Yuli Retno Indah Peratiwi adalah mahasiswi Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang. Tinggal di Jalan Gajah, Semarang.
Kesalahpahaman itu muncul karena Kejawen kerap dipandang hanya dari sisi mistisnya.
Belakangan ini, banyak anak muda berlomba-lomba “healing” ke gunung. Di sisi lain, tidak sedikit dari mereka yang malu mengakui masih menjalankan tradisi Jawa, tetapi rajin mengecek zodiak, tarot, atau konten manifestasi di TikTok.
Ironisnya, yang datang dari luar negeri sering dianggap modern, sedangkan yang tumbuh di halaman sendiri justru dicap kuno bahkan sesat. Padahal, Kejawen bukan agama tandingan dan bukan pula sekadar praktik klenik. Kejawen merupakan sistem nilai sekaligus filosofi hidup yang telah lama membentuk cara pandang masyarakat Jawa.
Dengan demikian, Kejawen dan agama-agama resmi di Indonesia bukan dua rel yang saling bertabrakan, melainkan dua bahasa yang menerjemahkan kegelisahan spiritual manusia Jawa yang sama.
Kesalahpahaman itu muncul karena Kejawen kerap dipandang hanya dari sisi mistisnya. Padahal, dalam sejarah kebudayaan Jawa, nilai-nilai Kejawen justru banyak berharmonisasi dengan ajaran agama.
Konsep sinkretisme, menurut KBBI, merupakan perpaduan beberapa paham untuk mencari keserasian. Dalam Islam Jawa, tradisi seperti slametan, tahlilan, dan sedekah bumi menjadi bentuk akulturasi budaya selama tetap berorientasi kepada Allah dan tidak mengubah akidah.
Penelitian mengenai penyebaran Islam di Jawa, termasuk melalui pendekatan yang dikaitkan dengan Syekh Siti Jenar, menunjukkan bahwa penyesuaian terhadap budaya lokal membuat dakwah lebih mudah diterima masyarakat.
Hal serupa juga tampak dalam Kristen Jawa. Walaupun sinkretisme sering dipandang secara kritis karena dikhawatirkan mencampurkan ajaran pokok agama, unsur budaya Jawa tetap dapat dimanfaatkan selama tidak mengubah inti keimanan.
Selain itu, tembang macapat menjadi media penyampaian nasihat religius yang menggambarkan perjalanan hidup manusia, sedangkan wayang dimanfaatkan Sunan Kalijaga sebagai sarana dakwah dengan memasukkan nilai kejujuran, ketakwaan, dan tanggung jawab.
Bahkan, tradisi ziarah di sejumlah daerah masih menjadi ruang kebersamaan lintas agama. Semua contoh tersebut memperlihatkan bahwa Kejawen lebih tepat dipahami sebagai bahasa lokal untuk menghayati ajaran universal agama. Bukan sebagai pesaingnya.
Menariknya, anak muda hari ini cenderung lebih mudah menerima spiritualitas impor, seperti astrologi Barat, buku self-help, atau mindfulness korporat, tanpa banyak curiga. Namun, mengapa manifestasi di TikTok sering dianggap masuk akal, sementara tapa langsung dicurigai sebagai praktik berbahaya?
Padahal, nilai-nilai Kejawen seperti narima, sumeleh, serta eling lan waspada memiliki keselarasan dengan konsep kesehatan mental modern, seperti acceptance, mindfulness, self–awareness, hingga pengendalian emosi. Bedanya, istilahnya saja yang lokal sehingga terdengar kurang “estetik” di linimasa.
Lucunya, sebagian orang lebih takut terkena santet daripada menyerahkan kode OTP kepada penipu yang jelas-jelas nyata. Kita rela membayar mahal untuk “self-care ritual”, tetapi menganggap selametan sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman.
Mungkin yang sebenarnya perlu disembuhkan bukan Kejawennya, melainkan cara kita memandang warisan budaya sendiri.
Pada akhirnya, Kejawen bukan ancaman bagi iman, melainkan salah satu kekayaan cara beriman ala Nusantara. Mengenal Kejawen bukan berarti berpindah keyakinan, melainkan memperkaya cara memahami nilai-nilai kehidupan yang telah lama hidup berdampingan dengan agama. Sebab, warisan budaya tidak akan membuat iman goyah. Yang membuatnya rapuh justru prasangka yang lahir dari ketidaktahuan.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

