Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Anak Ketahuan Bohong? Jangan Langsung Dimarahi
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tips

Anak Ketahuan Bohong? Jangan Langsung Dimarahi

Nugroho P.
Last updated: Agustus 17, 2026 7:22 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
ilustrasi marah pada anak.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Saat anak ketahuan berbohong, reaksi spontan orangtua biasanya ingin langsung menegur. Padahal, cara menghadapi momen tersebut bisa menentukan satu hal penting: anak bakal makin terbuka atau justru makin pintar menyembunyikan kesalahannya.

Contents
Coba kalimat iniJangan pakai pertanyaan jebakanKenapa anak memilih bohong?Sesuaikan dengan usia anakJangan cap anak sebagai “pembohong”

Kebohongan anak tidak selalu berarti mereka sengaja ingin memanipulasi orangtua. Ada yang berbohong karena takut dimarahi, malu, takut mengecewakan, atau sekadar ingin menghindari konsekuensi dari kesalahan yang dibuat.

Karena itu, ketika orangtua sudah tahu faktanya, pendekatan yang lebih tenang justru bisa menjadi jalan masuk untuk membangun kejujuran. Psikolog menyarankan orangtua menggunakan kalimat yang tidak membuat anak merasa sedang diinterogasi.

Coba kalimat ini

Psikiater klinis bersertifikat dr. Tamir Aldad menyarankan orangtua mengatakan, “Saya sudah tahu apa yang terjadi. Saya hanya ingin mendengarnya dari kamu.”

Kalimat tersebut membuat anak tidak merasa sedang diuji atau dijebak. Orangtua sudah menunjukkan bahwa mereka mengetahui faktanya, tetapi tetap memberikan kesempatan kepada anak untuk bercerita dengan versinya sendiri.

Menurut Aldad, pendekatan seperti ini mengubah suasana percakapan. Anak tidak lagi merasa harus memilih antara terus menyangkal atau langsung mengaku, tetapi diberi ruang untuk mengambil keputusan untuk berkata jujur.

Jangan pakai pertanyaan jebakan

Ketika sudah tahu anak melakukan sesuatu, pertanyaan seperti “Kamu yang melakukan ini?” memang terdengar sederhana. Namun, pertanyaan tersebut justru bisa membuat anak merasa sedang dites.

Psikolog klinis bersertifikat dr. Jenny Yip mengatakan anak bisa dengan cepat menangkap bahwa pertanyaan tersebut bukan benar-benar untuk mencari tahu, melainkan untuk mendapatkan pengakuan.

Alih-alih bertanya sesuatu yang jawabannya sudah diketahui, orangtua bisa menyebutkan apa yang mereka lihat. Misalnya, “Lampunya rusak. Coba ceritakan apa yang terjadi.”

Cara ini membuat anak punya ruang untuk menjelaskan tanpa merasa didesak untuk menyangkal atau mencari alasan.

Kenapa anak memilih bohong?

Ada banyak alasan di balik kebohongan anak. Salah satunya tentu rasa takut mendapat hukuman.

Anak juga bisa berbohong karena khawatir membuat orangtuanya kecewa. Dalam kondisi tertentu, mereka bahkan memilih menyembunyikan fakta demi melindungi teman atau orang lain.

Rasa malu juga punya pengaruh besar. Anak yang menganggap kesalahan sebagai tanda bahwa dirinya buruk cenderung menutupi kesalahan tersebut.

Menurut Yip, anak yang merasa malu biasanya akan berusaha menyembunyikan kesalahannya. Sebaliknya, anak yang merasa diterima lebih mungkin berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Kemampuan anak mengendalikan impuls, memikirkan akibat, dan membuat keputusan jangka panjang juga masih berkembang. Jadi, dalam beberapa situasi, kebohongan bisa muncul spontan sebelum anak benar-benar memikirkan dampaknya.

