BACAAJA, SEMARANG – Trans Jateng disiapkan menjadi moda transportasi umum yang menjangkau berbagai wilayah aglomerasi di seluruh wilayah Jawa Tengah (Jateng). Pada 2045, layanan ini diproyeksikan memiliki 24 rute dengan jumlah penumpang mencapai 290.000 orang per hari.
Hal itu didapat dari hasil pemodelan Institute for Essential Services Reform (IESR) 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 7,3 kali lipat dibandingkan kondisi saat ini.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengatakan proyeksi tersebut menunjukkan besarnya peluang pengembangan transportasi publik di Jawa Tengah.
Bacaaja: Mulai 2027, Trans Jateng Sambungkan Magelang-Temanggung
Bacaaja: Jekuti Butuh Trans Jateng! MTI: Ekonomi Terus Tumbuh, Jangan Tunggu Macet Makin Parah
“Potensi penumpang ini sebenarnya cukup besar, terutama karena perjalanan masyarakat di Jawa Tengah tidak hanya terjadi di dalam satu wilayah,” kata Djoko, Kamis (20/8/2026)
Menurutnya, pola perjalanan masyarakat sudah semakin terhubung antara kota inti dengan daerah penyangga. Karena itu, pengembangan transportasi umum tidak cukup hanya berfokus pada kawasan perkotaan.
“Transportasi aglomerasi harus mampu menghubungkan kawasan permukiman, pusat kegiatan, hingga wilayah penyangga. Jadi masyarakat punya pilihan selain menggunakan kendaraan pribadi,” ujarnya.
Untuk mengejar target tersebut, pengembangan jaringan Trans Jateng dilakukan secara bertahap. Lima rute baru direncanakan mulai dikembangkan pada 2027 hingga 2030.
Pada 2027, rute Magelang (Terminal Borobudur)-Temanggung (Terminal Madureso) menjadi jalur baru yang disiapkan, dengan potensi sekitar 4.516 penumpang per hari.
Kemudian pada 2028, dua rute direncanakan menyusul, yakni Jepara-Kudus-Pati dengan potensi 5.874 penumpang per hari serta Batang (Terminal Banyuputih)-Pekalongan dengan proyeksi 811 penumpang per hari.
Pengembangan berlanjut pada 2029 melalui rute Purwokerto (Terminal Bulupitu)-Cilacap yang diperkirakan memiliki potensi 4.472 penumpang per hari. Sementara pada 2030, rute Semarang-Demak ditargetkan hadir dengan proyeksi hingga 7.111 penumpang per hari.
“Penambahan rute harus melihat kebutuhan perjalanan masyarakat. Jangan sampai bus hanya tersedia, tetapi tidak terkoneksi dengan pusat aktivitas dan moda lainnya,” jelas Djoko.
Ekspansi jaringan kemudian dilanjutkan pada periode 2030-2035 dengan empat rute baru. Salah satu yang memiliki potensi cukup tinggi adalah Boyolali-Kartasura-Karanganyar yang diproyeksikan melayani 8.092 penumpang setiap hari.
Pada periode 2035-2040, empat rute kembali disiapkan. Jalur Brebes-Tegal-Pemalang menjadi salah satu yang paling menjanjikan dengan potensi permintaan mencapai 13.797 penumpang per hari.
Sementara pada 2040-2045, empat rute lainnya direncanakan dikembangkan. Salah satunya Kota Tegal-Brebes melalui Terminal Slawi dengan proyeksi 13.729 penumpang per hari.
Djoko menilai tingginya potensi pada sejumlah koridor menunjukkan bahwa transportasi publik dapat menjadi pilihan penting bagi masyarakat jika jaringan dan pelayanannya disiapkan dengan baik.
“Yang harus dipikirkan bukan hanya jumlah koridor, tetapi bagaimana penumpang bisa dengan mudah mengaksesnya dari tempat tinggal maupun tempat aktivitas,” katanya.
Ia menambahkan, perluasan jaringan juga harus dibarengi dengan integrasi antarmoda. Sebab, masyarakat tidak selalu memulai dan mengakhiri perjalanan tepat di halte Trans Jateng.
“Kalau dari rumah menuju halte saja sulit, masyarakat akan kembali memilih sepeda motor. Jadi integrasi sampai tingkat lingkungan atau first-mile dan last-mile itu penting,” ujarnya.
Dengan pengembangan yang dilakukan secara bertahap, Trans Jateng diharapkan tidak sekadar menjadi moda perjalanan antarkota. Lebih jauh, jaringan tersebut ditargetkan menjadi bagian dari sistem transportasi Jawa Tengah yang mampu menghubungkan kawasan perkotaan dan wilayah penyangga.
“Tanpa integrasi jaringan yang solid dan jaminan keterlayanan hingga tingkat tapak, modal shift dari kendaraan pribadi menuju Trans Jateng akan sulit tercapai secara optimal,” Kata Djoko. (dul)

