BACAAJA, WONOSOBO – Ratusan ribu keluarga di Kabupaten Wonosobo masih masuk kategori berisiko stunting. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena berkaitan langsung dengan kualitas generasi masa depan.
Berdasarkan data hingga semester pertama 2026, tercatat sekitar 146.404 keluarga memiliki risiko stunting. Angka tersebut menjadi tantangan besar dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.
Alih-alih hanya berfokus pada pemenuhan gizi, Pemerintah Kabupaten Wonosobo memilih memperkuat peran keluarga sebagai langkah pencegahan sejak dini.
Salah satu upaya yang kini digencarkan adalah meluncurkan Gerakan WAYAH atau Waktu Bersama Ayah serta Kelas AMAN yang merupakan singkatan dari Ayah Idaman.
Kedua program itu diperkenalkan saat puncak Festival Cinta Keluarga IV yang digelar di Pendopo Bupati Wonosobo, Senin (6/7/2026).
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari peringatan Hari Keluarga Nasional ke-33 dan Hari Anak Nasional ke-42.
Ratusan peserta hadir secara langsung, sementara kader dari berbagai wilayah turut mengikuti kegiatan secara daring sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ketahanan keluarga.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, mengatakan pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur dari jalan, jembatan, atau fasilitas umum yang semakin baik.
Menurutnya, kemajuan sebuah daerah justru dimulai dari kualitas manusianya, dan pembentukan karakter itu lahir pertama kali dari lingkungan keluarga.
Afif menilai rumah adalah sekolah pertama bagi anak untuk belajar tentang nilai kehidupan, kedisiplinan, tanggung jawab, hingga membangun cita-cita.
Karena itu, pembangunan keluarga harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari masa kehamilan, kesehatan ibu dan anak, pengasuhan, hingga menciptakan keluarga yang sehat dan mandiri.
Ia juga menyoroti masih kuatnya anggapan bahwa urusan mengasuh anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu.
Padahal, menurut Afif, kehadiran seorang ayah memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak, baik secara emosional maupun psikologis.
Melalui Gerakan WAYAH dan Kelas AMAN, pemerintah ingin mengubah cara pandang tersebut sekaligus mengajak para ayah lebih aktif mendampingi keluarga.
Konsep “Ayah Wajib Hadir” yang diusung dalam program ini bukan hanya soal berada di rumah, tetapi benar-benar terlibat dalam kehidupan anak setiap hari.
Mulai dari mendengarkan cerita anak, menemani belajar, memberikan dukungan, hingga menjadi contoh dalam bersikap dan berperilaku.
Program ini juga tidak hanya ditujukan kepada ayah kandung. Sosok laki-laki lain yang berperan dalam keluarga, seperti kakek, paman, maupun wali, juga diharapkan ikut mengambil bagian.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo meyakini penguatan peran keluarga menjadi salah satu investasi penting untuk menekan angka stunting sekaligus menciptakan generasi yang lebih sehat.
Dengan kolaborasi antara orang tua, masyarakat, dan pemerintah, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang penuh perhatian sehingga memiliki peluang lebih besar menjadi generasi unggul di masa mendatang. (*)

