BACAAJA, SEMARANG- Semarang lagi ada di fase “naik kelas”. Industri hiburan tumbuh cepat, tempat-tempat nongkrong bermunculan dari yang santai sampai premium. Kota Atlas ini makin serius ngejar posisi jadi kota lifestyle.
Ketua Paguyuban Entertainment Semarang, Fic Indarto bilang, perkembangan ini memang terasa ngebut dalam beberapa tahun terakhir. Harapannya, Semarang bisa sejajar sama kota besar lain soal hiburan dan gaya hidup. Tapi… ceritanya nggak sesimpel itu.
Baca juga: HUT ke-9 Pagersemar: Bukan Cuma Bisnis Hiburan, Tapi Bikin Kota Lebih Hidup
Pasca pandemi, pola “main” warga ikut berubah. Nongkrong sekarang nggak harus mahal, kafe, resto, sampai bottle shop yang lebih ramah kantong justru makin diminati. Ditambah lagi tren hidup sehat yang lagi naik, bikin pilihan hiburan ikut bergeser.
Nggak cuma party, tapi juga aktivitas kayak biliar atau padel yang fun tapi tetap aktif. Meski berubah arah, sektor hiburan tetap jadi mesin ekonomi. Dampaknya terasa luas, lapangan kerja kebuka, bisnis kecil ikut kecipratan, dari kuliner sampai laundry.
Belum Berizin
Dari sisi aturan, sistem OSS dinilai cukup membantu. Tapi masih ada PR besar: banyak tempat hiburan kecil-menengah yang belum berizin dan butuh solusi biar nggak terus jalan di “jalur abu-abu”.
Soal kebijakan, Pemkot Semarang, menurut Indarto dinilai cukup ramah investasi. Komunikasi juga jalan, walau belum semua aspirasi pelaku usaha bisa langsung diakomodasi, misalnya soal jam operasional di momen tertentu kayak Ramadan.
Disinggung soal persaingan usaha, Indarto mengaku masih dalam situasi yang wajar. Justru menurutnya dengan adanya pemain baru, menuntut pelaku usaha lama melakukan inovasi.
Baca juga: Jam Operasional Tempat Hiburan Resmi Disetel Mode Ramadan
Satu hal yang menjadi fokus adalah soal pajak usaha. Menurutnya, pajak membuat pelaku usaha ekstra hati-hati ngatur strategi. Belum lagi stigma negatif soal dunia hiburan yang masih nempel di sebagian masyarakat. Akhirnya, satu-satunya cara bertahan ya adaptasi. Ngikutin tren, baca pasar, dan terus upgrade layanan.
Semarang boleh makin terang dengan lampu kota dan gemerlap hiburan. Tapi di balik dentuman musik dan gelas yang saling beradu, ada pelaku usaha yang tetap main di mode “survival”, karena di kota yang katanya makin hidup, nggak semua yang bersinar itu benar-benar tenang. (tebe)
Tulisan ini bagian dari fokus utama bacaaja.co pekan ini, “Semarang di Usia 479: Antara Harapan Warga dan Tantangan Kota”. (Red)

