring, Rabu (5/8/2026).
Menurut Ali, penghitungan kemiskinan menggunakan pendekatan basic needs approach atau pemenuhan kebutuhan dasar. Melalui metode tersebut, garis kemiskinan di Jateng ditetapkan sebesar Rp596.676 per kapita per bulan, sedangkan rata-rata kebutuhan satu rumah tangga miskin mencapai Rp2.571.674 per bulan.
BPS juga mencatat kebutuhan makanan masih menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Komoditas seperti beras, telur ayam, daging ayam, tempe, gula pasir, mi instan hingga rokok kretek filter masih menjadi pengeluaran utama masyarakat.
Tingkat Kemiskinan
Sementara untuk kebutuhan nonmakanan, sektor perumahan masih mendominasi. Ali juga mengungkapkan tingkat kemiskinan di perkotaan masih lebih rendah dibandingkan pedesaan.
Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin di wilayah perkotaan tercatat 8,59 persen, sedangkan di pedesaan mencapai 9,96 persen. Di sisi lain, performa ekonomi Jateng juga menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Pada triwulan II 2026, ekonomi Jateng tumbuh 5,71 persen secara tahunan (year on year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen.
Baca juga: Luthfi Ajak Kadin Jateng Perangi Kemiskinan
Jika dibandingkan triwulan sebelumnya, ekonomi Jateng tumbuh 1,72 persen, sedangkan secara kumulatif semester I 2026 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,80 persen.
Ali mengatakan capaian tersebut membuat Jateng menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional. Saat ini kontribusi Jateng terhadap perekonomian Pulau Jawa mencapai 14,50 persen, sedangkan terhadap perekonomian nasional sebesar 8,19 persen. Angka itu menempatkan Jateng sebagai penyumbang ekonomi terbesar keempat di Indonesia.
Ekonomi memang sedang berlari lebih kencang dan angka kemiskinan perlahan turun. Tapi pekerjaan belum selesai. Sebab, pertumbuhan baru benar-benar terasa kalau bukan hanya grafik yang naik, melainkan isi dompet masyarakat juga ikut bergerak. (tebe)

