BACAAJA, YOGYAKARTA – Cuaca di Daerah Istimewa Yogyakarta belakangan terasa cukup ekstrem. Saat siang matahari menyengat dengan suhu yang panas, malam hari justru berubah jauh lebih dingin. Perubahan suhu yang cukup tajam ini membuat masyarakat diminta lebih waspada terhadap berbagai gangguan kesehatan.
Dinas Kesehatan DIY mengingatkan kondisi cuaca seperti sekarang dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA, terutama jika daya tahan tubuh sedang menurun.
Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi, mengatakan udara panas yang disertai paparan polusi membuat penyebaran penyakit melalui udara menjadi lebih mudah terjadi.
Menurutnya, virus maupun kuman yang menular lewat droplet berpotensi lebih cepat menyebar ketika kondisi lingkungan sedang panas dan kualitas udara kurang baik.
Karena itu, menjaga sistem kekebalan tubuh menjadi langkah paling penting agar tubuh tidak gampang terserang penyakit.
Anung menjelaskan bahwa risiko sakit bukan hanya dipengaruhi cuaca, tetapi juga kondisi fisik masing-masing orang.
Semakin sering seseorang terpapar panas matahari dan polusi tanpa perlindungan yang cukup, semakin besar pula peluang mengalami gangguan kesehatan.
Selain menjaga imunitas, masyarakat juga diminta lebih memperhatikan kebutuhan cairan tubuh agar tidak mengalami dehidrasi.
Orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan menjadi kelompok yang paling berisiko kehilangan cairan akibat produksi keringat yang meningkat.
Untuk mengurangi dampak paparan sinar matahari, pekerja lapangan maupun masyarakat yang beraktivitas di luar rumah disarankan memakai pelindung seperti topi atau penutup kepala.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi paparan panas secara langsung sekaligus membuat tubuh tidak cepat kelelahan.
Anung juga mengingatkan pentingnya menambah konsumsi air putih ketika cuaca sedang panas, terutama setelah melakukan aktivitas fisik.
Secara umum, orang dewasa membutuhkan sekitar 1,5 hingga 2 liter air setiap hari.
Namun, jumlah tersebut bisa bertambah jika seseorang banyak berkeringat atau bekerja di bawah terik matahari dalam waktu lama.
Salah satu cara paling mudah mengetahui apakah tubuh mulai kekurangan cairan adalah dengan memperhatikan warna urine.
Jika urine terlihat lebih pekat atau cenderung keruh, kondisi itu bisa menjadi tanda tubuh membutuhkan lebih banyak asupan cairan.
Meski siang terasa sangat panas, Dinas Kesehatan DIY memastikan suhu di wilayah Yogyakarta belum masuk kategori gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi di beberapa negara lain.
Menurut Anung, hujan yang sesekali masih turun ikut membantu menjaga suhu udara agar tidak melonjak hingga mencapai kisaran 40 derajat Celsius.
Meski begitu, masyarakat tetap diminta tidak menganggap remeh perubahan cuaca yang sedang terjadi. Menjaga pola makan, istirahat yang cukup, memenuhi kebutuhan air putih, serta menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar rumah menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko sakit selama musim kemarau berlangsung. (*)