Sesuaikan dengan usia anak

Cara bicara juga sebaiknya disesuaikan dengan usia. Untuk anak usia 2-4 tahun yang menyangkal telah menumpahkan minuman, misalnya, orangtua bisa mengatakan, “Saya lihat jusnya tumpah. Tidak apa-apa, semua orang bisa salah. Yuk, kita bersihkan sama-sama.”

Pada anak usia sekolah yang mengaku sudah mengerjakan PR padahal belum, orangtua bisa merespons, “Kita cek bersama, ya. Saya tidak marah karena PR-mu belum selesai. Yang penting kita belajar jujur.”

Sementara untuk remaja yang berbohong soal keberadaannya, pendekatannya bisa lebih tegas tetapi tetap tenang. Misalnya, “Saya sudah tahu kamu tidak berada di rumah temanmu. Saya lebih ingin kamu cerita apa adanya, meskipun itu tidak nyaman.”

Jangan cap anak sebagai “pembohong”

Satu hal yang tak kalah penting, orangtua perlu membedakan perilaku dengan identitas anak.

Mengatakan “Kamu berbohong soal ini” berbeda dengan mengatakan “Kamu memang pembohong.” Kalimat kedua bisa membuat anak merasa bahwa kebohongan sudah menjadi bagian dari dirinya.

Konsekuensi tetap boleh diberikan jika memang diperlukan. Namun, konsekuensinya sebaiknya berkaitan langsung dengan kesalahan yang dilakukan.

Di sisi lain, ketika anak akhirnya berani mengatakan yang sebenarnya, keberanian itu layak diapresiasi. Dengan begitu, anak belajar bahwa jujur memang bisa terasa tidak nyaman, tetapi mengatakan kebenaran tetap lebih aman daripada terus menutupi kesalahan. (*)

You Might Also Like

Pagi atau Sore? Rahasia Olahraga Sehat Ternyata Ikuti Jam Tubuh Alami

Nggak Cuma Nikmat, Begini Cara Nyeduh Kopi Biar Tetap Sehat

Anti Loyo Seharian, Rahasia Puasa Tetap On Fire

Perempuan Lebih Melihat Bukti daripada Rayuan

Jangan Disepelekan, Ini 6 Tanda Gula Darah Tinggi

TAGGED:anak bohongmarahmarah-marahparentingpembohong
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article 5 Kalimat Simpel Bikin Anak Makin Pede
Next Article Kenapa Bayi Tersenyum Saat Tidur? Ini Kata Dokter

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

UKIR SEJARAH - Mahasiswi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Nurisa Dian Ashrifah, mengukir tinta emas dalam sejarah olahraga panahan Indonesia setelah meraih emas nomor compound individu putri pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Mahasiswi Udinus Semarang Bikin Sejarah Panahan Indonesia, Raih Emas di Asian Games 2026

Lapas Purwodadi Pastikan Data Pemilih Warga Binaan Tetap Terdata

Kepulan asap membumbung tinggi di area TPA Jatibarang Semarang, Rabu (30/9/2026). (bae)

Hati-Hati! Asap TPA Jatibarang Mengandung Partikel Berbahaya

Sabut Kelapa Buatan Warga Binaan Lapas Semarang Tembus Yunani

Giant Sea Wall Diharap Jadi Solusi Banjir dan Rob

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tips

Batik Pintar Buat Badan Berisi, Bikin Tampilan Makin Ramping

Januari 12, 2026
Tips

Meski Saat Haid, Pahala Ibadah Sholat Perempuan Tetap Bisa Mengalir

Agustus 21, 2026
Tips

Ayam Krispi ala McD Ternyata Lewat Banyak Tahap, Ikuti Yuk!

Agustus 14, 2026
Tips

Jangan Andalkan Susu, Anak Tetap Butuh Makan Lengkap

Maret 27, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Anak Ketahuan Bohong? Jangan Langsung Dimarahi
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?