BACAAJA, SEMARANG – Masa SMP bukan cuma soal mengejar nilai dan aktif di sekolah. Di usia ini, tubuh sedang tumbuh pesat sehingga kebutuhan nutrisi dan perhatian terhadap kesehatan juga makin penting, termasuk bagi siswi yang mulai mengalami menstruasi.
Karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong siswi SMP rutin mengonsumsi tablet tambah darah (TTD). Kebiasaan sederhana ini ditujukan untuk membantu mencegah anemia yang masih menjadi salah satu masalah kesehatan pada anak usia sekolah.
Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, Weni Kusumaningrum, mengatakan pemberian TTD kini menjadi bagian dari layanan kesehatan tambahan di jenjang SMP. Ia berharap para siswi tidak sekadar menerima tablet, tetapi juga benar-benar meminumnya sesuai anjuran.
“Untuk SMP ini ada penambahan, yaitu minum tablet tambah darah untuk mencegah anemia. Nah, untuk SMP, harapannya diminum,” ujar Weni saat peluncuran program edukasi Anak KAO di SMPN 73 Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Anemia sendiri terjadi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal. Padahal, hemoglobin punya peran penting untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Ketika kadar hemoglobin rendah, kemampuan darah mengantarkan oksigen ke jaringan tubuh ikut berkurang. Kondisi ini tentu perlu diperhatikan, apalagi anak usia sekolah sedang berada dalam fase pertumbuhan.
Ketua Tim Kerja Peran Serta dan Pemberdayaan Kelompok Masyarakat Khusus Kemenkes, Adhi Sambodo, mengatakan anemia termasuk masalah kesehatan yang ditemukan lewat Cek Kesehatan Gratis (CKG) anak sekolah.
Selain anemia, pemeriksaan tersebut juga menemukan sejumlah masalah kesehatan lain pada anak. Adhi menyebut karies gigi menjadi salah satu temuan yang cukup banyak, disusul anemia dan obesitas.
Weni mengatakan usia sekolah merupakan salah satu periode penting dalam pertumbuhan anak. Bahkan, fase ini disebut sebagai masa pertumbuhan tercepat kedua setelah balita.
Karena itu, anak perlu mendapat asupan makanan yang bergizi dan seimbang. Pilihan makanan saat berada di rumah, sekolah, maupun ketika jajan juga perlu diperhatikan.
“Jadi harapannya mereka bisa menggunakan masa itu secara produktif, ikut semua kegiatan sekolah yang benar-benar baik, makan bergizi dan seimbang di mana pun berada,” jelas Weni.
Bagi siswi SMP, perhatian kesehatan juga tidak berhenti pada persoalan anemia. Kemenkes ikut menyoroti kesehatan reproduksi karena sebagian remaja putri sudah mulai mengalami menstruasi saat memasuki masa pubertas.
Menstruasi merupakan proses alami yang terjadi ketika lapisan dinding rahim luruh dan kemudian keluar melalui vagina. Perubahan tubuh seperti ini membuat kebutuhan edukasi kesehatan reproduksi menjadi makin relevan diberikan sejak bangku SMP.
Weni menegaskan layanan kesehatan di sekolah tidak hanya berisi program pemberian TTD. Ada sejumlah layanan lain yang juga diarahkan untuk menjaga kesehatan anak selama menjalani pendidikan.
Ketua Tim Kerja Peningkatan Literasi Kesehatan di Institusi Pendidikan Kemenkes, Nur Fatayani, mengatakan layanan tersebut dijalankan dengan melibatkan berbagai pihak. Puskesmas, CKG, imunisasi, suplementasi TTD, hingga pemberian obat cacing menjadi bagian dari layanan kesehatan anak sekolah.
“Untuk pelayanan kesehatan, bekerja sama dengan puskesmas, CKG, kemudian ada imunisasi, ada juga memberikan suplementasi seperti tadi tambah tablet darah, kami juga obat cacing,” ujar Nur Fatayani.
Berbagai program tersebut diharapkan tidak cuma menyelesaikan masalah kesehatan ketika sudah muncul. Lebih jauh, anak-anak juga didorong punya kebiasaan menjaga kesehatan sejak dini.
Kemenkes berharap para siswa bisa aktif mengikuti program kesehatan yang tersedia di sekolah. Dengan begitu, masa pertumbuhan dapat dilewati dengan kondisi tubuh yang sehat dan tetap mendukung aktivitas belajar.
“Harapannya mereka tumbuh aktif, sehat, dengan mengikuti semua program yang dikembangkan bersama yang ada di sekolah,” pungkas Weni. (*)

