BACAAJA, SEMARANG- Olahraga padel mulai menunjukkan perkembangan di Kota Semarang. Meski belum sepopuler Jakarta, pengelola lapangan optimistis jumlah pemain akan terus bertambah, apalagi biaya bermain kini semakin terjangkau.
Direktur Gets Coutrs, Lani Regina mengatakan, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah mengenalkan padel kepada masyarakat. Menurutnya, masih banyak warga Semarang yang belum pernah mencoba, bahkan sekadar memegang raket padel.
“Kalau di Jakarta mungkin sudah sangat populer. Orang sudah biasa langsung ikut main. Kalau di Semarang masih banyak yang belum pernah mencoba, bahkan pegang raket pun belum,” ujar Lani, Selasa (4/8/2026) malam.
Karena itu, Gets Padel mulai menyiapkan berbagai program agar masyarakat lebih mudah mencoba olahraga tersebut. Salah satunya dengan menekan biaya bermain dan menyediakan paket latihan untuk pemula.
Baca juga: 800 Atlet Padel Serbu Semarang, Rekor Nasional Auto Pecah!
Lani mengatakan, harga bermain padel saat ini jauh lebih murah dibanding sebelumnya. Jika dulu biaya sewa lapangan dan latihan bisa mencapai hampir Rp1 juta untuk satu sesi, kini masyarakat bisa bermain dengan biaya sekitar Rp150 ribu per orang.
“Dulu coaching sekitar Rp400 ribu, lapangan juga mahal. Sekarang coaching sekitar Rp200 ribu, lapangan seratusan ribu. Kami juga sedang menyiapkan program coaching Rp50 ribu per orang. Jadi sekali main sekitar Rp150 ribu saja,” katanya.
Sistem Sewa
Menurut dia, calon pemain padel juga tidak perlu langsung membeli perlengkapan sendiri. Gets Coutrs menyediakan penyewaan raket, sementara bagi yang ingin memiliki raket sendiri juga tersedia pilihan dengan harga yang lebih terjangkau.
“Kalau mau coba, sebenarnya sekarang waktu yang tepat. Tidak harus beli raket dulu karena bisa sewa,” ujarnya. Gets Padel sendiri baru beroperasi sekitar dua pekan. Selama masa awal operasional, lapangan pada malam hari sudah cukup ramai karena banyak digunakan pekerja setelah jam kantor. Sementara sesi pagi masih menjadi tantangan yang terus diupayakan agar lebih ramai. “Kalau malam ramai karena habis office hour. Yang masih jadi PR kami itu mengisi jam-jam pagi,” kata Lani. Selain membuka kelas latihan, Gets juga memiliki program bermain bersama atau open play.
Melalui program tersebut, pemain yang datang sendirian tetap bisa bermain karena akan dipasangkan dengan peserta lain. “Kalau tidak punya teman main, tinggal ikut program kami. Nanti bisa main bareng peserta lain,” ujarnya.
Baca juga: April, Semarang Disulap Jadi “Arena Nasional”, Dari Balap Sampai Padel
Lani berharap perkembangan padel di Semarang juga mendapat dukungan pemerintah. Menurutnya, turnamen padel berpotensi menjadi agenda sport tourism yang mampu menarik peserta dari berbagai daerah sekaligus memberi dampak positif bagi sektor perhotelan dan ekonomi lokal.
“Kalau ada turnamen misalnya, pemain dari luar kota datang ke Semarang. Itu bisa membantu perhotelan dan menggerakkan ekonomi daerah,” pungkasnya.
Setiap olahraga besar selalu berawal dari rasa penasaran. Dulu banyak yang bilang padel terlalu mahal untuk dicoba. Sekarang biayanya mulai turun. Jadi, mungkin yang masih mahal bukan lagi sewanya, melainkan alasan untuk tidak mencoba sesuatu yang baru. (bae)

