BACAAJA, SEMARANG- Piala Dunia bukan sekadar ajang mencari juara. Turnamen empat tahunan ini juga menjadi momen ketika orang-orang dari berbagai negara, budaya, hingga latar belakang bisa larut dalam semangat yang sama.
Pengamat olahraga, Amir Machmud NS menilai, kekuatan itu sudah melekat pada olahraga ini sejak lama. Menurutnya, perbedaan seolah melebur ketika pertandingan dimulai.
“Sepak bola ini menjadi pemersatu. Tidak pandang sekat apa pun, apakah geografi, ras, suku, agama. Betul-betul menjadi olahraga yang menyatukan semuanya,” kata Amir saat dimintai komentar via telepon, Sabtu (20/6/2026).
Baca juga: Gempita Piala Dunia 2026: Ketika Semarang Ikut Bermain di Luar Lapangan
Ia mengatakan setiap negara memiliki cara berbeda dalam mendukung tim favoritnya. Namun, semuanya memiliki satu tujuan yang sama, yakni menikmati pertandingan dan merasakan atmosfer kompetisi terbesar di dunia tersebut.
“Bangsa mana pun atas nama sepak bola ini menyimpan mindset yang sama, kehendak yang sama,” ujarnya. Menurut Amir, daya tarik itu membuat Piala Dunia selalu menjadi agenda yang dinanti dari generasi ke generasi.
Bahan Obrolan
Fenomena tersebut sudah terlihat sejak penyelenggaraan di Jerman Barat pada 1974 dan terus berlanjut hingga sekarang. Tak hanya menghadirkan tontonan, Piala Dunia juga memunculkan obrolan di berbagai sudut kota.
Mulai dari warung kopi, kantor, kampus, hingga lingkungan permukiman kembali ramai dengan diskusi soal pertandingan, prediksi skor, dan tim unggulan.
Amir menilai suasana seperti itu bisa menjadi energi positif bagi perkembangan olahraga di Indonesia. Antusiasme masyarakat, menurutnya, dapat menjadi motivasi untuk memperbaiki pembinaan dan meningkatkan kualitas kompetisi di dalam negeri.
Baca juga: Mau Nobar Piala Dunia? Jangan Asal Kumpul, Wajib Punya Lisensi
“Piala Dunia adalah event yang ditunggu-tunggu karena nanti akan memotivasi dan memberikan inspirasi bagi sepak bola lokal untuk mengembangkan diri,” pungkasnya.
Piala Dunia memang hanya berlangsung beberapa pekan, tetapi kualitas sepak bola Indonesia ditentukan oleh apa yang terjadi setelah sorak-sorai nobar usai. Sebab, mimpi tampil di panggung dunia tak lahir dari euforia, melainkan dari kompetisi yang benar-benar dibangun dengan serius. (bae)

