BACAAJA, SEMARANG– Pencak silat bukan cuma perkara siapa yang paling kuat di atas matras. Di balik jurus dan pertandingan, ada satu hal yang dianggap jauh lebih penting: bagaimana olahraga bela diri bisa membentuk anak muda punya mental, disiplin, sekaligus kemampuan mengendalikan diri.
Pesan itu mengemuka dalam Pembukaan Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang. Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menerima penganugerahan gelar Anggota Kehormatan Tapak Suci Putera Muhammadiyah dari Ketua Umum PP Tapak Suci, Muhammad Afnan Hadikusumo.
Penghargaan serupa juga diberikan kepada Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Sementara sejumlah tokoh nasional dan daerah mendapat gelar Pendekar Kehormatan, di antaranya Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin, Anggota DPR RI Muhammad Syauqi, Juliyatmono dan Aziz Subekti, Stafsus Menteri Kelautan dan Perikanan Dedi Irawan, serta sejumlah pimpinan perguruan tinggi.
Bagi Agustina, gelar kehormatan tersebut bukan sekadar seremoni. Ia menyebut penghargaan itu sebagai amanah sekaligus pengingat bahwa pemerintah perlu terus membuka ruang kolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan untuk membentuk generasi muda yang lebih berkarakter.
“Penghargaan ini sebagai pengingat bahwa pemerintah perlu terus hadir dan berkolaborasi bersama organisasi kemasyarakatan dalam menyiapkan generasi muda yang berkarakter,” katanya.
Baca juga: Sebelas Ribu Pendekar Kumpul di Semarang
Agustina menilai pencak silat punya keunggulan karena tidak hanya mengasah kemampuan fisik. Olahraga tersebut juga mengajarkan mental, kedisiplinan dan pengendalian diri. Menurutnya, keberhasilan pembinaan pencak silat jangan hanya dilihat dari berapa banyak medali yang berhasil dibawa pulang atlet.
“Pencak silat mengajarkan pentingnya mengendalikan diri sendiri. Pengembangan pencak silat tidak semestinya hanya diukur dari medali, melainkan dari pembentukan manusia yang berkarakter,” tegasnya.
Muktamar XVI Tapak Suci sendiri menjadi forum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menyusun arah pengembangan ke depan. Pembukaan muktamar dikemas dengan perpaduan nilai keagamaan, kebangsaan, olahraga dan budaya. Selain pembacaan ikrar serta laporan organisasi, peserta juga disuguhi atraksi Pencak Budaya Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
Penancapan Senjata
Muktamar secara resmi dibuka Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, melalui penancapan senjata tradisional Segu. Dalam sambutannya, Haedar menekankan pentingnya keseimbangan antara kemampuan fisik dan pendidikan akhlak dalam olahraga bela diri.
“Fisik yang prima harus berjalan berdampingan dengan kekuatan spiritual. Perpaduan sempurna ini melahirkan generasi berjiwa kesatria yang berani membela kebenaran dan melindungi masyarakat,” ujarnya.
Haedar juga mengapresiasi sinergi antara Tapak Suci dan pemerintah daerah. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun karakter generasi muda sekaligus karakter bangsa.
Agustina berharap Muktamar XVI tidak berhenti pada agenda organisasi, tetapi menghasilkan langkah nyata untuk memperkuat pembinaan atlet, regenerasi pendekar dan kualitas kompetisi pencak silat.
Ia menilai pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memastikan anak muda memiliki ruang untuk melakukan aktivitas yang positif. “Tugas pemerintah bukan hanya membangun fasilitas. Pemerintah juga harus memastikan anak-anak muda punya ruang untuk berlatih, berkompetisi, berkarya, dan menemukan lingkungan yang membentuk mereka menjadi lebih baik,” jelasnya.
Baca juga: Sapu Bersih Emas, Silat Jateng Kampiun PON Bela Diri 2025
Kehadiran peserta Muktamar dari berbagai daerah juga dinilai memberikan efek lain bagi Kota Semarang. Selain meramaikan kegiatan, kedatangan peserta turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar lokasi.
Agustina berharap Semarang ke depan tidak hanya menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan berskala nasional, tetapi juga berkembang sebagai ruang bertemunya gagasan, prestasi, budaya dan masyarakat.
“Kami ingin Kota Semarang bukan hanya dikenal sebagai tempat berlangsungnya sebuah acara, tetapi sebagai kota yang mampu menjadi ruang bertemunya gagasan, prestasi, budaya, dan masyarakat,” pungkasnya.
Pada akhirnya, anak muda memang perlu diajari cara menang. Tapi yang lebih penting, mereka juga perlu diajari cara mengendalikan diri ketika menang dan tetap berdiri tegak ketika kalah. Sebab jagoan bukan cuma yang bisa menjatuhkan lawan, tapi yang tahu kapan harus menahan diri. (tebe)

