BACAAJA, BOGOR – Di tengah panasnya kawasan industri Sentul, Kabupaten Bogor, ribuan motor listrik tampak berjejer rapi di lahan terbuka. Dari kejauhan, pemandangan itu terlihat seperti stok kendaraan yang siap dikirim ke berbagai daerah. Namun kenyataannya, motor-motor tersebut justru masih diam di tempat dan belum menjalankan fungsi yang semula direncanakan.
Jumlah kendaraan yang tersimpan di lokasi itu bukan sedikit. Ribuan unit motor listrik berwarna biru-hitam memenuhi area yang luas, sebagian masih dibungkus plastik pelindung seperti baru keluar dari pabrik.
Motor-motor tersebut sebelumnya disiapkan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Kendaraan itu dirancang sebagai armada distribusi guna membantu penyaluran makanan ke berbagai titik layanan di seluruh Indonesia.
Nilai pengadaan proyek tersebut juga tidak main-main. Total kendaraan yang dibeli mencapai 21.801 unit dengan anggaran yang disebut menembus sekitar Rp1 triliun.
Kini, kendaraan yang semestinya bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain justru terparkir dalam jumlah besar di kawasan industri. Pemandangan itu memunculkan banyak pertanyaan di tengah masyarakat.
Di lokasi penyimpanan, deretan panjang motor listrik terlihat memenuhi area yang luas. Sebagian besar unit masih tampak baru dan belum menunjukkan tanda-tanda pernah digunakan untuk operasional lapangan.
Plastik pembungkus pada beberapa bagian kendaraan bahkan masih menempel rapi. Kondisi tersebut membuat motor terlihat seperti baru saja selesai diproduksi.
Pada bodi kendaraan masih terlihat logo Badan Gizi Nasional atau BGN. Logo itu menjadi penanda bahwa kendaraan tersebut memang dipersiapkan untuk menunjang program makan bergizi yang selama ini menjadi salah satu program prioritas pemerintah.
Motor yang digunakan merupakan tipe trail listrik dengan ukuran ban yang cukup besar. Desainnya memang disiapkan agar mampu menjangkau berbagai kondisi jalan ketika menjalankan tugas distribusi.
Di area belakang lokasi penyimpanan berdiri sebuah bangunan dua lantai yang menjadi bagian dari kawasan tersebut. Namun tidak terlihat aktivitas pengiriman maupun persiapan distribusi kendaraan.
Suasana yang tampak justru cenderung sepi. Ribuan motor hanya berjajar tanpa aktivitas berarti di sekitarnya.
Keberadaan kendaraan tersebut belakangan semakin menjadi perhatian setelah munculnya perkara hukum yang berkaitan dengan proyek pengadaannya.
Kasus ini mencuat setelah Kejaksaan Agung menetapkan sejumlah nama sebagai tersangka dalam dugaan korupsi pengadaan motor listrik untuk program MBG.
Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Dadan Hindayana. Selain itu, penyidik juga menetapkan beberapa pejabat lain yang sebelumnya memiliki posisi penting dalam pelaksanaan program tersebut.
Penyelidikan yang berjalan saat ini berfokus pada dugaan penggelembungan anggaran dalam proyek pengadaan kendaraan listrik tersebut.
Nilai proyek yang mencapai sekitar Rp1 triliun membuat perkara ini mendapat perhatian luas dari publik maupun berbagai kalangan pengamat kebijakan.
Di sisi lain, warga sekitar ternyata sudah cukup lama melihat keberadaan ribuan motor itu di kawasan industri Sentul.
Salah seorang pedagang yang sehari-hari berjualan di sekitar lokasi mengaku kendaraan tersebut telah berada di area penyimpanan selama berbulan-bulan.
Menurutnya, area tersebut juga dijaga secara ketat sehingga masyarakat hanya bisa melihat kendaraan dari luar kawasan.
Awalnya, banyak warga mengira motor-motor itu akan segera dikirim untuk mendukung operasional program pemerintah.
Namun waktu terus berjalan dan kendaraan masih tetap berada di lokasi yang sama tanpa aktivitas distribusi yang terlihat.
Kondisi itu memunculkan rasa penasaran sekaligus kekecewaan dari sebagian masyarakat yang mengetahui tujuan awal pengadaan kendaraan tersebut.
Bagi warga, kendaraan yang dibeli menggunakan anggaran besar tentu diharapkan bisa segera dimanfaatkan untuk kepentingan publik.
Apalagi program Makan Bergizi Gratis digadang-gadang sebagai salah satu program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok penerima manfaat lainnya.
Karena itu, ketika ribuan motor yang disiapkan untuk mendukung program tersebut justru menganggur, perhatian publik pun semakin besar.
Di tengah proses hukum yang masih berjalan, nasib ribuan kendaraan itu juga menjadi tanda tanya. Belum ada kepastian kapan motor-motor tersebut akan digunakan atau bagaimana kelanjutan distribusinya.
Yang terlihat saat ini hanyalah ribuan unit kendaraan baru yang masih tersusun rapi di bawah langit Sentul. Kendaraan yang dulu diproyeksikan menjadi roda penggerak program nasional, kini justru menjadi simbol proyek bernilai besar yang tengah diperiksa aparat penegak hukum.
Sementara penyidik terus menelusuri dugaan penyimpangan anggaran, ribuan motor itu tetap berdiri diam. Menunggu kepastian, menunggu keputusan, dan menunggu apakah suatu hari nanti benar-benar akan melaju menjalankan tugas yang sejak awal direncanakan untuk mereka. (*)

