BACAAJA, SEMARANG – Rasa percaya diri anak ternyata bisa tumbuh dari hal-hal yang kelihatannya sepele. Bukan selalu soal memenangkan lomba atau mendapat nilai tinggi, tapi juga tentang bagaimana anak merasa aman saat bertanya, gagal, mengungkapkan perasaan, hingga menghadapi masalah sendiri.
Orangtua punya peran besar dalam proses tersebut. Salah satu cara yang cukup gampang dicoba adalah membiasakan anak memakai kalimat tertentu dalam kesehariannya, terutama saat ia sedang menghadapi situasi yang bikin bingung atau tidak nyaman.
Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus bisa membentuk cara anak memandang dirinya sendiri. Perlahan, kalimat yang awalnya sering diarahkan orangtua bisa berubah menjadi suara positif dalam diri anak.
Berikut lima kalimat yang bisa dikenalkan kepada anak sejak dini:
1. “Aku belum paham” atau “Aku butuh bantuan”
Mengaku belum mengerti sesuatu bukan berarti anak lemah. Justru, keberanian untuk bertanya dan meminta bantuan menunjukkan bahwa anak punya kesadaran diri dan merasa cukup aman untuk belajar.
Psikiater anak dan remaja dr. Sid Khurana mengatakan, kemampuan meminta bantuan merupakan bagian penting dalam membangun rasa percaya diri. Anak perlu tahu bahwa tidak masalah jika dirinya belum memahami sebuah instruksi atau pelajaran.
Orangtua bisa membiasakan kalimat sederhana seperti, “Bu, aku belum paham,” atau “Ayah, bisa jelaskan lagi?” Respons yang sabar dari orangtua akan membuat anak lebih nyaman untuk bertanya tanpa takut dianggap bodoh.
2. “Aku bisa cari jalan keluarnya”
Saat anak menghadapi masalah, orangtua kadang refleks ingin langsung turun tangan. Niatnya tentu baik, tetapi terlalu sering menyelesaikan masalah anak justru bisa membuatnya kurang terbiasa menghadapi tantangan.
Jennifer Walker, pendiri platform parenting Moms on Call, menyarankan orangtua memberi ruang agar anak belajar mencari solusi. Kalimat seperti “Kamu pasti bisa” dapat menjadi dorongan sederhana agar anak berani mencoba.
Jika terus dibiasakan, dukungan tersebut bisa berubah menjadi suara positif di kepala anak. Ia pun perlahan belajar mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa masalah tidak selalu harus ditakuti.
3. “Aku sedang merasa…”
Anak juga perlu tahu bahwa semua emosi boleh dirasakan. Sedih, marah, kecewa, takut, atau kesal bukan sesuatu yang harus selalu disembunyikan.
Direktur Mental Health and Wellness Mingo Health Solutions, Lakiesha K. Oliver, menyebut kemampuan mengekspresikan perasaan sebagai salah satu fondasi penting kesehatan mental dan kesejahteraan.
Orangtua bisa membantu dengan mengajak anak memberi nama pada emosinya. Misalnya, “Aku lagi kecewa,” “Aku sedang takut,” atau “Aku kesal karena mainanku rusak.”
Dengan begitu, anak belajar mengenali apa yang terjadi dalam dirinya sekaligus mencari cara yang lebih sehat untuk mengelola perasaan tersebut.
4. “Bu, Yah, aku boleh lihat ini?”
Kalimat sederhana ini makin penting karena anak sekarang sangat dekat dengan dunia digital. Ada banyak hal di internet yang belum tentu bisa mereka pahami atau aman untuk dihadapi sendirian.
Direktur Eksekutif Health-e-Habits, Jim Festante, mengatakan anak perlu merasa nyaman meminta bantuan ketika menemukan sesuatu yang aneh atau mencurigakan di internet.
Misalnya saat mendapat pesan mencurigakan, diajak berkomunikasi orang asing, menemukan tautan aneh, atau menerima permintaan mengikuti akun yang tidak dikenal. Anak jangan sampai memilih diam karena takut dimarahi atau gadget-nya disita.
Karena itu, orangtua perlu membangun suasana yang membuat anak berani melapor. Kalimat seperti, “Ayah, Ibu, aku lihat sesuatu yang aneh di internet,” justru perlu dianggap sebagai langkah yang positif.
5. “Aku berarti”
Anak perlu memahami bahwa nilai dirinya tidak cuma ditentukan dari prestasi. Ia tetap berharga meski sedang gagal, mendapat nilai kurang bagus, atau belum mampu melakukan sesuatu.
Orangtua bisa mengajak anak mengingat momen ketika dirinya membantu orang lain atau melakukan sesuatu yang bermanfaat. Dari situ, anak belajar bahwa keberadaannya punya arti.
Rasa percaya diri memang tidak muncul dalam semalam. Namun, lewat kalimat-kalimat sederhana yang terus diulang dan dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani, terbuka, dan yakin dengan dirinya sendiri. (*)

