BACAAJA, SEMARANG- Banjir besar yang balik menghantam Ngaliyan dan Tugu belum lama ini bikin jalan rusak, tanggul jebol, rumah terendam, sampai menelan korban jiwa. Tapi buat peneliti Amerta Air Indonesia, masalah utamanya bukan cuma hujan deras.
Periset Amerta, Bagas Yusuf Kausan, menilai banjir yang terus berulang ini nunjukin ada yang salah dengan cara Kota Semarang ditata. Dari kawasan atas sampai hilir, semuanya disebut saling nyambung.
“Bencana ini tidak dapat dipahami semata sebagai kegagalan infrastruktur sungai. Ini adalah cerminan dari kegagalan tata ruang yang berlangsung sistemik dan struktural,” kata Bagas, Kamis (21/5/2026).
Baca juga: Semarang Jangan Terbiasa dengan Banjir dan Longsor
Sekadar latar belakang, hujan ekstrem Jumat (15/5/2026) malam bikin Sungai Plumbon dan Kali Silandak meluap bersamaan. Tanggul di Mangkang Kulon jebol sekitar 40 meter, ratusan rumah kebanjiran, dan dua warga dilaporkan meninggal dunia akibat terseret arus.
Amerta mencatat, sejak Desember 2025 sampai Mei 2026 sudah ada 18 titik tanggul jebol di sepanjang Sungai Plumbon. Tapi penanganan yang muncul dinilai masih sebatas tambal sulam pakai karung pasir dan trucuk bambu.
Menurut Bagas, kawasan atas seperti Bukit Semarang Baru (BSB) dan Podorejo sekarang makin padat perumahan. Lahan resapan yang dulu jadi penahan air hujan perlahan berubah jadi kawasan beton.
Akibatnya, air hujan nggak lagi punya ruang buat meresap. Begitu hujan deras turun, limpasan air langsung meluncur ke wilayah bawah seperti Ngaliyan dan Tugu.
Di tengah kondisi itu, Sendang Kaliancar di Podorejo juga disebut ikut terancam pembangunan. Padahal mata air itu selama ini jadi penopang kebutuhan warga dan punya fungsi ekologis penting.
Alih Fungsi
“Jika kawasan atas mengalami alih fungsi lahan cukup masif, apakah sungai yang ada mampu menampung air hujan? Jika hujan intensif dan lama apakah fungsi resapan daerah atas masih berfungsi?” ujarnya.
Selain soal kawasan resapan, Amerta juga menyoroti Ngaliyan yang sekarang berkembang jadi koridor industri padat. Truk-truk besar lalu lalang tiap hari di ruas jalan yang dinilai belum siap menopang aktivitas sebesar itu.
Menurut Bagas, pembangunan kawasan industri berjalan cepat, tapi kesiapan infrastruktur justru jalan di tempat. Dampaknya bukan cuma banjir, tapi juga risiko kecelakaan dan kerusakan jalan yang makin sering terjadi.
Baca juga: Pemkot Salurkan Bantuan Korban Banjir Tugu dan Ngaliyan
Sementara di bagian hilir, Sungai Plumbon sekarang jadi benteng terakhir yang dipaksa menahan semua limpasan air dari kawasan atas. Masalahnya, benteng itu sudah berkali-kali jebol.
Pemerintah memang sudah punya rencana normalisasi sungai sejak 2024. Tapi sampai sekarang prosesnya masih seret karena pembebasan lahan belum selesai seluruhnya.
Bagas mengingatkan, solusi banjir juga nggak bisa cuma mengandalkan pengerukan sungai atau proyek beton. Menurutnya, pengalaman normalisasi Kali Bringin menunjukkan solusi teknis tanpa mempertimbangkan dampak sosial malah bisa bikin masalah baru buat warga sekitar.
“Solusi teknis yang tidak mempertimbangkan dimensi sosial hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya,” tegasnya.
Di saat hujan makin ekstrem dan beton makin luas, Semarang seperti sedang menghadapi ironi sendiri: kota terus tumbuh ke atas, tapi airnya justru makin nggak punya tempat pulang. (bae)

