BACAAJA, SEMARANG- Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menghadiri pelantikan pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Semarang periode 2026-2029 di Ruang Borobudur LPPM Unnes Semarang, Kamis (21/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Agustina mendorong pengurus baru ISEI ikut bersinergi mendukung program “Waras Ekonomi” yang menjadi salah satu fokus Pemkot Semarang.
Menurutnya, program tersebut dirancang untuk memperkuat ekonomi masyarakat secara lebih sehat, merata, dan berkelanjutan. “Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan praktisi ekonomi seperti ISEI sangat krusial,” kata Agustina.
Baca juga: Ekonomi Semarang 5,37 Persen: Nggak Ngebut Banget, Tapi Konsisten
Ia menjelaskan, Waras Ekonomi bukan sekadar slogan, tetapi upaya menjaga ekosistem UMKM tetap sehat, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, sekaligus membuka lapangan kerja yang lebih inklusif.
Karena itu, Agustina berharap para akademisi dan praktisi ekonomi tidak hanya berhenti pada diskusi seminar, tetapi ikut memberi rekomendasi dan pendampingan nyata di lapangan.
“Kami berharap ISEI Semarang bisa menjadi mitra strategis dalam merumuskan kebijakan yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga,” ujarnya.
Pataka Organisasi
Pelantikan tersebut juga ditandai dengan penyerahan pataka organisasi dari Ketua ISEI periode sebelumnya, Prof Dr Suharnomo kepada Ketua ISEI Cabang Semarang periode 2026-2029, Prof Dr Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti.
Selain prosesi pelantikan, kegiatan juga diisi Seminar Nasional bertema penguatan ekonomi Jawa Tengah melalui sinergi antar pihak. Seminar menghadirkan sejumlah narasumber seperti Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Noor Nugroho dan anggota Dewan Komisioner LPS Doddy Zulverdi. Acara turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Akademik Unnes, Prof Zaenuri, mewakili Rektor Unnes.
Baca juga: Hari Jadi ke-479 Semarang, Kesenjangan Ekonomi Masih Mengintai
Lewat kepengurusan baru ISEI, Pemkot Semarang berharap lahir lebih banyak gagasan ekonomi yang tidak hanya bagus di atas kertas, tetapi benar-benar terasa manfaatnya bagi masyarakat.
Sebab di tengah ekonomi yang kadang bikin warga “pusing tujuh keliling”, pemerintah tampaknya sadar satu hal: ekonomi bukan cuma soal angka tumbuh, tapi juga soal dapur warga tetap bisa ngebul tanpa drama. (tebe)

