BACAAJA, SEMARANG- Rencana pembangunan Giant Sea Wall (GSW) di pesisir Kendal, Semarang, dan Demak mendapat sorotan dari Koalisi Maleh Dadi Segoro (MDS). Kali ini, kekhawatiran muncul terhadap rencana pembangunan tanggul laut yang dinilai bisa berdampak pada penghidupan nelayan.
Perwakilan MDS, Adib Saifin Nu’man menyoroti rencana penggunaan struktur proteksi keras berupa tanggul laut di Segmen 12. Berdasarkan presentasi Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), tanggul laut disebut menjadi pendekatan yang dominan dan direncanakan berada sekitar dua kilometer dari pesisir.
Baca juga: Warga Pantura Minta Giant Sea Wall Jangan Cuma Untungkan Pemodal
MDS menilai pemilihan jenis perlindungan tersebut belum mempertimbangkan kondisi warga yang sehari-hari bergantung pada laut. “BOPPJ sama sekali tidak mempertimbangkan penghidupan warga yang bergantung pada laut ketika menentukan pendekatan apa yang paling cocok di suatu wilayah.” Ucapnya dalam rilis, Rabu (30/9/2026).
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. MDS menyebut banyak nelayan di kawasan Teluk Semarang masih beraktivitas tidak jauh dari garis pantai. Di Dusun Bedono, Demak, misalnya, warga mencari ikan, membudidayakan kerang hijau, hingga melaut menggunakan perahu bermesin kecil.
Perubahan Ekosistem
MDS juga mengingatkan potensi perubahan kondisi ekosistem akibat pembangunan tanggul. Menurut mereka, persoalannya bukan hanya soal akses nelayan menuju laut.
“Akses tidak semata-mata soal ‘jalan nelayan’, tetapi juga soal memastikan warga pesisir yang memiliki penghidupan lain tetap dapat menerima manfaat dari sungai yang tidak ditutup dan laut yang tidak diuruk.”
MDS kemudian membandingkan kekhawatiran tersebut dengan proyek Tol Tanggul Laut Semarang-Demak (TTLSD). Mereka menyebut nelayan dan perempuan nelayan di Desa Purworejo, Demak, kini harus melaut lebih jauh dan mengalami penurunan hasil tangkapan sejak proyek tersebut berjalan.
Baca juga: Proyek Giant Sea Wall Pantura Dimulai
Selain dampak terhadap nelayan, MDS mempertanyakan keterbukaan informasi mengenai desain GSW. Mereka menyebut dokumen KLHS dan desain masterplan Segmen 12 masih sulit diakses publik. Menurut MDS, informasi tersebut penting karena desain tanggul akan menentukan dampak proyek terhadap kehidupan masyarakat pesisir ke depan.
Pembangunan tanggul memang bisa dihitung dari panjang beton, tinggi struktur, dan luas kawasan yang terlindungi. Tetapi bagi warga pesisir, ada hitungan lain yang tak kalah penting: masih bisakah mereka mencari makan setelah tanggul berdiri? Jangan sampai laut berhasil “diamankan”, tetapi orang-orang yang selama ini hidup dari laut justru harus mencari jalan keluar sendiri. (dul)

