BACAAJA, SEMARANG- Di balik aktivitas wisata speedboat dan Dermaga Kopi di kawasan Waduk Jatibarang, ada peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang selama ini menjadi penggerak utama pengelolaan kawasan.
Meski belum berada di bawah pengelolaan langsung pemerintah daerah, operasional wisata sehari-hari masih dijalankan bersama warga melalui Pokdarwis setempat.
Noval Astha (26). mengatakan sekitar 20 anggota Pokdarwis terlibat dalam berbagai aktivitas pengelolaan kawasan, mulai dari kebersihan, pengawasan lingkungan, hingga pelayanan wisatawan.
Baca juga: Dari Kafe ke Speedboat, Wisata Jatibarang Mencoba Hidup Lagi
“Kalau payung besarnya masih Pokdarwis. Jadi pengelolaan kawasan tetap melibatkan warga,” ujarnya. Sabtu (30/5/2026). Selain mengurus operasional wisata, warga juga berperan menjaga keamanan kawasan pada malam hari.
Sistem penjagaan tersebut diterapkan untuk mengantisipasi masuknya orang-orang yang tidak berkepentingan setelah area wisata tutup. “Kalau malam ada warga yang jaga. Jadi kalau ada yang mencurigakan biasanya langsung didatangi,” katanya.
Cukup Efektif
Menurutnya, sistem pengawasan itu cukup efektif menjaga kawasan wisata tetap aman. Hingga saat ini belum ada laporan gangguan keamanan yang berarti di area tersebut.
Di sisi lain, pengelola mengakui masih ada sejumlah pekerjaan rumah, terutama terkait kebersihan dan fasilitas umum seperti kamar mandi yang mulai membutuhkan perbaikan.
Baca juga: Sudah Ada Sejak 2015, Wisata Speedboat di Semarang Ternyata Banyak yang Belum Tahu
“Kami sadar masih ada yang perlu dibenahi. Kebersihan dan fasilitas umum itu yang sekarang jadi perhatian,” ujarnya. Dengan keterlibatan masyarakat setempat, pengelola berharap kawasan wisata Waduk Jatibarang bisa terus berkembang sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
Di banyak tempat, keamanan wisata bergantung pada pagar tinggi dan kamera pengawas. Di Waduk Jatibarang, yang berjaga justru tetangga sendiri.
Karena kadang sistem keamanan paling efektif bukan teknologi canggih, melainkan rasa memiliki yang membuat warga merasa kawasan itu adalah halaman rumah mereka sendiri. (dul)

