BACAAJA, UNGARAN – Bangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Dusun Denokan, Desa Gondoriyoh, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, belum selesai dibangun. Namun, keberadaannya sudah memunculkan keresahan di kalangan sebagian warga, khususnya pemilik warung kelontong dan pelaku usaha kecil.
Kekhawatiran itu muncul karena KDMP disebut akan menyediakan sejumlah kebutuhan sehari-hari masyarakat dengan harga lebih murah. Bagi konsumen, kondisi itu dinilai menguntungkan. Namun, bagi pedagang kecil, harga murah dikhawatirkan membuat pelanggan mereka beralih.
Nur Afiah (45), salah seorang penjual kelontong, mengaku khawatir pelaku usaha kecil akan semakin sulit bertahan apabila barang-barang yang selama ini dijual di warung juga tersedia di Kopdes Merah Putih dengan harga lebih murah.
“Lha saiki nek wong cilik ora entuk wong blanja, terus wong cilik mangan apa?” kata Nur Afiah kepada bacaaja.co saat ditemui, Kamis (3/9/2026).
Bacaaja: Sekda: Jangan Sampai Koperasi Merah Putih Ikut “Rontok
Bacaaja: Lewat KDMP, Negara Justru Bersaing dengan Rakyatnya Sendiri
Ia mencontohkan penjualan gas LPG. Menurutnya, selama ini pedagang kelontong telah memiliki pelanggan sendiri. Namun, pelanggan tersebut berpotensi berpindah apabila harga yang ditawarkan Kopdes lebih murah.
Nur Afiah menyebut harga gas yang biasa dijual pedagang sekitar mencapai Rp22.000. Sementara, berdasarkan informasi yang diterimanya, gas di Kopdes akan dijual dengan harga Rp20.000.
“Ya kabeh dimurahke kabeh. Wong cilik sing dodolan ya kalah,” ujarnya.
Menurut Nur Afiah, persoalannya bukan semata keberadaan koperasi. Ia khawatir apabila berbagai barang kebutuhan dijual dengan harga lebih murah, warung kelontong dan usaha kecil di sekitar lokasi tidak memiliki ruang untuk bersaing.
“Ora isa berkembang usahane. Wong cilik malah kaya diidak-idak. Perekonomian rakyat ora maju nek carane kaya ngono,” katanya.
Keresahan serupa juga muncul dari sudut pandang konsumen. Mirza Nur (26) mengakui harga yang lebih murah tentu membantu masyarakat.
Ia mengatakan selama ini membeli gas LPG dari warung kelontong seharga Rp22.000. Jika nantinya Kopdes menyediakan barang yang sama dengan harga Rp20.000, maka ia menilai konsumen tentu akan tergoda beralih.
“Sebagai konsumen tentu membantu karena saya dapat harga lebih murah,” katanya.
Namun, di sisi lain, Mirza Nur memahami kekhawatiran pelaku usaha kecil. Ia menilai keberadaan Kopdes dapat berdampak pada warung kelontong apabila pelanggan mulai berpindah karena perbedaan harga.
“Sebagai konsumen membantu, akan tetapi untuk pelaku UMKM mungkin ini bisa dikatakan bencana perekonomian,” ujarnya.
Menurutnya, warga yang memiliki warung kelontong maupun usaha kecil bisa kehilangan pelanggan apabila barang kebutuhan yang sama dijual lebih murah di Kopdes.
“Kalau langganan-langganannya ke sana, warung kelontong atau UMKM bisa meredup,” katanya.
Meski demikian, Mirza Nur berharap keberadaan Kopdes tidak justru membuat usaha kecil di sekitarnya tersisih. Ia menilai perlu ada cara agar koperasi dan UMKM dapat berjalan bersama.
“Harusnya dilakukan secara bijak. Jangan hanya menguntungkan satu pihak, tetapi UMKM dan toko-toko kecil juga bisa merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Bangunan Kopdes Merah Putih di Denokan memang belum selesai dan belum beroperasi. Namun, kekhawatiran soal persaingan harga sudah lebih dulu dirasakan sebagian warga.
Bagi konsumen, harga murah menjadi keuntungan. Tetapi bagi sebagian pemilik warung kelontong, kehadiran Kopdes justru memunculkan tantangan baru. (dul)

