BACAAJA, SEMARANG – Harga rokok kembali merangkak naik, meski tarif cukai tak mengalami kenaikan. Hal ini dipicu oleh naiknya sejumlah komponen produksi lain. Semisal kertas dan plastik.
Kenaikan yang terjadi pada sejumlah merek rokok dalam beberapa waktu terakhir membuat pedagang kelontong harus menyesuaikan harga jual, sementara pembeli mulai mengeluhkan pengeluaran yang semakin bertambah.
Di tengah naiknya berbagai kebutuhan pokok, rokok menjadi salah satu barang yang paling sering mengalami penyesuaian harga. Kenaikannya memang tidak terlalu besar, berkisar antara Rp500 hingga Rp1.000 per bungkus, namun perubahan tersebut cukup terasa bagi konsumen yang membeli rokok setiap hari.
Bacaaja: Rupiah Melemah, Nasib Pedagang Kecil Ikut Tergerus: Nahan Harga, Untung Dikit Gak Apa
Bacaaja: Kelihatannya Sepele, tapi Jadi Beban Banget Buat Pelaku UMKM: Harga Plastik Naik Gila-gilaan
Masyito (50), pemilik toko kelontong di Tugurejo Semarang, mengatakan sejumlah merek rokok yang dijual di tokonya mengalami kenaikan harga secara bertahap.
“Yang naik cukup banyak. Ada Sampoerna, Dji Sam Soe, Jarum, dan beberapa merek lainnya. Kenaikannya ada yang Rp500 sampai Rp1.000,” ujarnya. Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, setiap kali harga rokok naik, pelanggan menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya. Tak sedikit pembeli yang bertanya atau bahkan mengeluhkan perubahan harga tersebut saat berbelanja.
Meski demikian, sebagian besar pelanggan tetap membeli rokok seperti biasa. Hanya saja, beberapa mulai mempertimbangkan untuk beralih ke merek yang lebih murah agar pengeluaran harian tidak semakin membengkak.
Fenomena serupa juga diamati oleh Masunah (60), pedagang sembako yang telah bertahun-tahun berjualan di Daerah Krapyak. Ia menilai rokok merupakan salah satu barang yang hampir selalu mengalami kenaikan harga dari tahun ke tahun.
“Kalau yang paling sering naik ya rokok. Dari dulu naik terus sedikit demi sedikit,” katanya.
Menurut Masunah, kenaikan harga rokok terjadi bersamaan dengan naiknya sejumlah kebutuhan lain seperti gula, beras, dan minyak goreng. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mengatur ulang pengeluaran rumah tangga, terutama untuk kebutuhan yang dikonsumsi setiap hari.
Bagi pedagang kecil, perubahan harga rokok tidak hanya soal mengganti angka di rak pajangan. Mereka juga harus menghadapi pertanyaan pelanggan, menjelaskan alasan kenaikan harga, hingga menjaga agar pembeli tetap datang ke toko.
Di sisi lain, kenaikan harga rokok menjadi gambaran bagaimana masyarakat kini menghadapi tekanan biaya hidup yang terus meningkat. Saat harga berbagai kebutuhan bergerak naik secara bersamaan, pengeluaran yang sebelumnya dianggap kecil perlahan ikut membesar.
Meski kenaikannya hanya ratusan rupiah per bungkus, bagi sebagian konsumen yang membeli rokok setiap hari, perubahan itu tetap terasa di kantong. Sementara bagi pedagang, kenaikan harga menjadi tantangan baru untuk mempertahankan pelanggan di tengah daya beli masyarakat yang semakin tertekan. (dul)

