BACAAJA, SEMARANG– Ratusan Siswa SMAN 6 Semarang mengikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang digelar secara kolektif di sekolah. Tes tersebut untuk mengukur sejauh mana kemampuan mereka dalam berbahasa Indonesia.
Para siswa berkumpul di ruangan. Mereka mengerjakan soal yang ia akses secara daring, ada yang menggunakan telepon genggam, tablet, dan perangkat elektronik yang tersedia.
Suasana ujian terlihat cukup tenang. Para siswa fokus pada layar perangkat masing-masing untuk menyelesaikan soal UKBI. Meski mengikuti ujian secara bersama-sama, bukan berarti mereka bisa dengan mudah melihat jawaban teman. UKBI menggunakan sistem adaptif. Artinya, soal yang diterima setiap peserta bisa berbeda.
Baca juga: Bahasa Ibu Pelan-pelan Hilang Sejak Digeser Bahasa Indonesia di Sekolah, Dampaknya Terasa!
Bukan hanya isi soal yang berbeda. Jumlah soal, karakteristik soal, hingga waktu pengerjaannya juga dapat disesuaikan dengan sistem. Pelaksanaan UKBI tersebut didampingi dan diawasi pihak sekolah bersama Tim Kerja Pembinaan Balai Bahasa Provinsi Jateng.
Salah satu siswa kelas XII, Bernadetta Casilia Tirsya Anggraini, menyebut proses ujiannya berjalan lancar. Namun, ia merasa ada beberapa bagian yang cukup sulit.
“Prosesnya berjalan dengan lancar dan jujur soalnya cukup sulit bagi saya,” kata Tirsya saat dimintai keterangan usai tes, Selasa (11/8/2026). Meski menemukan soal yang sulit, Tirsya mengaku puas dengan hasil yang diperolehnya.
Bagi Tirsya, UKBI bukan cuma soal mendapatkan nilai. Ia berharap tes tersebut bisa membantunya mengetahui kemampuan berbahasa Indonesia yang dimiliki. “Semoga adanya UKBI ini, saya bisa mengukur sejauh mana saya berbahasa Indonesia dan semoga bisa bermanfaat untuk ke depannya,” katanya.
Kemampuan Bahasa
Tim Kerja Pembinaan Balai Bahasa Provinsi Jateng, Afritta Dwimartyawati mengatakan, pelaksanaan UKBI di SMAN 6 Semarang menjadi bagian dari upaya mengenalkan UKBI kepada pelajar.
Menurutnya, UKBI penting karena selain mengukur kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa Indonesia, sertifikat UKBI bisa untuk berbagai kebutuhan pendidikan.
“UKBI ini tidak hanya untuk mengetahui kemahiran berbahasa Indonesia siswa atau pelajar saja tetapi bisa digunakan untuk pemanfaatan praktis,” kata Afritta.
Salah satunya untuk mendukung pengajuan Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Sertifikat UKBI juga dapat digunakan sebagai sertifikat pendamping kelulusan di sejumlah perguruan tinggi di Jateng.
Baca juga: Bahasa ala Santri, Ini Deretan Istilah Khas di Pesantren
Untuk pelajar, UKBI juga tidak berbayar. Tes dilakukan secara daring sehingga bisa dimanfaatkan oleh pelajar di berbagai daerah. Afritta menyebut UKBI juga dapat menjadi salah satu cara pelajar meningkatkan kemampuan bahasa Indonesia sekaligus pemanasan sebelum mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Menariknya, peserta bisa langsung mengetahui skor setelah menyelesaikan seluruh bagian ujian. Penilaian dilakukan oleh sistem, bukan secara manual oleh pengawas.
“Ketika kita sudah selesai mengerjakan tes atau soal itu sudah selesai sampai seksi tiga, otomatis skor akan langsung terlihat oleh peserta uji masing-masing,” jelasnya. Untuk pelajar SMA, standar minimal kemahiran berada pada predikat Madya, dengan skor 482 ke atas.
Dengan begitu, UKBI bagi pelajar bukan sekadar ujian tambahan yang selesai setelah layar ditutup. Tes ini bisa menjadi cermin untuk melihat kemampuan berbahasa sekaligus bekal menghadapi kebutuhan akademik dan pendidikan di jenjang berikutnya. (bae)

