BACAAJA, SEMARANG – Hari Kiamat bukan cuma tentang berakhirnya kehidupan dunia. Dalam keyakinan Islam, manusia juga akan menghadapi tahap pertanggungjawaban atas apa saja yang dilakukan selama hidup, termasuk bagaimana menggunakan umur, ilmu, harta, kesehatan, dan berbagai nikmat dari Allah SWT.
Setiap amal yang dikerjakan manusia tidak begitu saja berlalu tanpa catatan. Ada proses hisab atau perhitungan amal yang menjadi bagian dari rangkaian kehidupan akhirat sebelum seseorang mendapatkan balasan sesuai ketetapan Allah SWT.
Pembahasan tentang hisab juga berbeda dengan perkara azab maupun nikmat kubur. Alam kubur menjadi fase setelah kematian, sedangkan hisab berlangsung di Mauqif pada Hari Kiamat, ketika manusia dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan amalnya.
Semua Amal Akan Dipertanggungjawabkan
Pada dasarnya, manusia akan menghadapi hisab di Hari Kiamat. Namun, ada orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah SWT sehingga masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.
Salah satu dasar mengenai pertanggungjawaban atas nikmat terdapat dalam QS At-Takatsur ayat 8:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Thumma latus’alunna yauma-idzin ‘anin-na‘iim.
Artinya: “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS At-Takatsur: 8)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa berbagai kenikmatan yang diterima manusia juga akan dipertanyakan. Para ulama menjelaskan bahwa hal itu mencakup berbagai karunia seperti kesehatan, rezeki, keamanan, waktu, dan nikmat lainnya.
Pertanyaannya bukan sekadar apakah seseorang pernah mendapatkan nikmat, tetapi bagaimana nikmat tersebut diperoleh dan digunakan selama hidup di dunia.
Umur, Ilmu, Harta hingga Tubuh
Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai beberapa hal penting dalam kehidupannya.
Dalam hadis dari Abu Barzah, manusia akan ditanya mengenai umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan digunakan untuk apa, serta tubuhnya untuk apa dimanfaatkan.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa hisab tidak hanya berkaitan dengan dosa-dosa yang terlihat besar. Waktu, pengetahuan, harta, kesehatan, dan kesempatan hidup juga merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, seseorang tidak cukup hanya memperhatikan ibadah secara ritual, tetapi juga perlu melihat bagaimana seluruh kesempatan yang diberikan Allah SWT dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Hisab Berlangsung di Mauqif
Hisab terjadi setelah manusia dibangkitkan dan dikumpulkan di Mauqif pada Hari Kiamat. Jadi, hisab tidak berlangsung di alam kubur.
Alam kubur memiliki pembahasan tersendiri berupa nikmat atau azab kubur. Kondisi tersebut menjadi bagian dari fase kehidupan setelah kematian sebelum manusia dibangkitkan menuju kehidupan akhirat.
Sementara itu, pada Hari Kiamat manusia akan menghadapi proses pertanggungjawaban atas amal yang telah dilakukan selama berada di dunia.
Ada Hisab yang Ringan
Para ulama menjelaskan adanya Hisab Ardh, yaitu diperlihatkannya amal seorang mukmin. Dalam proses ini, dosa-dosanya diperlihatkan, kemudian Allah SWT menutupi dan mengampuninya.
Orang yang mendapatkan hisab semacam ini tidak menjalani pemeriksaan secara mendetail sebagaimana orang yang mengalami hisab berat. Catatan amalnya diberikan dengan tangan kanan sebagai tanda keselamatan.
Hal tersebut menunjukkan luasnya rahmat Allah SWT kepada hamba yang beriman.
Hisab Munaqasyah Sangat Rinci
Selain Hisab Ardh, terdapat Hisab Munaqasyah, yakni pemeriksaan amal secara rinci. Hisab ini digambarkan sebagai proses yang berat bagi orang-orang yang mendapatkan pemeriksaan tersebut.
Setiap amal diperhitungkan sesuai dengan apa yang telah dilakukan. Tidak ada bagian kehidupan yang benar-benar lepas dari pertanggungjawaban.
Dalam pembahasan para ulama, orang beriman yang bertauhid pada akhirnya dapat memperoleh keselamatan meskipun sebelumnya mendapatkan hukuman atas dosa yang dilakukan. Adapun urusan akhir setiap manusia tetap berada di bawah keputusan dan keadilan Allah SWT.
Ada Kesaksian dari Anggota Tubuh
Proses pertanggungjawaban di akhirat juga digambarkan dengan kesaksian anggota tubuh manusia. Ketika seseorang mencoba mengingkari perbuatannya, anggota tubuhnya justru dapat menjadi saksi atas apa yang pernah dilakukan.
Al-Qur’an menggambarkan bahwa pada kondisi tertentu mulut manusia akan dikunci, sedangkan tangan dan kaki memberikan kesaksian atas perbuatan yang dilakukan ketika hidup di dunia.
Dengan begitu, tidak ada ruang bagi manusia untuk sekadar mengandalkan alasan atau menyangkal amal yang pernah dikerjakannya.
Nikmat Dunia Juga Ikut Ditanya
Pertanyaan pada Hari Kiamat tidak hanya berkaitan dengan dosa. Nikmat yang diterima manusia juga akan dimintai pertanggungjawaban.
Kesehatan, umur panjang, harta, ilmu, keamanan hingga berbagai kesempatan hidup merupakan karunia yang semestinya digunakan dengan baik. Ketika nikmat tersebut disia-siakan atau digunakan untuk hal yang salah, persoalannya dapat menjadi bagian dari pertanggungjawaban di akhirat.
Karena itu, pembahasan tentang hisab seharusnya tidak berhenti pada rasa takut. Ada pesan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu bagaimana manusia mulai mengevaluasi cara menggunakan waktu, harta, ilmu, kesehatan, dan nikmat yang sudah dimiliki.
Pada akhirnya, Hari Kiamat menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bukan tempat untuk hidup tanpa arah. Setiap orang akan menghadapi pertanggungjawaban atas apa yang telah dikerjakan, sementara balasan akhirnya berada dalam ketetapan dan keadilan Allah SWT. (*)

