BACAAJA, SURAKARTA– Dunia digital kini sudah menjadi bagian dari keseharian anak-anak. Mulai bermain gim online, berselancar di media sosial, hingga berkomunikasi melalui berbagai platform. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada risiko yang perlu dikenali sejak dini, salah satunya cyberbullying atau perundungan di ruang digital.
Bagi anak-anak, ejekan di kolom komentar atau ucapan kasar saat bermain gim terkadang dianggap sekadar candaan. Padahal, perilaku tersebut dapat berdampak terhadap orang lain dan berpotensi menjadi bentuk perundungan digital.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Tim 20 IDBU KKN Universitas Diponegoro (Undip). Mereka menggelar sosialisasi edukasi cyberbullying bagi siswa kelas V dan VI SDN 1 Serengan No. 70, Kota Surakarta, melalui program bertajuk “Jempol Baik, Internet Aman”, baru-baru ini.
Kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat literasi digital sekaligus mengajak siswa memahami bahwa perilaku di dunia maya tetap memiliki konsekuensi terhadap orang lain.
Dalam sosialisasi tersebut, siswa dikenalkan dengan berbagai bentuk cyberbullying yang mungkin mereka temui dalam aktivitas sehari-hari. Mulai dari komentar yang merendahkan, ejekan saat bermain gim online seperti Roblox dan Mobile Legends, penyebaran konten yang mempermalukan orang lain, hingga pesan bernada kasar di media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Baca juga: Mahasiswa KKN Jadi Mitra Pemprov Bangun Desa
Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Tim 20 IDBU KKN Undip, Agung Budiatmo, SSos, MM mengatakan, literasi digital semakin penting karena anak-anak saat ini sudah berinteraksi dengan teknologi sejak usia relatif muda.
“Anak-anak perlu memahami bahwa ruang digital bukan ruang tanpa aturan. Apa yang kita tulis, kirim, atau lakukan di internet bisa berdampak kepada orang lain. Karena itu, sejak dini mereka perlu dibiasakan menggunakan teknologi secara bijak, bertanggung jawab, dan tetap menghargai orang lain,” ujar Agung.
Menurutnya, edukasi cyberbullying akan lebih efektif jika disampaikan menggunakan pendekatan yang dekat dengan pengalaman anak. Dengan begitu, siswa tidak hanya mengetahui definisinya, tetapi juga mampu mengenali perilaku yang berpotensi menjadi perundungan digital dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak perlu diberi pemahaman bahwa bercanda juga memiliki batas. Ketika sebuah candaan membuat orang lain merasa terhina, takut, atau dipermalukan, apalagi dilakukan berulang melalui ruang digital, hal itu perlu menjadi perhatian,” katanya.
Dinilai Relevan
Salah satu guru SDN 1 Serengan, Indah, menyampaikan apresiasi kepada Tim 20 IDBU KKN Undip. Menurutnya, materi yang disampaikan mahasiswa relevan dengan kehidupan siswa yang semakin akrab dengan teknologi.
Anak-anak, kata dia, sudah cukup familiar dengan dunia digital, baik melalui permainan online maupun media sosial. Karena itu, pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara bijak perlu diberikan sejak sekolah dasar.
Memasuki sesi inti, suasana kegiatan berlangsung interaktif. Para siswa tidak hanya mendengarkan pemaparan mahasiswa KKN, tetapi juga aktif bertanya dan berbagi pengalaman mengenai aktivitas mereka di dunia digital.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi pintu masuk bagi mahasiswa KKN untuk menjelaskan lebih jauh mengenai cyberbullying.
Siswa diajak memahami bahwa mengejek teman ketika bermain gim, mengirim pesan kasar, menyebarkan foto atau video yang mempermalukan seseorang, maupun memberikan komentar yang sengaja merendahkan orang lain bukan sekadar persoalan “bercanda”.
Mahasiswa juga menjelaskan bahwa tindakan di ruang digital perlu dipikirkan sebelum dilakukan. Sebab, sesuatu yang ditulis atau dibagikan di internet dapat menyebar lebih luas dan meninggalkan dampak bagi orang yang menjadi sasaran.
Agar pembelajaran tidak berlangsung satu arah, Tim 20 IDBU KKN Undip kemudian mengemas sesi berikutnya dalam bentuk permainan edukatif berupa tanya jawab berhadiah.
Baca juga: FPP Undip dan Pertamina Bikin KKN Naik Kelas di Pedurungan
Para siswa berlomba mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan seputar cyberbullying, termasuk langkah-langkah dalam strategi 4B yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.
Suasana kelas pun semakin hidup. Para siswa terlihat antusias mengikuti permainan sekaligus menguji pemahaman mereka terhadap materi yang sebelumnya telah disampaikan.
Melalui program “Jempol Baik, Internet Aman”, mahasiswa KKN berharap siswa tidak hanya semakin mengenali bahaya cyberbullying, tetapi juga mampu menjadi pengguna internet yang lebih bijak, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain.
Sebab, di dunia digital, satu komentar mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis. Namun, dampaknya bisa jauh lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan untuk mengetik. (tebe)

