BACAAJA, YOGYAKARTA – Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) punya cara unik untuk membantu penyandang diabetes menjaga kesehatan kakinya. Mereka mengembangkan Glucowrap, sandal pintar yang dirancang untuk mendeteksi perubahan kondisi kaki sejak dini.
Inovasi ini menyasar penderita diabetes melitus (DM) tipe 2 yang mengalami gangguan saraf atau neuropati perifer. Kondisi tersebut bisa membuat kaki kehilangan sensitivitas, sehingga tekanan, gesekan, atau perubahan suhu terkadang tidak terasa.
Padahal, luka kecil pada kaki penderita diabetes bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius jika tidak segera diketahui dan ditangani. Glucowrap dikembangkan sebagai alat bantu pemantauan agar perubahan kondisi kaki dapat lebih mudah diperhatikan.
Lima Mahasiswa Lintas Jurusan Rancang Glucowrap
Glucowrap lahir dari kolaborasi lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC). Tim ini terdiri dari mahasiswa dengan latar belakang keperawatan, elektronika, teknologi elektro, ilmu komputer, dan kehutanan.
Rina Putri Cahyati dari Ilmu Keperawatan menjadi ketua tim. Anggota lainnya yakni Hanif Abinawa dari Elektronika dan Instrumentasi, Mohammad Latif Ananda dari Teknologi Rekayasa Elektro, Dhimas Early Oceandy dari Ilmu Komputer, serta Ulfan Syarif dari Kehutanan.
Rina mengatakan, ide pembuatan sandal pintar ini berangkat dari tingginya risiko luka kaki diabetik pada penyandang diabetes. Neuropati perifer dapat membuat penderita tidak menyadari adanya tekanan atau gesekan pada kaki.
“Neuropati perifer dapat menurunkan sensitivitas pada kaki sehingga penderita terkadang tidak menyadari adanya tekanan, gesekan, atau perubahan pada kondisi kaki,” ujar Rina dalam keterangan tertulis Humas UGM, Kamis (17/9/2026).
Ada Sensor Tekanan, Suhu, dan Kelembapan
Glucowrap dirancang dalam bentuk sandal terbuka yang dilengkapi sejumlah sensor. Saat digunakan, perangkat tersebut memantau tekanan, suhu, dan kelembapan pada kaki.
Data yang dikumpulkan sensor kemudian diolah dan dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu normal, risiko ringan, dan risiko tinggi. Hasil pemantauan bisa dilihat secara langsung melalui aplikasi di ponsel.
Dengan sistem tersebut, pengguna dapat mengetahui perubahan kondisi kaki yang perlu diperhatikan. Meski begitu, perangkat ini masih berfungsi sebagai alat bantu pemantauan, bukan pengganti pemeriksaan dokter.
Sandal Dibuat dengan Material Berbasis Bambu
Selain mengutamakan fungsi pemantauan, tim UGM juga memperhatikan kenyamanan saat sandal digunakan. Bagian yang bersentuhan dengan kulit dilengkapi biotekstil berbahan serat bambu yang diproses menggunakan kitosan.
Material tersebut dikembangkan sebagai lapisan antibakteri sekaligus membantu menjaga kondisi kaki. Glucowrap juga memiliki fitur stimulasi thermal dan mikrovibrasi berintensitas rendah sebagai pendukung kenyamanan pengguna.
“Kami ingin Glucowrap tidak berhenti sebagai alat pemantau saja, tetapi juga membantu pasien mengenali kondisi kakinya lebih dini sekaligus memberikan kenyamanan melalui fitur pendukung yang ada di dalamnya,” kata Rina.
Sudah Diuji pada Pasien Diabetes Tipe 2
Glucowrap saat ini telah menjalani pengujian kelayakan dan keamanan pada pasien DM tipe 2 di Klinik Korpagama, Yogyakarta. Pengujian dilakukan dengan melibatkan pasien yang memenuhi kriteria penelitian.
Sebelum menggunakan sandal pintar, pasien menjalani skrining menggunakan monofilamen Semmes-Weinstein 10 gram. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat sensitivitas kaki sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Selanjutnya, pasien menggunakan Glucowrap dan menjalani uji berjalan selama 15 menit. Selama proses tersebut, sensor merekam data kondisi kaki untuk dianalisis oleh tim.
Tim juga menguji fitur thermal dan mikrovibrasi, memeriksa kondisi kulit setelah penggunaan, serta meminta pasien mengisi kuesioner mengenai kenyamanan dan kemudahan penggunaan perangkat beserta aplikasinya.
Pelaksanaan pengujian didukung Klinik Korpagama melalui penyediaan fasilitas dan penjaringan pasien yang sesuai dengan kriteria penelitian. Protokol penelitian tersebut juga telah memperoleh kelaikan etik dari Komite Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan FK-KMK UGM.
Masih Dikembangkan, Belum Gantikan Dokter
Hasil pengujian akan menjadi bahan evaluasi tim untuk menyempurnakan purwarupa Glucowrap. Perbaikan akan dilakukan pada aspek desain, kenyamanan, dan kinerja sensor sebelum masuk ke tahap pengujian serta pengembangan lebih lanjut.
Rina menegaskan, Glucowrap masih berada dalam tahap pengembangan. Perangkat ini belum ditujukan untuk menggantikan pemeriksaan maupun penanganan medis bagi penyandang diabetes.
“Glucowrap saat ini masih kami kembangkan dan belum dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan maupun penanganan medis. Perangkat ini kami rancang hanya sebagai alat bantu untuk memantau kondisi kaki,” tuturnya.
Ke depan, tim berharap Glucowrap bisa dikembangkan menjadi perangkat yang praktis, terjangkau, dan mudah digunakan. Inovasi tersebut diharapkan membantu penyandang diabetes lebih cepat menyadari perubahan kondisi kaki dan melakukan perawatan sejak dini. (*)

